Puncak Arus Balik Kedua Diprediksi Terjadi pada Hari Minggu

Kompas.com - 22/06/2018, 06:09 WIB
Kurniasih Budi

Penulis


BOYOLALI, KOMPAS.com - Kementerian Perhubungan memprediksi puncak arus balik kedua akan terjadi pada Minggu (24/6/2018).

Arus balik libur Lebaran akan meningkat karena Senin (25/6/2018) merupakan waktu kembali ke sekolah bagi para pelajar.

“Diprediksi akan ada puncak arus balik kedua yang akan terjadi pada Minggu (24/6/2018) karena pada Senin (25/6/2018) merupakan hari kembali ke sekolah,” kata Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso saat melakukan inspeksi arus balik di Bandara Adi Soemarmo, Kamis (21/6/2018).

(Baca: Puncak Arus Balik dengan Pesawat Diprediksi Terjadi Hari Ini)

Selama puncak mudik Lebaran yaitu pada hari H-2, terdapat 7.511 penumpang yang dilayani di Bandara Adi Soemarmo.

Sementara, pada puncak arus balik pertama pada H+3, terdapat 7.610 penumpang yang dilayani.

“Rute gemuk selama Lebaran dari dan ke Solo berasal dari Jakarta, Palangkaraya, Palembang, dan Bali,” ujarnya melalui pernyataan tertulis, Jumat (22/6/2018).

PT Angkasa Pura I Kantor Cabang Bandara Internasional Adi Soemarmo di Boyolali, Jawa Tengah.KOMPAS.com/Labib Zamani PT Angkasa Pura I Kantor Cabang Bandara Internasional Adi Soemarmo di Boyolali, Jawa Tengah.

Dari laporan AirNav untuk Bandara Adi Soemarmo, tiap hari terdapat antara 76 hingga 81 penerbangan datang dan pergi selama arus mudik dan arus balik Lebaran tahun ini.

Jumlah itu meningkat dibandingkan hari biasa yang berjumlah 66 penerbangan datang dan pergi.

Bandara tersibuk di Indonesia

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Agus Santoso saat di Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta untuk memantau langsung arus balik KOMPAS.com / Wijaya Kusuma Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Agus Santoso saat di Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta untuk memantau langsung arus balik

Agus menjelaskan, bandara di Solo dan Yogyakarta bersama dengan bandara di Semarang dan Surabaya merupakan bandara yang tersibuk untuk kedatangan arus mudik dan melayani arus balik Lebaran 2018.

“Alhamdulillah, seperti juga di Jogja, kondisi arus balik di Bandara Solo ini juga lancar, aman dan terkendali, sungguhpun penumpang relatif banyak. Maklum besok mulai bekerja lagi," ujar Agus.

Walaupun penumpang membludak tapi pergerakan penumpang relatif lancar karena penerbangan tersedia dengan baik, fasilitas terminal bagus, dan keamanan terjaga.

Bahkan, parking stand untuk pesawat sudah ditambah dari 10 menjadi 15 untuk pesawat narrow body sekelas Boeing 737 dan Airbus 320.

(Baca: Presiden Jokowi: Manajemen Arus Mudik dan Balik Lebaran Sangat Bagus)

Selain itu, pengelola bandara menyediakan lokasi parkir mobil tambahan. Arus keluar-masuk penumpang juga direkayasa sedemikian rupa sehingga lebih efisien.

"Saya melihat aturan selama Lebaran yang kami tetapkan sudah diimplementasikan dalam standar prosedur operasi dan dilaksanakan dengan baik. Sehingga mulai dari arus mudik hingga puncak arus balik hari ini semua penerbangannya berjalan dengan selamat, aman dan nyaman," kata dia.

Selama inspeksi, Agus mengunjungi beberapa tempat di terminal bandara baik air side maupun land side dan berbincang dengan beberapa petugas serta penumpang yang sedang menunggu penerbangannya dan datang dari luar kota.

"Hari ini secara marathon saya mengunjungi dua bandara untuk memastikan pelayanan penerbangannya berlangsung dengan selamat, aman dan nyaman,” kata Agus

Hoaks harga tiket Lebaran

Ilustrasi tiket pesawatTHINKSTOCK Ilustrasi tiket pesawat

Pada kesempatan itu, Agus Santoso juga memaparkan terkait hoaks terkait harga tiket yang melambung tinggi selama libur Lebaran.

Berdasarkan hasil pemantauan di 36 bandara yang melayani arus Lebaran di Indonesia, harga tiket masih aman terkendali dan berada di bawah batas atas sesuai Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 14 tahun 2016.

Agus mengapresiasi pengelola bandara di Solo yang sudah memasang banner terkait tarif penerbangan dari dan ke Solo sehingga penumpang bisa mengecek harga tiket pesawat yang dibelinya.

Selaku pemegang kendali tertinggi regulator penerbangan, Agus berterimakasih kepada seluruh penumpang pesawat terbang dan seluruh operator penerbangan atas kerja sama sehingga bisa tercipta kondisi penerbangan yang selamat, aman, nyaman dan lancar.

Balon udara

Suasana penyelenggaraan Java Balloon Festival 2018 di Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, Selasa (19/6/2018). Festival diadakan Kementerian Perhubungan bersama AirNav Indonesia dalam rangka meredam maraknya balon udara liar yang membahayakan keselamatan penerbangan dalam beberapa hari terakhir.KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Suasana penyelenggaraan Java Balloon Festival 2018 di Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, Selasa (19/6/2018). Festival diadakan Kementerian Perhubungan bersama AirNav Indonesia dalam rangka meredam maraknya balon udara liar yang membahayakan keselamatan penerbangan dalam beberapa hari terakhir.

Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara kembali menegaskan, pelepasan balon udara secara liar sangat membahayakan penerbangan.

Utamanya, balon yang dilepaskan di atas Pulau Jawa yang merupakan jalur penerbangan terpadat ketiga di dunia.

Pelaku pelepasan balon liar yang membahayakan bisa dikenai hukuman kurungan 2 tahun dan denda 500 juta rupiah

"Di atas kita ini selain banyak penerbangan nasional juga internasional yang melintasi antar benua Asia dan Australia. Kalau ada balon udara di lintasan pesawat kan berbahaya. Kita bisa dikomplain sama dunia penerbangan internasional. Maka dari itu pelepasan balon udara sangat dilarang dan sanksinya sangat berat," ujarnya.

(Baca: Festival Balon Udara Digelar di Ponorogo )

Untuk mengedukasi masyarakat, Ditjen Perhubungan Udara, AirNav, serta pemerintah daerah mengadakan festival balon udara di Wonosobo, Ponorogo, dan Pekalongan.

Edukasi yang dilakukan di antaranya dengan menambatkan balon udara setinggi tidak lebih dari 150 meter.

“Dengan ditambatkan, ada 2 keuntungan yang didapat. Pertama, balon tersebut bisa lama dinikmati masyarakat. Kedua, balon tersebut juga tidak mengganggu keselamatan penerbangan,” ujarnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com