Melalui Webinar, Puspeka Ajak Masyarakat Cari Cara Cegah Kekerasan Gender

Inadha Rahma Nidya
Kompas.com - Minggu, 22 November 2020
Narasumber webinar Anti Kekerasan Gender yang digelar Puspeka, Sabtu (21/11/2020).DOK. Puspeka Narasumber webinar Anti Kekerasan Gender yang digelar Puspeka, Sabtu (21/11/2020).

KOMPAS.com - Kekerasan seksual adalah tindakan fisik maupun nonfisik yang merendahkan, melecehkan, atau menyerang seksualitas tubuh dan fungsi reproduksi orang lain secara paksa.

Catatan tahunan Komisi Nasional (Komnas) Perempuan 2020 menyebutkan, jumlah aduan kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO) 2019 meningkat 300 persen dari tahun sebelumnya.

Sementara itu, survei Koalisi Ruang Publik Aman pada 2009, menempatkan sekolah dan kampus pada posisi ketiga ruang publik tempat terjadinya kekerasan seksual, setelah jalanan umum dan transportasi publik.

Lebih lanjut, riset Nama Baik Kampus pada 2019 mencatat, terdapat 174 kasus kekerasan seksual di kampus. Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan, terdapat 123 anak korban kekerasan di sekolah.

Baca juga: Hambatan Pencegahan Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan: Pelaku Lebih Dilindungi

Untuk mencari jalan keluar dari masalah tersebut, Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Hendarman mengatakan, pihaknya menggelar webinar Anti Kekerasan Gender yang mengundang beberapa pembicara ahli.

“Untuk mengatasi masalah kekerasan, kita tidak bisa hanya berdiam diri. Kegiatan ini merupakan salah satu mandat yang diberi kepada Puspeka,” kata Hendarman, saat membuka webinar, Sabtu (21/11/2020).

Komisioner Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor yang menjadi pembicara pada acara tersebut menjelaskan, bentuk kekerasan pada perempuan terbagi menjadi empat, yaitu kekerasan fisik, psikis, seksual, dan sosial.

Keempat bentuk kekerasan tersebut dapat terjadi karena adanya relasi kuasa yang menciptakan ketimpangan hubungan kekuasan antara perempuan dan laki-laki, serta ideologi patriarki yang membesar-besarkan perbedaan biologis.

Baca juga: Patriarki Sebabkan Wanita Sulit Dapatkan Pelayanan Kesehatan

Maria mengatakan, tak jarang perempuan korban kekerasan mendapat stigma negatif dan mengalami trauma berkepanjangan, bahkan hingga seumur hidup.

“Padahal mereka korban kekerasan seksual, bukan pelaku. Jika tidak dipulihkan secara optimal, bisa dipastikan korban perempuan tidak berperan aktif dalam pembangunan nasional. Maka dari itu, saya ingin mengajak para hadirin turut serta mengadvokasi,” kata Maria.

Tak hanya perempuan, Psikolog Anak dari Yayasan Pulih Gisella Tani Pratiwi menjelaskan, anak juga rentan menjadi korban kekerasan seksual.

Hal tersebut karena pola pikir dan kondisi perkembangan anak masih sangat sederhana, serta banyak anggapan bahwa anak adalah objek atau hak milik sehingga suara, kepentingan, kebutuhan, dan perkembangannya terabaikan.

Baca juga: Marak Kekerasan Anak, KPAI Minta Sekolah Buka Posko Pengaduan

Hal lain yang juga mempengaruhi adalah ketimpangan gender antara laki-laki dan perempuan, serta adanya sikap permisif dan kurangnya pemahaman terhadap konsep kekerasan pada anak.

Adapun jenis kekerasan pada anak terbagi menjadi empat yaitu fisik, psikis, seksual, dan penelantaran.

“Penelantaran adalah kondisi yang membuat kebutuhan anak seperti pendidikan, tidak terpenuhi,” kata Gisella.

Publik figur sekaligus ayah dari empat anak Indra Brasco pun membagikan beberapa tips yang dia lakukan guna menghindarkan anak dari kekerasan.

Baca juga: Cegah Kasus Kekerasan Anak, Keluarga dan Lingkungan Harus Lebih Berperan

Cara dimaksud antara lain menginformasikan bahwa anaknya merupakan hadiah dari Tuhan sehingga diri dan tubuhnya sangat berharga.

Lalu mengingatkan bagian-bagian tubuh yang harus dijaga dan tidak boleh disentuh oleh orang lain, serta sedini mungkin mengajarkan siapa saja yang boleh membuka baju saat anak akan mandi.

Bahkan ia membiasakan meminta izin untuk membuka baju kepada anaknya saat akan memandikan.

PenulisInadha Rahma Nidya
EditorMikhael Gewati
Terkini Lainnya
Melalui Webinar, Puspeka Ajak Masyarakat Cari Cara Cegah Kekerasan Gender
Melalui Webinar, Puspeka Ajak Masyarakat Cari Cara Cegah Kekerasan Gender
Kemdikbud
Cetak Generasi Berkarakter, Kemendikbud Ajak Remaja Hindari Narkoba
Cetak Generasi Berkarakter, Kemendikbud Ajak Remaja Hindari Narkoba
Kemdikbud
Sajikan Hiburan di Tengah Sekolah Daring, Puspeka Gelar Nobar Virtual
Sajikan Hiburan di Tengah Sekolah Daring, Puspeka Gelar Nobar Virtual
Kemdikbud
Mudahkan Akses Pendidikan Selama Pandemi, Kemendikbud Buat Beberapa Program dan Kebijakan
Mudahkan Akses Pendidikan Selama Pandemi, Kemendikbud Buat Beberapa Program dan Kebijakan
Kemdikbud
Banyak Miskonsepsi, Ini Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Banyak Miskonsepsi, Ini Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Kemdikbud
Kemendikbud Jawab Kekhawatiran Pembelajaran Tatap Muka
Kemendikbud Jawab Kekhawatiran Pembelajaran Tatap Muka
Kemdikbud
Ditjen Pendidikan Vokasi Siapkan
Ditjen Pendidikan Vokasi Siapkan "Paket Pernikahan" pada Program Link and Match
Kemdikbud
Masuki Tahun Ajaran Baru, Pemda Diminta Segera Buat Juknis PPDB
Masuki Tahun Ajaran Baru, Pemda Diminta Segera Buat Juknis PPDB
Kemdikbud
 Nadiem: Banyak Hikmah dari Krisis Covid-19 untuk Dunia Pendidikan
Nadiem: Banyak Hikmah dari Krisis Covid-19 untuk Dunia Pendidikan
Kemdikbud
Dana BOS dan BOP Bisa untuk Bayar Honor Guru Non-ASN, Begini Tanggapan Sekolah
Dana BOS dan BOP Bisa untuk Bayar Honor Guru Non-ASN, Begini Tanggapan Sekolah
Kemdikbud
Dukung Pembelajaran dari Rumah, Kemdikbud Sesuaikan Juknis BOS dan BOP PAUD
Dukung Pembelajaran dari Rumah, Kemdikbud Sesuaikan Juknis BOS dan BOP PAUD
Kemdikbud
Darurat Covid-19, Dana BOS dan BOP Bisa Dipakai untuk Pembayaran Honor Guru Bukan ASN
Darurat Covid-19, Dana BOS dan BOP Bisa Dipakai untuk Pembayaran Honor Guru Bukan ASN
Kemdikbud
Berkat Dana BOS, Guru di Pekanbaru ini Bisa Cicil Laptop untuk Tunjang KBM
Berkat Dana BOS, Guru di Pekanbaru ini Bisa Cicil Laptop untuk Tunjang KBM
Kemdikbud
Dana BOS Turun Lebih Cepat, SMAN 7 Pekanbaru Tak Lagi Pusing Tagihan Listrik
Dana BOS Turun Lebih Cepat, SMAN 7 Pekanbaru Tak Lagi Pusing Tagihan Listrik
Kemdikbud