KOMPAS.com - Menteri Perindustrian (Menperin) RI Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan kuliah umum di Universitas Hiroshima, Jepang, dengan tema “Strategi Baru Industrialisasi Indonesia untuk Ketahanan Pangan dan Energi”.
Kegiatan yang berlangsung pada Senin (14/7/2025) itu digelar dalam rangka kunjungan kerja Menperin Agus ke Jepang seusai menghadiri World Expo Osaka 2025.
Dalam forum akademik yang dihadiri mahasiswa, dosen, peneliti, dan kalangan industri Jepang, Agus menjelaskan bahwa Indonesia tengah mengembangkan pendekatan baru dalam industrialisasi, berpijak pada dinamika global yang berubah cepat sekaligus menjawab tantangan dalam negeri yang semakin kompleks.
“Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Asta Cita, visi pembangunan nasional yang mencakup delapan misi besar. Enam di antaranya kini dioperasionalkan melalui kerangka strategis bernama Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN),” kata Agus melalui keterangan persnya, Selasa (15/7/2025).
Ia menegaskan, SBIN bukan sekadar kelanjutan pendekatan masa lalu, melainkan pembaruan gagasan terbaik ekonomi pembangunan yang disesuaikan dengan konteks Indonesia serta tertanam dalam realitas global yang multipolar, terdigitalisasi, dan menuju dekarbonisasi.
Untuk mewujudkan visi besar tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjalankan empat program utama yang saling terkait dan menguatkan dalam kerangka SBIN. Program pertama adalah hilirisasi sumber daya alam (SDA).
Baca juga: DPR Sebut KEK Industropolis Batang Contoh Keberhasilan Hilirisasi Industri
“Hilirisasi bukan lagi sekadar jargon politik, tetapi bentuk nyata pergeseran struktural dalam model ekonomi,” ungkap Agus.
Ia mencontohkan, hingga 2019 Indonesia masih mengekspor nikel, bauksit, dan minyak sawit dalam bentuk mentah yang hanya menciptakan nilai tambah rendah, lapangan kerja terbatas, serta keuntungan yang tidak stabil.
Sejak itu, pemerintah mewajibkan pengolahan sumber daya tersebut di dalam negeri melalui kebijakan hilirisasi.
“Transformasi ini terlihat jelas di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah. Dahulu relatif terisolasi, kini Morowali menjelma menjadi pusat industri global, menjadi rumah bagi klaster perusahaan multinasional di sektor pemurnian nikel dan komponen baterai,” ujar Agus.
Di kawasan itu, puluhan ribu tenaga kerja Indonesia kini terlibat dalam produksi baja nirkarat dan nikel sulfat berkualitas tinggi untuk baterai. Model serupa juga diterapkan pada komoditas lain seperti bauksit, tembaga, dan minyak sawit.
“Bahkan saat ini, Indonesia memasuki rantai nilai baru untuk komoditas strategis, seperti kobalt, litium, dan tanah jarang, unsur penting dalam mendukung transisi energi hijau global,” imbuh Agus.
Baca juga: Transisi Energi Eropa: Surya Meraja, Tendang Batu Bara ke Titik Terendahnya
Lebih lanjut, ia mengungkapkan program kedua adalah penguasaan teknologi industri.
Agus menjelaskan, melalui peta jalan Making Indonesia 4.0, pemerintah memacu transformasi industri dari sistem produksi tradisional menuju sistem yang lebih cerdas, terhubung, dan terintegrasi secara digital.
“Di sektor tekstil, misalnya, kini telah diterapkan penenunan berbasis sensor dan sistem pewarnaan tanpa limbah. Di sektor makanan dan minuman, teknologi blockchain digunakan untuk ketertelusuran produk dari hulu ke hilir,” ucapnya.
Sementara itu, lanjut Agus, di sektor komponen otomotif, integrasi teknologi mendorong perakitan robotik dan sistem logistik just-in-time.
Menurutnya, perubahan ini tidak hanya menyasar perusahaan besar. Ribuan industri kecil dan menengah (IKM) juga diperkenalkan teknologi serupa melalui pusat-pusat keunggulan dan pelatihan yang didanai pemerintah, termasuk kerja sama dengan lembaga pelatihan dan industri di Jepang.
Agus menjelaskan, program ketiga adalah industrialisasi hijau. Program ini sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yang kini menjadi tuntutan pasar, pemodal, dan regulator.
Baca juga: Hindari Macet, Pembangunan Tol Yogya-Solo di Ringroad Trihanggo Gunakan Metode Sosrobahu, Apa Itu?
“Era pembangunan yang mengorbankan lingkungan demi pertumbuhan ekonomi telah usai,” kata Agus.
Karena itu, lanjut dia, strategi industrialisasi Indonesia kini mengadopsi prinsip ecological modernization. Contohnya, di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah, pemerintah mewajibkan penggunaan kembali air limbah, efisiensi energi, dan penerapan simbiosis industri.
Di Jawa Barat, limbah pabrik minyak kelapa sawit diolah menjadi biogas untuk bahan bakar industri. Di Sumatera, pabrik semen memanfaatkan abu terbang (fly ash) dari pembangkit listrik sebagai bahan baku alternatif.
“Semua upaya ini menjadi bagian dari transisi menuju ekonomi sirkular. Indonesia tidak hanya ingin memenuhi standar environmental, social, and governance (ESG), tetapi juga menurunkan biaya produksi, meningkatkan daya saing industri, dan menarik investasi hijau,” kata Agus.
Program keempat adalah penguatan sumber daya manusia (SDM).
Menurut Agus, keberhasilan industrialisasi tidak terlepas dari keberadaan tenaga kerja terampil, insinyur, wirausahawan, dan inovator.
"Oleh karena itu, pemerintah memperkuat pendidikan vokasi melalui pembangunan politeknik, revitalisasi pusat kejuruan, serta pemanfaatan platform pembelajaran digital," imbuhnya.
Jepang, lanjut Agus, berperan penting dalam proses tersebut. Melalui kerja sama dengan institusi pendidikan dan industri Jepang, Indonesia kini memiliki kurikulum bersama di bidang robotika, permesinan presisi, otomatisasi pabrik, dan material berkelanjutan.
“Lulusan dari program ini tidak hanya memperoleh gelar akademik, tetapi juga keterampilan relevan secara global serta pengalaman langsung di dunia industri,” jelasnya.
Agus berharap kolaborasi Indonesia-Jepang di bidang pendidikan dan industri semakin kuat di masa depan.
Ia mengajak semua peserta bersama-sama membangun industri yang berkelanjutan, tangguh, dan inklusif, untuk menghadapi tantangan global dan mewujudkan ketahanan nasional di bidang pangan, energi, dan kesehatan.
Baca juga: BPJS Kesehatan Catat Jumlah Peserta Capai 280,23 Juta hingga Awal Juli 2025
Menteri Perindustrian (Menperin) RI Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan kuliah umum di Universitas Hiroshima, Jepang, Senin (14/7/2025).Dalam kuliah umum tersebut, Agus juga menekankan bahwa strategi industrialisasi Indonesia saat ini dibangun di atas prinsip kedaulatan, bukan dalam arti isolatif, tetapi sebagai kapasitas mengelola sumber daya dan sistem produksi secara mandiri.
Dalam konteks ketahanan pangan, kedaulatan berarti Indonesia tidak hanya menanam padi, tetapi juga mampu mengolah, menyimpan, mendistribusikan, dan menjamin akses nutrisi merata ke seluruh nusantara.
Sementara dalam bidang energi, kedaulatan tidak sekadar berarti menambang batu bara atau gas alam, tetapi juga meliputi pembangunan kilang domestik, produksi biofuel, pemanfaatan teknologi energi terbarukan, serta pembangunan infrastruktur penyimpanan, transmisi, dan inovasi energi berkelanjutan.
Agus juga menekankan pentingnya kedaulatan di sektor kesehatan, terutama sebagai pembelajaran dari pandemi Covid-19.
Menurutnya, Indonesia tidak dapat terus bergantung pada impor vaksin dan alat kesehatan.
“Negara harus mampu memproduksi bahan baku farmasi aktif, membangun ekosistem biofarma yang kuat, serta melatih ilmuwan dan tenaga kesehatan lokal yang mumpuni untuk melindungi populasi dari ancaman pandemi di masa depan,” ujar Agus.
Baca juga: Sirnanya Sinar Pasar Ular Tanjung Priok, Kian Sepi Pembeli sejak Pandemi
Dalam forum tersebut, ia menegaskan strategi industrialisasi Indonesia dibangun dengan kesadaran historis dan pemahaman konseptual yang kuat.
Agus merujuk pada pemikiran Profesor Sumitro Djojohadikusumo yang menekankan bahwa industrialisasi bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi proyek politik dan peradaban.
Mengambil inspirasi dari pemikiran Strukturalis Amerika Latin, Sumitro memperingatkan bahwa negara yang hanya mengandalkan ekspor bahan mentah akan terjebak dalam siklus ketergantungan dan keterbelakangan. Pandangan ini selaras dengan Hipotesis Prebisch-Singer, yang menunjukkan harga komoditas primer cenderung turun relatif terhadap produk manufaktur.
“Oleh karena itu, Profesor Sumitro mendorong pembangunan pabrik baja, industri pupuk, pengolahan hasil pertanian, serta penguatan rekayasa nasional sebagai jalan keluar dari struktur ekonomi kolonial,” ucap Agus.
Ia juga mengaitkan strategi industri saat ini dengan model dual sector milik Arthur Lewis, yang menjelaskan pembangunan ekonomi melalui transformasi tenaga kerja dari sektor pertanian tradisional ke industri modern yang lebih produktif.
Dalam kerangka tersebut, industrialisasi tidak sekadar akumulasi investasi, tetapi juga perubahan struktural dalam sistem tenaga kerja, kelembagaan, dan penciptaan nilai tambah.
Baca juga: Investasi Meningkat tapi Serapan Tenaga Kerja Rendah, Ekonom Beri Penjelasan
Pandangan Lewis ini kemudian dikembangkan Albert Hirschman dengan menekankan pentingnya backward dan forward linkages dalam membangun jaringan ekonomi domestik yang terhubung, sehingga industri menjadi bagian ekosistem yang saling memperkuat.
Agus juga menyinggung pendekatan take-off dalam model pertumbuhan ekonomi W.W. Rostow, seraya menyatakan bahwa Indonesia kini berada pada fase “lepas landas” dalam banyak sektor industri.
“Kita tidak lagi sekadar melakukan industrialisasi. Kita sedang merestrukturisasi industrialisasi agar tidak hanya menguntungkan sebagian kecil masyarakat atau melayani pasar luar negeri, tetapi juga mengangkat wilayah pedesaan, memperkuat ketahanan nasional, dan membangun kapabilitas negara secara menyeluruh,” tegasnya.