Ditjen Pendidikan Vokasi Siapkan "Paket Pernikahan" pada Program Link and Match

Inadha Rahma Nidya
Kompas.com - Minggu, 21 Juni 2020
Ditjen Pendidikan Vokasi Siapkan DOK. Direktorat SMK KemendikbudAktivitas pembelajaran siswa SMK.

KOMPAS.com – Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wikan Sakarinto, mengibaratkan link and match antara pendidikan vokasi dengan industri dan dunia kerja, seperti perjodohan.

Pasalnya pada program tersebut, pihak industri dan pendidikan akan bersama-sama menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan kompeten.

Wikan mengatakan, Program Link and Match sudah ada sejak lama, hanya saja pelaksanaannya belum optimal. Untuk itu, pihaknya akan melanjutkan program tersebut.

“Jika diibaratkan seperti suatu hubungan, bahkan bertemu saja belum. Kali ini kami akan lakukan link and match sampai menikah dan punya anak,” kata Wikan kepada Kompas.com, saat wawancara melalui video conference Zoom, Kamis (18/6/2020).

Baca juga: Pengajar, Siswa, dan Mahasiswa Vokasi Dituntut Beradaptasi dengan Link and Match

Untuk diketahui, pendidikan vokasi meliputi Pendidikan Tinggi Vokasi, Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK), serta Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP). Selain itu, ada juga direktorat yang khusus menangani kemitraan serta penyelarasan dengan dunia usaha dan dunia industri.

Menurut Wikan, saat ini di Indonesia terdapat 43 Politeknik Negeri, 4 Akademi Komunitas, 14.000 SMK, dan sekitar 17.306 LKP.

Di sisi lain, politeknik dan akademi swasta mulai bermunculan sehingga program studi ( prodi) vokasi pun tersebar di berbagai universitas, institut, sekolah tinggi, dan akademi (Unista). Bahkan ada politeknik dan Unista yang sudah menyediakan magister terapan untuk jenjang pendidikan tinggi vokasi.

Dalam pelaksanaannya Wikan menekankan, link and match harus menjadi sebuah pernikahan erat dan mendalam, agar semua pihak mendapat manfaat yang signifikan dan berkelanjutan. Jadi tidak hanya sekadar Memorandum of Understanding (MoU) dan foto-foto.

Baca juga: Dirjen Vokasi: Link and Match Untungkan Industri

Hal itu sesuai dengan arah kebijakan presiden dalam percepatan pembangunan SDM 2020-2024, yaitu pendidikan kejuruan dihubungkan dengan industri-industri agar lulusannya sesuai dengan kebutuhan.

Skema paket pernikahan

Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) telah menyiapkan skema yang disebut "paket pernikahan". Ada sembilan skema yang dirancang dalam paket pernikahan massal ini.

Pertama, industri turut serta menyusun kurikulum pendidikan sehingga materi training dan sertifikasi turut diajarkan.Tak hanya turut serta menyusun kurikulum, pada skema ke-2, pihak industri juga akan rutin mengirim dosen tamu untuk mengajar.

Skema ke-3, program magang dibuat lebih terstruktur dan dikelola bersama dengan baik. Lanjut skema ke-4, pihak industri diharapkan berkomitmen menyerap lulusan vokasi. Untuk itu, program magang diharapkan menjadi salah satu caranya.

Baca juga: Ini Contoh Kerja Sama yang Bisa Dilakukan Pendidikan Vokasi dengan Industri

Program beasiswa dan ikatan dinas bagi mahasiswa menjadi skema ke-5 dalam pernikanan massal ini. Tidak hanya siswa, dalam skema ke-6, pihak industri juga akan men-training para pengajar.

Skema ke-7, pihak industri men-training lulusan, dan memberi sertifikasi kompetensi. Ke-8, pihak industri memberi bantuan peralatan kepada laboratorium kampus sehingga skill siswa makin terasah, dan skema ke-9 atau yang terakhir, dosen dan industri melakukan join research terkait kasus nyata di industri.

“Paket pernikahan nomor 1 sampai 6 adalah paket pernikahan minimum. Paket nomor 7 sangat diharapkan terwujud. Sedangkan paket nomor 8 dan 9 sangat baik bila terwujud,” kata Wikan.

Jika skema tersebut terwujud, harapannya SDM vokasi akan siap pakai dan industri tidak perlu menghabiskan biaya serta waktu untuk melakukan training kembali.

Baca juga: 100 Prodi Vokasi PTN dan PTS Didorong Menikah Massal dengan Industri Tahun Ini

SMK Bidang Konstruksi misalnya, bisa meminta proyek pembangunan gedung dari industri. Nanti, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengerjakan proyek tersebut. Jadi begitu lulus, mereka memiliki portofolio.

Wikan mengatakan, sejauh ini pihak industri mendukung Program Link and Match. Bahkan sudah ada beberapa kerja sama yang mencapai ‘paket pernikahan’ lengkap.

Contohnya kerja sama antara PT PLN dengan politeknik dan Unista yang ada di Indonesia seperti Politeknik Elektronik Negeri Surabaya (PENS), Sekolah Vokasi Universitas Gajah Mada (UGM), dan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (Undip).

Dari pernikahan tersebut berdirilah Prodi 'Sarjana Terapan (D4) Teknik Elektro', yang berfokus pada teknologi distribusi atau jaringan listrik.

Baca juga: Pilih Vokasi atau S1? Ini Saran dari Dirjen Vokasi Wikan Sakarinto

Sementara itu, paket pernikahan lengkap pada SMK contohnya antara SMK Perhotelan dengan Hotel Horison, SMK Tata Kecantikan dengan L’Oreal, SMK Ketenagalistrikan dengan PLN, SMK Teknologi Rekayasa dengan Komatsu, dan SMK dengan Astra Group.

“Intinya kami mendorong SMK-SMK, kampus-kampus vokasi, serta lembaga pelatihan keterampilan di Indonesia ‘menikah’ dengan industri atau dunia kerja,” kata Wikan.

ke depannya, keberlangsungan kerja sama akan dibagi menjadi beberapa level. Bagi prodi yang belum melakukan ‘pernikahan’, didorong untuk melakukan pernikahan paket minimum.

Bagi prodi yang baru melakukan pernikahan paket minimum, didorong menghasilkan paket pernikahan lengkap. Begitu pula dengan prodi yang sudah melakukan pernikahan tetapi belum mencapai paket lengkap.

Baca juga: Akademisi IPB: Agar Pendidikan Vokasi Tak Lagi jadi Pilihan Kedua

Sementara itu, untuk prodi yang sudah melakukan pernikahan paket lengkap, didorong meningkatkan kualitas kerja sama, dan menambah industri mitra.

Prodi dengan paket pernikahan lengkap juga diharapkan memperkuat teaching industry atau factory, meningkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi vokasi ternama di luar negeri, serta mendirikan Magister (S2) Terapan yang juga menikah dengan industri.

Terkait tren industri yang sedang berkembang, Wikan mengatakan, masih dipegang industri 4.0. Sebab, saat ini hampir semua bidang menggunakan kecerdasan buatan. Misalnya saja bank yang berkembang menjadi financial technology (fintech).

Aktivitas pembelajaran siswa SMK.
DOK. Direktorat SMK Kemendikbud Aktivitas pembelajaran siswa SMK.

Sementara itu, industri yang dirasa masih membutuhkan banyak SDM adalah pertanian dan perikanan.

Baca juga: SBMPN 2020 Telah Dibuka, Ini 6 Alasan Politeknik dan Vokasi Jadi Pilihan

“Pertanian, perikanan, dan turunannya masih perlu dipacu,” kata Wikan.

Untuk tahun ini, Ditjen Diksi menargetkan 100 ‘pernikahan’ antara prodi vokasi dengan industri. Selain itu, sebanyak 2.000 guru SMK dan ratusan dosen diharapkan bisa mendapat, meng-upgrade, dan melakukan disertifikasi kompetensi.

Menurut Wikan, kondisi pandemi Covid-19 tidak menghentikan pelaksanaan Program Link and Match. Justru pada kondisi ini, pihak sekolah dan insdustri harus memperkuat kerja sama.

“Kedua pihak harus bersama-sama beradaptasi dengan perubahan-perubahan mendadak yang terjadi akibat pandemi Covid-19,” kata Wikan.

Baca juga: Seleksi Masuk Politeknik Negeri Dibuka Hari Ini, Dirjen Vokasi: Pilihlah Sesuai Passion

Di sisi lain, Wikan mengakui pelaksanaan program tersebut membutuhkan waktu yang panjang. Untuk itu, Wikan ingin semua pihak termasuk SDM, mengubah mindset.

“Masuk vokasi harus karena passion, bukan karena terpaksa dan pilihan kedua atau ketiga,” kata Wikan.

Wikan menekankan, orang tua juga perlu diubah mindsetnya dan harus lebih memahami profesi-profesi yang ada. Sedangkan pihak sekolah dan industri harus lebih menajamkan insting komunikasi.

PenulisInadha Rahma Nidya
EditorMikhael Gewati