KOMPAS.com – Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 9 Kota Bandung resmi beroperasi di kompleks Sentra Wytaguna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Jawa Barat.
Sekolah Rakyat itu berdampingan langsung dengan Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) A Pajajaran. SRMP 9 bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar tanpa mengganggu aktivitas pembelajaran SLBN tersebut.
Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial, Supomo menegaskan bahwa keberadaan SRMP 9 tidak menggangu SLBN A Pajajaran
“Gedung Sekolah Rakyat menggunakan bangunan terpisah. Bahkan saat ini lebih nyaman karena sudah selesai renovasi,” jelas Supomo dalam siaran persnya, Rabu
Ia juga memastikan bahwa meskipun gedung SLB berada di area dan milik Sentra Wytaguna milik Kementerian Sosial (Kemensos), tapi tidak ada pengurangan kenyamanan bagi pelajar SLB akibat kehadiran Sekolah Rakyat.
Baca juga: Pembangunan 100 Sekolah Rakyat Ditargetkan Rampung Akhir Juli Ini
SRMP 9 Kota Bandung memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin, (14/7/2025).
Kepala Sekolah SRMP 9 Kota Bandung, Setia Nugraha, menjelaskan tahun 2025 sekolah menerima 50 peserta didik, terdiri dari 30 siswa laki-laki dan 20 siswi perempuan. Para siswa tinggal di asrama, dididik untuk mandiri, dan dibekali program karakter.
“Anak-anak kami latih untuk hidup mandiri. Di asrama, mereka dibiasakan bangun pagi, ibadah di masjid, olahraga, dan mengikuti pembelajaran seperti SMP pada umumnya," katanya.
"Bedanya, di Sekolah Rakyat ini ada tambahan pendidikan karakter, kebangsaan, penguasaan bahasa, dan keterampilan digital,” ujar Setia.
Lebih lanjut, Setia menjelaskan para siswa juga dikenalkan nilai-nilai kebersamaan dalam program asrama.
“Tujuannya membentuk pribadi unggul, berkarakter, dan siap bersaing,” tambahnya.
Baca juga: Raker dengan DPR, Gus Ipul Paparkan Realisasi Belanja Kemensos 2025 dan Kebijakan Belanja 2026
Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala Sekolah SLBN A Pajajaran, Rian Ahmad Gumilar, menyambut baik kehadiran Sekolah Rakyat di lingkungan yang sama.
Ia memastikan tidak ada gangguan pembelajaran di SLB. Saat ini, sebanyak 114 siswa SLB mengikuti MPLS, termasuk 26 peserta didik baru dari TK, SDLB, dan SMPLB.
Rian berharap akan ada kolaborasi positif antara kedua sekolah.
“Mudah-mudahan ke depan tercipta lingkungan inklusif. Anak-anak Sekolah Rakyat bisa mengenal dan memahami teman-teman berkebutuhan khusus, dan kami pun bisa beradaptasi dengan keberadaan mereka,” jelas Rian.
Dengan keberadaan dua lembaga pendidikan di satu kawasan, diharapkan dapat saling memperkuat dan membentuk lingkungan pendidikan yang ramah, inklusif, serta membangun karakter generasi penerus bangsa.