KOMPAS.com - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) memperkuat kurikulum pembekalan bagi calon pekerja migran Indonesia (CPMI) melalui materi wawasan kebangsaan.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara KP2MI dan Lembaga Ketahanan Nasional ( Lemhannas) RI di Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).
Penandatanganan dilakukan Menteri P2MI Mukhtarudin dan Gubernur Lemhannas RI TB Ace Hasan Syadzily.
Acara itu turut disaksikan Wakil Menteri (Wamen) P2MI Christina Aryani, Sekretaris Jenderal (Sekjen) KP2MI Dwiyono, Wakil Gubernur (Wagub) Lemhannas Erwin S Aldedharma, serta jajaran pimpinan tinggi kedua lembaga.
Mukhtarudin mengatakan, kerja sama tersebut bukan sekadar kolaborasi administratif, melainkan bagian dari upaya memperkuat ketahanan ideologi dan mental pekerja migran Indonesia ( PMI).
Menurutnya, calon pekerja migran tidak cukup hanya dibekali keterampilan teknis (hard skills), tetapi juga pemahaman kebangsaan dan kecintaan terhadap Tanah Air.
Baca juga: KP2MI Gandeng Lemhannas Perkuat Nasionalisme Pekerja Migran Indonesia
Mukhtarudin menjelaskan, penguatan wawasan kebangsaan juga berkaitan dengan peran pekerja migran sebagai bagian dari diplomasi Indonesia di luar negeri.
Menurut dia, melalui pekerja migran yang memiliki karakter, disiplin, dan integritas, Indonesia dapat menunjukkan nilai-nilai luhur bangsa kepada masyarakat internasional.
“Kita ingin pekerja migran kita menjadi duta bangsa yang sesungguhnya. Saat mereka berada di luar negeri, mereka membawa bendera Merah Putih di dadanya. Wawasan kebangsaan inilah yang akan menjadi perisai agar mereka tidak mudah terpapar paham-paham radikal atau pengaruh asing yang merugikan,” ujar Mukhtarudin dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com.
Baca juga: Menteri P2MI Sebut Perpres 25/2026 Jadi Tonggak Perlindungan Buruh Migran Laut
Mukhtarudin menambahkan, pembekalan wawasan kebangsaan perlu diberikan secara masif kepada setiap CPMI sebelum berangkat ke negara penempatan.
Hal itu dinilai penting karena pekerja migran umumnya tinggal dan bekerja cukup lama di luar negeri. Dalam periode tersebut, mereka akan berinteraksi dengan lingkungan sosial, budaya, dan nilai-nilai baru.
“Mereka bekerja di luar negeri dua sampai tiga tahun, bahkan lebih. Setiap hari mereka bertemu dengan pemahaman dan nilai-nilai baru di sana. Ideologi macam-macam ada di sana. Jadi, sangat perlu penguatan wawasan kebangsaan dan cinta tanah air bagi calon pekerja migran kita sebelum ke luar negeri,” kata Mukhtarudin.
Baca juga: 456 Pekerja Migran Asal Jembrana Dilepas Bekerja ke Luar Negeri
Melalui kerja sama dengan Lemhannas RI, KP2MI ingin memastikan pekerja migran memiliki penyaring mental yang kuat saat berada di luar negeri.
Wawasan kebangsaan diharapkan menjadi jangkar agar pekerja migran tetap memegang teguh jati diri Indonesia, meski berada di tengah keberagaman budaya dan ideologi global.
Strategi penguatan tersebut dilakukan melalui pendekatan komprehensif. Salah satunya melalui literasi ideologi untuk membekali pekerja migran dengan pemahaman dasar tentang ketahanan nasional.
Dengan bekal tersebut, pekerja migran diharapkan tidak mudah terhasut paham radikal atau nilai-nilai yang bertentangan dengan Pancasila.
“Penguatan mentalitas menjadi prioritas guna membangun rasa bangga sebagai warga negara Indonesia, sehingga setiap pekerja migran mampu menjaga martabat bangsa dan menjadi duta negara di mata masyarakat internasional,” ujar Mukhtarudin.
Baca juga: Menteri Mukhtarudin: Negara Jamin Pelindungan Menyeluruh bagi Pekerja Migran di Korea Selatan
Sebagai langkah lanjutan, pemerintah juga menyiapkan dukungan jarak jauh berupa materi wawasan kebangsaan dalam format digital.
Materi tersebut dapat diakses secara berkala sebagai pengingat identitas nasional selama pekerja migran berada di negara penempatan.
Mukhtarudin mengatakan, langkah ini mempertegas visi KP2MI untuk mencetak pekerja migran yang tidak hanya ahli secara profesional, tetapi juga memiliki integritas kebangsaan yang kuat.
Kerja sama KP2MI dan Lemhannas RI akan diwujudkan melalui integrasi materi wawasan kebangsaan ke dalam orientasi pra-pemberangkatan (OPP).
Mengingat waktu orientasi yang terbatas, yakni satu hingga lima hari, KP2MI bersama Lemhannas RI akan mengemas materi tersebut secara ringkas dan mudah dipahami.
Baca juga: KP2MI Gagalkan 51 Calon Pekerja Migran Ilegal Berangkat ke Malaysia
Materi akan disiapkan dalam format digital dan buku saku agar dapat menjadi pegangan bagi calon pekerja migran.
“Para pekerja migran kita dapat memiliki pegangan nilai yang kuat. Ini adalah bagian dari upaya kita menyiapkan skilled workers yang berkarakter,” kata Mukhtarudin.
Gubernur Lemhannas RI Ace Hasan Syadzily menekankan pentingnya kolaborasi strategis antarlembaga dalam menghadapi tantangan geopolitik global yang semakin kompleks.
Ace mengatakan, kerja sama ini bukan sekadar seremoni. Menurut dia, kolaborasi KP2MI dan Lemhannas RI merupakan langkah konkret untuk merespons dinamika global yang terus berubah.
Ia menilai, lanskap politik internasional saat ini bergerak dari pola unipolar menuju multipolar. Dalam situasi tersebut, kepentingan nasional masing-masing negara menjadi semakin menonjol.
Baca juga: Pekerja Migran asal Jembrana Bali Disidang di AS, Tersandung Kasus Pemerkosaan
Ace juga menyoroti kebijakan luar negeri negara-negara besar serta konflik yang masih berlangsung, seperti perang Rusia-Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah. Berbagai dinamika tersebut dinilai berdampak pada rantai pasok dan ekonomi global.
“Penting sekali bagi kita untuk terus berkolaborasi memperkuat pertahanan masyarakat. Kerja sama dengan KP2MI ini adalah wujud komitmen bersama dalam membangun visi yang sama, guna mewujudkan tujuan nasional dan program prioritas Asta Cita Bapak Presiden,” ujar Ace.
Menurut Ace, salah satu poin penting dalam kerja sama ini adalah penguatan sumber daya manusia (SDM).
Ia mengatakan, PMI tidak hanya perlu unggul secara intelektual dan keterampilan, tetapi juga harus memiliki karakter kebangsaan yang kuat.
“Kami ingin mendorong agar mereka memiliki karakter negara yang terintegrasi dengan ideologi kebangsaan. Hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama, termasuk bagi para tenaga kerja yang berada di bawah naungan KP2MI,” kata Ace.
Baca juga: KP2MI Gagalkan 51 Calon Pekerja Migran Ilegal Berangkat ke Malaysia
Ace juga mengapresiasi langkah Menteri P2MI Mukhtarudin dalam mendorong perubahan citra pekerja migran Indonesia.
Menurut dia, selama ini pekerja migran kerap diasosiasikan dengan sektor domestik atau informal. Padahal, pekerja migran Indonesia juga dapat diarahkan untuk mengisi sektor formal dan profesional.
Melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan kementerian terkait, pemerintah berupaya menggeser paradigma tersebut.
“Apa yang dipersiapkan bukan lagi hanya tenaga asisten rumah tangga, tetapi pekerja pada sektor-sektor profesional atau pemimpin yang memiliki nilai tambah tinggi,” ujar Ace.
Baca juga: Pemerintah Siapkan 500.000 Pekerja Migran, Malaysia Masih Tujuan Terbesar
Ace mengatakan, penempatan tenaga kerja Indonesia di luar negeri memiliki kontribusi besar terhadap devisa negara.
Menurut dia, hal tersebut menunjukkan bahwa KP2MI memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menciptakan lapangan kerja berkualitas
Ace berharap, program pendidikan singkat dan penguatan nilai kebangsaan yang akan ditindaklanjuti oleh Deputi Bidang Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan Lemhannas RI Mayjen TNI Raden Djaenudin Selamet dapat segera diimplementasikan.
Sinergi KP2MI dan Lemhannas RI diharapkan mampu menciptakan ekosistem perlindungan pekerja migran yang lebih komprehensif, mulai dari aspek keterampilan, finansial, hingga ketahanan ideologi.
Baca juga: Polda Jatim Tangkap Penyalur Pekerja Migran Ilegal, Terungkap Usai Korban Alami Kekerasan