KOMPAS.com – Aparatur sipil negara ( ASN) transportasi udara harus memiliki mindset perubahan, memperkuat kompetensi digital yang humanis, membangun budaya kerja modern, serta mengintegrasikan data.
Dengan begitu, birokrasi di sektor transportasi bisa lebih lincah, responsif, dan dipercaya sebagai motor penggerak pembangunan.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini mengatakan, masa depan transportasi Indonesia bukan hanya tentang pembangunan terminal dan armada, tetapi juga membangun ASN yang kompeten, berintegritas, adaptif, dan humanis.
“Dari merekalah lahir pelayanan transportasi yang aman, nyaman, dan berdaya saing global," ujarnya dalam keterangan yang diterima Kompas.com.
Dia mengatakan itu dalam Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) 2025, di Kemenhub, Jakarta, Senin (8/9/2015).
Baca juga: Kemenag Usulkan 171 Ribu Formasi Guru Madrasah, 167 Ribu Disetujui Kemenpan RB
Rini mengatakan, terdapat tiga tantangan besar dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) transportasi udara.
Pertama, perkembangan teknologi, seperti big data, artificial intelligence, internet of things (IoT), hingga blockchain, yang mengubah wajah transportasi udara.
Kedua, meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap layanan yang cepat, aman, terjangkau, dan inklusif.
Ketiga, persaingan global yang menuntut peningkatan daya saing serta service excellence.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Rini menyebutkan ada sejumlah strategi yang harus dijalankan.
“Kita perlu melakukan reskilling dan upskilling, mulai dari pelatihan digital, bahasa asing, hingga peningkatan customer experience," ungkapnya.
Baca juga: Menpan RB Ungkap Tekanan Netizen soal CPNS, Ekonomi Jadi Kunci
Rini mengatakan, perubahan besar juga sedang terjadi di dunia transportasi udara.
Teknologi tidak lagi hanya menjadi pendukung, tetapi sudah menjadi penggerak utama transformasi.
Data International Air Transport Association (IATA) memproyeksi Indonesia menjadi pasar penerbangan keempat terbesar di dunia pada 2036 dengan jumlah penumpang mencapai kurang lebih 355 juta orang.
Namun, pertumbuhan tersebut perlu didukung pemerintah melalui tata kelola dan regulasi yang baik, layanan publik yang optimal dan berkualitas, dan ASN penerbangan yang kompeten serta adaptif.
Rini menyampaikan, pemerintah membutuhkan transformasi layanan sekaligus transformasi SDM yang mampu menguasai teknologi baru.
Baca juga: Menteri PAN-RB: Stranas PK Wujud Akselerator Reformasi Struktural dan Reformasi Birokrasi
“ASN transportasi harus siap, bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pengawal layanan publik yang adaptif, aman, dan berdaya saing," jelasnya.
Menurutnya, integrasi data dan pemanfaatan AI akan membuat layanan transportasi lebih prediktif, efisien, dan human-centric.
Oleh karenanya, peran Kemenhub sebagai orkestrator ekosistem transportasi melalui strategi transformasi digital sangat penting.
Dalam hal ini, ASN berperan krusial karena harus mampu membaca data dan menggunakannya untuk pengambilan keputusan.
“ASN transportasi harus hadir sebagai problem solver, yang mampu menghubungkan titik-titik layanan dengan digitalisasi,” ungkap Rini.
Baca juga: Menpan RB Ungkap Tekanan Netizen soal CPNS, Ekonomi Jadi Kunci
Dengan demikian, ASN benar-benar mewujudkan transportasi yang human-centric dan memberi nilai tambah bagi masyarakat.
Rapat Koordinasi Teknis Kementerian Perhubungan 2025, di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (8/9/2015).Untuk mewujudkan agenda itu, Rini mengatakan, transformasi tidak bisa dilakukan sendirian. Menurutnya, diperlukan kolaborasi lintas sektor, lintas kementerian, dan seluruh pemangku kepentingan.
"Mari kita siapkan ASN transportasi yang berdaya saing, agar transportasi udara Indonesia benar-benar menjadi motor penggerak pembangunan yang modern, inklusif, dan dipercaya rakyat," tutur Rini.
Sementara itu, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan, dalam kerangka Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden, transportasi udara memiliki peran sentral untuk memperkuat konektivitas nasional yang adil.
Baca juga: Bersifat Opsional, Menpan RB Bebaskan Kebijakan WFA ASN ke Institusi
Transportasi udara juga penting untuk membangun konektivitas yang merata hingga wilayah terdepan, terpencil, tertinggal, dan perbatasan (3TP).
Tak hanya itu, transportasi udara diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis produktivitas dan pariwisata, serta menghadirkan layanan publik yang modern dan transparan melalui transformasi digital.
"Oleh karena itu, transformasi digital dan manajerial merupakan keharusan guna menghadirkan layanan transportasi udara, yang modern, efisien, transparan, aman, dan berdaya saing global," ujar Dudy.
Dia berharap, rakornis itu menjadi momentum untuk memperkuat komitmen pemerintah dalam membangun transportasi udara yang berdaya saing, inklusif, dan berorientasi pelayanan.
Dudy juga berharap Kementerian PANRB dapat mendukung percepatan transformasi ASN dan digitalisasi layanan publik.
Baca juga: 4.000 Rumah Subsidi Disediakan buat Pegawai Kemenpan-RB, LAN, ANRI, dan BKN
"Semoga kerja keras kita menjadi kontribusi nyata bagi terwujudnya Indonesia maju yang semakin terkoneksi, produktif, dan sejahtera," ucapnya.