Di Forum PBB, Wapres JK Tawarkan 2 Solusi Atasi Penurunan Harga Kopi

Kompas.com - 27/09/2019, 09:53 WIB
ADW,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Untuk menjawab persoalan tentang penurunan harga jual kopi di pasar global, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) menawarkan dua langkah utama guna memperbaiki harga jual kopi di tingkat internasional.

Pertama, melalui pengendalian jumlah pasokan kopi ke pasar global, yang diharapkan dapat mempengaruhi faktor fundamental harga kopi.

"Agar berhasil, langkah ini perlu dilakukan secara terstruktur dengan melibatkan negara-negara penghasil kopi utama dunia," Wapres JK seperti dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/9/2019).

Kedua, melalui penambahan nilai produk-produk kopi. Caranya melalui program pengembangan kapasitas petani, serta tambahan kucuran dana investasi untuk peningkatan produktivitas kopi oleh Pemerintah.

Usulan tersebut Wapres sampaikan dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa ( PBB) bertajuk “Aksi Bersama Mengatasi Krisis Harga Kopi Dan Mencapai Produksi Kopi Berkelanjutan" (Joint Actions to Face the Coffee Price Crisis and Achieve its Sustainable Production).

Baca juga: Pimpin SDG Summit di PBB, Wapres JK Ceritakan Prioritas Pembangunan Indonesia

Pertemuan itu diselenggarakan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-74, di Markas Besar PBB, di New York, Amerika Serikat, Rabu (25/9/2019).

Sontak, kedua usulan itu memicu diskusi di antara para peserta pertemuan. Mereka akhirnya sepakat untuk membicarakan usulan-usulan itu, serta usulan lainnya secara lebih mendalam pada pertemuan lanjutan.

Harga kopi terus turun

Harga kopi dunia saat ini memang tengah mengalami penurunan. Berdasarkan laporan International Coffee Organization (ICO), harga komoditas kopi mengalami penurunan sejak 2011.

Pada 2011, jenis kopi Arabica harganya berkisar 2,6 dollar Amerika Serikat (AS) per pon dan terus menurun hingga menyentuh harga rata-rata 1,27 dollar AS per pon pada 2018.

Baca juga: Kopi Geisha Capai Rp 28 Juta, Kenapa Begitu Mahal?

Begitu pula dengan jenis Robusta. Harga rata-ratanya pada 2011 mencapai 1,09 dollar AS per pon dan turun menjadi 0,84 dollar AS per pon tahun 2018.

Indonesia, sebagai negara penghasil kopi terbesar keempat dunia, setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia, merasakan dampak langsung dari penurunan harga tersebut.

Data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan, volume ekspor kopi Indonesia tahun 2018 menurun 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada 2017, nilai ekspor kopi asal Indonesia tercatat 1,6 miliar dollar AS. Jumlahnya merosot pada 2018 menjadi 1,3 miliar dollar AS.

Baca juga: Ketika Kopi Membantu Veteran Vietnam Membesarkan Keluarganya

Tak hanya berdampak pada ekspor, Jusuf Kalla mengungkapkan, penurunan harga jual kopi berdampak langsung pada hidup 1,8 juta petani kopi Indonesia dan kurang lebih 25 juta petani kopi di seluruh dunia.

Untuk diketahui, pertemuan PBB tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari upaya bersama mencapai target-target Sustainable Development Goals (SDG). Sektor pertanian dinilai berkaitan terhadap 14 dari 17 tujuan SDG.

Menyadari keterkaitan erat antara pertanian dengan SDG, Pemerintah Indonesia banyak meluncurkan program-program di bidang pertanian, termasuk replanting, bantuan bibit kepada petani, pelatihan, maupun akses permodalan.

Terkini Lainnya
Mendagri Tekankan Pentingnya Percepatan Digitalisasi Bantuan Sosial untuk Ketepatan Sasaran

Mendagri Tekankan Pentingnya Percepatan Digitalisasi Bantuan Sosial untuk Ketepatan Sasaran

Kementerian Luar Negeri
Pada Lokakarya Internasional, Kemenlu Soroti Pentingnya Transformasi Pertambangan Berkelanjutan

Pada Lokakarya Internasional, Kemenlu Soroti Pentingnya Transformasi Pertambangan Berkelanjutan

Kementerian Luar Negeri
Pertamina Nyatakan Kesiapannya Berkolaborasi Kembangkan Energi di Afrika

Pertamina Nyatakan Kesiapannya Berkolaborasi Kembangkan Energi di Afrika

Kementerian Luar Negeri
Pada IAF 2024, Indonesia dan Afrika Teken Kerja Sama Industri Strategis Senilai 173,5 Juta Dollar AS

Pada IAF 2024, Indonesia dan Afrika Teken Kerja Sama Industri Strategis Senilai 173,5 Juta Dollar AS

Kementerian Luar Negeri
Bertemu Menlu Angola, Retno Marsudi Harap Kerja Sama Ekonomi Diperkuat

Bertemu Menlu Angola, Retno Marsudi Harap Kerja Sama Ekonomi Diperkuat

Kementerian Luar Negeri
Komitmen Pertamina di Afrika, Integrasi Ekspansi Global dan Transisi Energi

Komitmen Pertamina di Afrika, Integrasi Ekspansi Global dan Transisi Energi

Kementerian Luar Negeri
Perkuat Komitmen Ekspansi Energi di Afrika, Pertamina Dukung Indonesia-Afrika Forum 2024

Perkuat Komitmen Ekspansi Energi di Afrika, Pertamina Dukung Indonesia-Afrika Forum 2024

Kementerian Luar Negeri
Di IAF 2024, Jokowi Ajak Negara Afrika Semakin Solid Jadi Penggerak Perubahan 

Di IAF 2024, Jokowi Ajak Negara Afrika Semakin Solid Jadi Penggerak Perubahan 

Kementerian Luar Negeri
Jokowi Soroti 4 Poin Penting dalam Wujudkan Pembangunan Adil dan Inklusif di Negara Berkembang

Jokowi Soroti 4 Poin Penting dalam Wujudkan Pembangunan Adil dan Inklusif di Negara Berkembang

Kementerian Luar Negeri
Kemenlu Gelar Indonesia-Africa Forum 2024, Peluang Emas Transaksi Bisnis di Pasar Afrika

Kemenlu Gelar Indonesia-Africa Forum 2024, Peluang Emas Transaksi Bisnis di Pasar Afrika

Kementerian Luar Negeri
Perkuat Kerja Sama dengan Afrika, Indonesia Siapkan Beberapa Side Events di IAF Bali

Perkuat Kerja Sama dengan Afrika, Indonesia Siapkan Beberapa Side Events di IAF Bali

Kementerian Luar Negeri
Para Menlu ASEAN Sepakat Lanjutkan Hasil Keketuaan Indonesia untuk Keketuaan Laos 2024

Para Menlu ASEAN Sepakat Lanjutkan Hasil Keketuaan Indonesia untuk Keketuaan Laos 2024

Kementerian Luar Negeri
Jelang Pernyataan Mahkamah Internasional soal Palestina, Menlu: Tindakan Israel Harus Dihentikan

Jelang Pernyataan Mahkamah Internasional soal Palestina, Menlu: Tindakan Israel Harus Dihentikan

Kementerian Luar Negeri
Menlu: Indonesia Jadi Pemain Utama di Kawasan dan Global

Menlu: Indonesia Jadi Pemain Utama di Kawasan dan Global

Kementerian Luar Negeri
Diplomasi Indonesia Terus Perjuangkan Hak dan Akses Pendidikan Perempuan di Afghanistan

Diplomasi Indonesia Terus Perjuangkan Hak dan Akses Pendidikan Perempuan di Afghanistan

Kementerian Luar Negeri
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com