KOMPAS.com - Bagi sebagian orang, angkat besi mungkin sekadar olahraga yang mengandalkan kekuatan otot. Namun, bagi Eko Yuli Irawan, setiap beban yang diangkat adalah upaya "mengangkat" derajat keluarga dari garis kemiskinan.
Kisah lifter andalan Indonesia itu membuktikan bahwa medali bukan sekadar pencapaian, melainkan jalan untuk memperbaiki kehidupan.
"Sejak pertama melihat angkat besi, saat itulah saya menemukan cara untuk mengangkat derajat saya dan keluarga," kenang Eko, yang kisahnya diabadikan dalam film pendek oleh salah satu jenama olahraga, dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (27/4/2026).
Perjalanan itu bermula pada 2000, saat Eko melihat latihan angkat besi di kampung halamannya di Kota Metro, Lampung.
Lahir dari keluarga sederhana, Eko tumbuh dalam keterbatasan. Ayahnya, Saman, bekerja sebagai tukang becak, sementara ibunya, Wastiah, berjualan sayur. Keluarganya tinggal di rumah yang berdiri di atas tanah milik orang lain.
Baca juga: Rizki Juniansyah Ungkap Makna Emas Olimpiade 2024, Apresiasi Eko Yuli
Kondisi tersebut membuat Eko diliputi kekhawatiran, terutama saat ia harus merantau.
“Saat saya merantau, saya berpikir, kalau tanah itu diminta kembali, orangtua saya harus pindah ke mana?” ujarnya dalam siniar bersama Presiden NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari.
Kegelisahan itu menjadi pemicu tekadnya untuk berprestasi. Eko menekuni angkat besi bukan sekadar untuk meraih kemenangan, melainkan untuk mengangkat kehidupan keluarganya.
Hasilnya mulai terlihat. Hanya dalam waktu 10 bulan sejak mulai berlatih, Eko berhasil menjadi salah satu lifter terbaik di Indonesia. Prestasi di kejuaraan nasional membuka jalannya untuk menatap target yang lebih tinggi, yakni Olimpiade.
Baca juga: Prestasi Angkat Besi Indonesia di SEA Games 2025: 3 Emas, 4 Perak, 1 Perunggu
“Pelatih bilang, nanti kalau levelnya di Olimpiade, saya bisa bantu orangtua saya,” kenang pria berusia 36 tahun itu.
Perjalanan menuju panggung dunia tidak mudah. Eko membutuhkan waktu lima tahun untuk menembus Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) pada 2006.
Pada tahun yang sama, ia tampil di Kejuaraan Dunia Junior di Hangzhou dan langsung meraih medali perak. Setahun kemudian, Eko merebut medali emas di ajang serupa di Praha, Republik Ceko.
Dari pencapaian itu, ia memperoleh bonus sebesar Rp 25 juta dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) kala itu yang digunakan untuk membeli tanah bagi orangtuanya.
Baca juga: Profil Eko Yuli Irawan, Asa Emas di Kesempatan Perjuangan Olimpiade Kelima
“Bersamaan dengan saya dapat bonus itu, tidak sengaja orangtua di kampung bertemu orang yang mau jual tanah. Jadi langsung saya kirim uangnya buat beli tanah itu,” terangnya.
Keputusan tersebut menjadi titik balik. Kekhawatiran akan tempat tinggal orangtuanya pun hilang, sekaligus memacu semangatnya untuk terus berprestasi.
Pada SEA Games 2007 di Thailand, Eko kembali meraih medali emas. Bonus sebesar Rp 200 juta yang diperoleh digunakan untuk membangun rumah bagi keluarganya di atas tanah tersebut.
“Orangtua saya sampai menangis saat menjemput di bandara. Bonus itu benar-benar buat membangun rumah, dari yang sebelumnya tidak punya apa-apa,” tuturnya.
Baca juga: Momen Emas Olahraga Indonesia: Eko Yuli, Atlet Merah Putih Peraih Medali Olimpiade Terbanyak
Dengan dukungan keluarga dan latihan yang disiplin, Eko terus menunjukkan konsistensi di level tertinggi. Ia tercatat lima kali tampil di Olimpiade, mulai dari Beijing 2008 hingga Paris 2024.
Dari keikutsertaannya tersebut, Eko mengoleksi empat medali Olimpiade, yakni dua perak dan dua perunggu di berbagai kelas.
Prestasi tersebut juga diiringi bonus yang semakin besar. Namun, Eko tetap memanfaatkannya untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, termasuk membeli sawah agar orangtuanya dapat bertani di lahan sendiri.
Baca juga: Deretan Pretasi Lifter Nurul Akmal yang Kecewa Hanya Diangkat PPPK Paruh Waktu
“Bonus Olimpiade Beijing kalau tidak salah Rp 300 juta, saya belikan sawah untuk orangtua. Setelah itu, orangtua bertani di sawah sendiri. Sebelumnya kan bertani di tanah milik orang dengan sistem bagi hasil,” paparnya.
Di luar arena, Eko yang pernah merintis usaha sepatu latihan angkat besi itu juga berkontribusi dalam pembinaan atlet. Ia mendirikan sasana angkat besi di Bekasi sebagai tempat melatih generasi muda.
Menurut dia, fasilitas tersebut terbuka bagi siapa pun yang ingin menekuni angkat besi dan berprestasi hingga level internasional.
“Saya membangun sasana ini untuk bisa mendidik anak-anak latihan, bibit-bibit yang bisa menuju Olimpiade seperti saya. Saya dahulu juga berawal dari situ—bertemu tempat latihan, dilatih, dan difasilitasi dengan program yang terarah,” papar Eko.
Eko membuktikan bahwa dengan tekad kuat, disiplin, dan dukungan yang tepat, olahraga dapat menjadi jalan untuk mengubah kehidupan.
Baca juga: Sensasi Lifter Indonesia Rahmat di Kejuaraan Dunia: Raih Emas, Pecahkan Rekor