KOMPAS.com – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama Yayasan Batik Indonesia (YBI) terus menumbuhkembangkan industri batik nasional agar semakin relevan dengan zaman.
Tidak hanya sebagai warisan budaya, batik kini kian diterima generasi muda sebagai bagian dari gaya hidup modern yang penuh kreativitas.
“Batik adalah contoh nyata bagaimana warisan budaya dapat menjadi kekuatan ekonomi. Dengan memperkuat ekosistem batik nasional, kita tidak sekadar menjaga peninggalan leluhur, melainkan juga membangun fondasi ekonomi kreatif berbasis budaya yang mampu bersaing di tingkat global,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Jumat (3/10/2025).
Pernyataan tersebut disampaikan Agus dalam peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2025 di Museum Tekstil Jakarta, Kamis (2/10/2025).
Dia menambahkan, batik kini hadir bukan hanya di panggung budaya, tetapi juga di keseharian generasi muda.
“Batik digunakan anak muda tidak hanya untuk acara formal, tetapi juga sebagai fesyen sehari-hari. Ini membuka peluang strategis bagi industri batik untuk menghadirkan desain yang segar, memanfaatkan pemasaran digital, dan menjaga kualitas agar batik semakin dekat dengan gaya hidup modern,” ujarnya.
Baca juga: Menilik Peran Sawit dalam Gaya Hidup Modern Berkelanjutan
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa batik tidak kehilangan akarnya, justru semakin relevan dengan makna-makna budaya yang diwariskan turun-temurun.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2025 di Museum Tekstil Jakarta, Kamis (2/10/2025). Sejak UNESCO menetapkan batik sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2009, batik tidak hanya dipandang sebagai kain indah, melainkan sarat makna simbolik: harmoni, keberanian, kesabaran, kebahagiaan, hingga harapan hidup yang lebih baik.
Ekosistem batik nasional pun berkontribusi besar terhadap ekonomi. Data Kemenperin mencatat ada 5.946 industri batik di lebih dari 200 sentra produksi di 11 provinsi, dengan daya serap sekitar 200.000 tenaga kerja melalui 47 ribu unit usaha.
Nilai ekspor batik pada triwulan I-2025 mencapai 7,63 juta dollar Amerika Serikat (AS) atau naik 76,2 persen dibanding tahun sebelumnya. Pada triwulan II-2025, ekspor masih tumbuh dengan capaian 5,09 juta dollar AS, meningkat 27,2 persen dibanding periode sama 2024.
"Ini adalah kabar baik, tetapi sekaligus menjadi tantangan untuk terus meningkatkan kualitas, inovasi, dan daya saing,” papar Agus.
Meski cerah, industri batik menghadapi tantangan regenerasi. Data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) mencatat jumlah perajin turun dari 151.000 orang pada 2020 menjadi sekitar 101.000 orang pada 2024.
Baca juga: Inovasi dalam Industri Batik, CV. Astoetik Buat Kompor Batik Listrik
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2025 di Museum Tekstil Jakarta, Kamis (2/10/2025). Untuk menjawab tantangan itu, Kemenperin mendorong inovasi teknologi seperti kompor listrik batik, katalog digital pewarna alami, mesin CNC motif digital, hingga pengolahan limbah ramah lingkungan.
Program Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) juga meliputi pelatihan SDM, fasilitasi Indikasi Geografis, penumbuhan wirausaha batik, serta penerapan industri 4.0 untuk produksi batik.
Upaya penguatan industri batik ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya poin ke-5, yaitu mewujudkan kedaulatan ekonomi berbasis keunggulan sumber daya nasional dan poin ke-6, yaitu memperkuat budaya bangsa.
“Kami meyakini keberhasilan membangun industri batik yang tangguh hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi erat antara pemerintah pusat, daerah, asosiasi, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan media,” tegas Agus.
Perayaan HBN 2025 berlangsung 2 Oktober–30 November 2025 dengan tema Bangga Berbatik. Tahun ini, Batik Tulis Merawit Cirebon diangkat sebagai ikon HBN setelah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis pada 2024.
Baca juga: Gelombang PHK di Industri Tekstil, Pengusaha Didorong Cari Solusi Bersama
Rangkaian acara meliputi pameran Merawit Rasa di Museum Tekstil Jakarta, bimbingan teknis, penumbuhan wirausaha batik, pameran Gelar Batik Nusantara, serta web seminar (webinar) dan talkshow.
Kemenperin dan YBI juga menggandeng IKEA Indonesia untuk menampilkan IKM batik binaan Ditjen IKMA di IKEA Alam Sutera dan Mal Taman Anggrek pada 1–16 Oktober 2025.
“Dengan semangat HBN 2025, mari kita semakin bangga mengenakan batik, melestarikan warisan leluhur, sekaligus menjadikannya bagian dari gaya hidup modern anak bangsa. Bangga Berbatik, Bangga Menggunakan Buatan Indonesia,” pungkas Agus.