Manufaktur Kembali Lampaui Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Kompas.com - 05/11/2025, 20:47 WIB
Tsabita Naja,
DWN

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa manufaktur atau sektor industri pengolahan non migas (IPNM) kembali menunjukkan kinerja positif dan tetap menjadi motor utama penggerak perekonomian nasional.

Pada triwulan III-2025, manufaktur tumbuh 5,58 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04 persen yoy.

“Pertumbuhan sektor manufaktur pada triwulan III-2025 kembali lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. Pada kuartal II-2025 sebelumnya, pertumbuhan manufaktur 5,60 persen (yoy) dan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12 persen (yoy),” ujar Agus dalam keterangan resminya, Rabu (5/11/2025).

Ia menambahkan, capaian tersebut mencerminkan daya saing manufaktur nasional yang semakin kuat, baik di pasar domestik maupun ekspor.

Baca juga: 1 Tahun Prabowo-Gibran, Sektor Manufaktur Tumbuh 4,94 Persen di Tengah Ketidakpastian Global

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi manufaktur terhadap produk domestik bruto ( PDB) nasional mencapai 17,39 persen pada triwulan III-2025.

Capaian tersebut menjadikannya sektor dengan penyumbang terbesar terhadap PDB nasional, sekaligus meningkat 0,47 persen dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar 16,92 persen.

“Kontribusi manufaktur terhadap PDB nasional naik sebesar 0,47 persen, dari 16,92 persen menjadi 17,39 persen pada kuartal III-2025, sedangkan kontribusi manufaktur terhadap sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 1,13 persen (yoy),” jelasnya.

Ia menegaskan, manufaktur tetap menjadi penggerak utama perekonomian nasional karena memberikan nilai tambah besar, menyerap tenaga kerja, dan memperkuat struktur ekonomi nasional.

Baca juga: Rano Karno: Masa Depan Jakarta Jadi Pusat Perekonomian Nasional dan Global

Pertumbuhan subsektor industri

Pertumbuhan manufaktur pada triwulan III-2025 ditopang oleh meningkatnya permintaan dari pasar domestik maupun luar negeri. Sejumlah subsektor industri bahkan menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Industri makanan dan minuman tumbuh 6,49 persen, didorong oleh peningkatan produksi crude palm oil (CPO) dan produk turunannya.

Sementara itu, pertumbuhan industri logam dasar melonjak hingga 18,62 persen, sejalan dengan meningkatnya permintaan ekspor untuk produk logam dasar, khususnya besi dan baja.

Selanjutnya, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 11,65 persen, didorong oleh kenaikan produksi bahan dan barang kimia yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan ekspor.

Baca juga: Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Tumbuh 6,7 Persen, Jadi Penopang Ekonomi Nasional

Hal serupa juga terjadi di subsektor industri mesin dan perlengkapan serta subsektor industri pengolahan lainnya. Jasa reparasi serta pemasangan mesin dan peralatan mengalami pertumbuhan berturut-turut sebesar 11,74 persen dan 16,30 persen. 

“Pertumbuhan yang solid di berbagai subsektor ini menunjukkan bahwa strategi pemerintah dalam mendorong industrialisasi sumber daya alam (SDA), perlindungan pasar domestik dari gempuran banjir produk impor, penguatan teknologi produksi, pengembangan tenaga kerja industri, dan memperkuat ekosistem rantai pasok nasional telah berjalan efektif,” kata Agus.

"Ke depan, kami akan terus memperkuat kebijakan yang berbasis peningkatan produktivitas dan daya saing industri," lanjutnya.

Agus menekankan, Kemenperin terus berkomitmen menjaga momentum positif ini melalui berbagai program, termasuk Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN), pengoptimalan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), pengembangan industri halal, transformasi industri hijau, serta dukungan pada investasi berorientasi ekspor dan inovasi teknologi hijau.

“Berkat arahan dan keberpihakan Bapak Presiden Prabowo pada industri dalam negeri, kerja sama antarkementerian/lembaga dan pemerintah daerah (pemda), serta kolaborasi semua pihak dalam ekosistem industri, maka pencapaian industri ini dapat diraih,” ucapnya.

Baca juga: RI Peringkat 3 Ekosistem Industri Halal Dunia, Kalah dari Malaysia dan Arab Saudi

Agus menegaskan bahwa melalui sinergi antara kebijakan pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat, Kemenperin optimistis sektor industri pengolahan akan terus tumbuh lebih kuat pada tahun ini dan menjadi fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045.

Terkini Lainnya
Insentif Rumah Diperpanjang, Menperin: Sektor Properti Semakin Bergeliat

Insentif Rumah Diperpanjang, Menperin: Sektor Properti Semakin Bergeliat

Kemenperin
Pimpin Rapat Perdana 2026, Menperin Bahas Program

Pimpin Rapat Perdana 2026, Menperin Bahas Program "Restarting" Industri Kecil Terdampak Bencana

Kemenperin
Menperin: Jemaah Haji dan Umrah Raih Dua Pahala Sekaligus jika Beli Produk Dalam Negeri

Menperin: Jemaah Haji dan Umrah Raih Dua Pahala Sekaligus jika Beli Produk Dalam Negeri

Kemenperin
Menperin Agus Gumiwang: Utilisasi Industri Keramik Masih Rendah Karena Gempuran Produk Impor

Menperin Agus Gumiwang: Utilisasi Industri Keramik Masih Rendah Karena Gempuran Produk Impor

Kemenperin
Jelang Innoprom 2026, Menperin Pacu Penyelesaian MoU dengan Rusia

Jelang Innoprom 2026, Menperin Pacu Penyelesaian MoU dengan Rusia

Kemenperin
Kemenperin Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana Banjir dan Longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Kemenperin Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana Banjir dan Longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Kemenperin
Kemenperin: Butuh Insentif Melindungi Tenaga Kerja Dalam Ekosistem Industri Otomotif

Kemenperin: Butuh Insentif Melindungi Tenaga Kerja Dalam Ekosistem Industri Otomotif

Kemenperin
Indeks Kepercayaan Industri November 2025 Tetap Ekspansif, Capai 53,45

Indeks Kepercayaan Industri November 2025 Tetap Ekspansif, Capai 53,45

Kemenperin
Sejalan Asta Cita, Menperin Perkuat Pendidikan Vokasi Pacu Kualitas SDM Industri

Sejalan Asta Cita, Menperin Perkuat Pendidikan Vokasi Pacu Kualitas SDM Industri

Kemenperin
Menperin Raih Penghargaan Tokoh Akselerator Transformasi Industri Hijau

Menperin Raih Penghargaan Tokoh Akselerator Transformasi Industri Hijau

Kemenperin
Investasi Manufaktur Global di Luar Jawa Terus Meningkat, Dorong Pemerataan Ekonomi

Investasi Manufaktur Global di Luar Jawa Terus Meningkat, Dorong Pemerataan Ekonomi

Kemenperin
Manufaktur Kembali Lampaui Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Manufaktur Kembali Lampaui Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Kemenperin
Menperin Agus Gumiwang: PMI Standard & Poor Global Jadi Indikator Tambahan

Menperin Agus Gumiwang: PMI Standard & Poor Global Jadi Indikator Tambahan

Kemenperin
Menperin Tekankan Pentingnya Pengawasan dalam Pelaksanaan Industri Nasional

Menperin Tekankan Pentingnya Pengawasan dalam Pelaksanaan Industri Nasional

Kemenperin
Wujudkan Asta Cita, Kemenperin Luncurkan Strategi Baru Industrialisasi Nasional

Wujudkan Asta Cita, Kemenperin Luncurkan Strategi Baru Industrialisasi Nasional

Kemenperin
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com