JAKARTA, KOMPAS.com — Stasiun Tanah Abang di Jakarta Pusat, yang dikenal sebagai salah satu simpul transportasi terpadat di Ibu Kota Jakarta, kini tampil dengan wajah baru usai revitalisasi masif yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian ( DJKA).
Modernisasi tersebut menjadi tonggak awal transformasi layanan perkeretaapian yang lebih nyaman, inklusif, dan berorientasi publik.
Menteri Perhubungan Dudi Purwagandhi dalam pemaparannya menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas menjadi fokus utama proyek revitalisasi Stasiun Tanah Abang.
“Kapasitas penumpang meningkat signifikan dari 114.000 menjadi 380.000 penumpang per hari. Peningkatan ini sejalan dengan kebutuhan mobilitas masyarakat Jabodetabek yang terus tumbuh pesat” ujar Dudi saat peresmian, Selasa (4/11/2025).
Lebih lanjut, ia menuturkan, bangunan baru berdiri di atas lahan 31.134 meter persegi dengan luas gedung mencapai kurang lebih 23.000 meter persegi. Stasiun ini kini memiliki empat peron dan enam jalur aktif yang memungkinkan pergerakan kereta lebih lancar dan efisien.
“Setiap peron dapat melayani satu rangkaian kereta rel listrik (KRL) dengan 12 gerbong. Pada jam puncak, setiap gerbong mampu menampung sekitar 300 penumpang—setara dua pesawat Boeing 737 per gerbong, atau 20 pesawat per rangkaian,” tutur Dudi.
Menurutnya, perbandingan tersebut menunjukkan besarnya daya angkut moda rel daripada transportasi lain.
“Dengan peningkatan kapasitas seperti ini, masyarakat semakin punya alasan untuk beralih ke transportasi publik yang cepat dan terjangkau,” imbuhnya.
Baca juga: DJKA Dorong Masyarakat Beralih ke Kereta Api sebagai Transportasi Utama
Hingga Oktober 2025, Stasiun Tanah Abang telah melayani lebih dari 63 juta penumpang. Dudi menyebut angka tersebut setara sekitar 22 persen dari total pengguna KRL Jabodetabek pada periode yang sama.
Ia berharap, peresmian Stasiun Tanah Abang Baru dapat menjadi titik awal transformasi perkeretaapian secara menyeluruh dalam melayani publik.
“Kami ingin memastikan setiap perjalanan rakyat terasa lebih mudah, aman, dan nyaman,” ujarnya menutup,” ucapnya.
Dudi menjelaskan, nilai proyek kurang lebih mencapai Rp 380 miliar dan pengerjaan dilakukan bertahap sejak Juni 2025. Tahapan konstruksi dirancang agar layanan tetap berjalan selama masa pembangunan.
Baca juga: Kemenhub Siapkan Super App Nasional untuk Integrasi Pembayaran Transportasi Publik
Sejalan dengan penambahan kapasitas, DJKA meningkatkan jumlah jalur dari 4 menjadi 6 dan peron dari 2 menjadi 4, serta menambah fasilitas untuk memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM).
Direktur Jenderal Perkertaapian Allan Tandiono menyampaikan, kelengkapan fasilitas penting untuk memastikan aksesibilitas bagi seluruh kalangan.
Ia pun merinci, Stasiun Tanah Abang kini telah dilengkapi 11 eskalator, 7 elevator, 7 tangga manual, serta Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Jatibaru yang menghubungkan area Jalan Inspeksi. Fasilitas disabilitas turut diperluas melalui toilet khusus, guiding block, dan area parkir prioritas.
“Kami juga menyediakan ruang menyusui, ruang kesehatan, area komersial, serta ruang terbuka hijau agar standar layanan terpenuhi,” ujar Allan.
Baca juga: Kemenhub Ajak Pengusaha Logistik Wujudkan Zero ODOL pada 2027
Allan menyebut, dengan selesainya peningkatan, Tanah Abang mampu melayani hingga 352 perjalanan KRL per hari. Porsi pengguna juga besar, yakni sekitar 22 persen dari total penumpang KRL Jabodetabek dilayani di stasiun ini, dengan volume kumulatif lebih dari 63 juta hingga Oktober 2025.
Ia menambahkan, pemerintah juga telah menyiapkan tahap lanjutan pada 2027. Rencana ini mencakup pembangunan concourse tambahan di peron 3 dan 4, pelebaran area layanan, peningkatan akses ke kawasan selatan, serta pengurangan waktu tunggu kereta lintas Tanah Abang–Serpong–Rangkasbitung dari 10 menit menjadi 4–6 menit.
Lebih lanjut, Allan menyampaikan bahwa peningkatan Stasiun Tanah Abang juga menjadi bentuk keberhasilan kolaborasi antara pemerintah pusat, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan pemerintah daerah.
“DJKA bertanggung jawab atas pembangunan bangunan utama stasiun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menata area parkir dan sistem tiket elektronik, sementara Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI menata kawasan sekitar berbasis konsep transit oriented development (TOD),” ujarnya.
Baca juga: Tekan Emisi, Kemenhub Dorong Elektrifikasi Transportasi Nasional
Dalam sambutannya setelah meresmikan stasiun ini, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengapresiasi revitalisasi Stasiun Tanah Abang. Sebab, ia menilai, sistem angkutan massal sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern.
Meski begitu, Prabowo menekankan, layanan publik seperti KRL tidak semestinya diukur semata-mata dari sisi keuntungan, tetapi dari manfaatnya bagi rakyat.
“Yang dihitung adalah manfaat untuk rakyat. Ini namanya public service obligation (PSO),” kata Prabowo.
Sejalan dengan hal itu, Menhub Dudi sebelumnya juga menyampaikan, sekitar 60 persen harga tiket KRL disubsidi pemerintah dengan anggaran mencapai Rp 1,7 triliun per tahun, demi menjaga keterjangkauan layanan.
Baca juga: Kemenhub Akan Bangun 6 Pusat Perawatan Pesawat Terpadu, Banten Masuk Daftar
“Subsidi ini adalah bentuk nyata kehadiran negara agar transportasi publik tetap bisa dinikmati semua lapisan masyarakat,” kata Prabowo.
Menutup sambutannya, Presiden Prabowo menyuarakan optimisme terhadap perkembangan perkeretaapian nasional.
“Saya selalu ingin menunjukkan bahwa kereta api kita tidak kalah dengan negara lain. Rendah hati boleh, tapi jangan rendah diri,” tutup Presiden.
Dalam peresmian turut hadir Sekretaris Kabinet Indonesia Teddy Indra Wijaya, Menteri Koordinator (Menko) Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Pramono Anung, dan Direktur Umum PT Kereta Api Indonesia Bobby Rashid.