Mendagri Tito Apresiasi Pelestarian Desa Adat Matabesi, Dorong Jadi Destinasi Wisata Budaya

Kompas.com - 28/06/2026, 15:42 WIB
DWN

Penulis

KOMPAS.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengapresiasi pelestarian adat dan budaya di Desa Adat Matabesi, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Apresiasi itu disampaikan Tito saat mengunjungi Desa Adat Matabesi, Minggu (28/6/2026). Menurutnya, desa tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai warisan budaya sekaligus destinasi wisata.

Tito mengatakan, Desa Adat Matabesi mengingatkannya pada Wae Rebo, salah satu desa adat di NTT yang dikenal sebagai destinasi wisata budaya. Meski demikian, Matabesi memiliki kekhasan tersendiri, mulai dari rumah adat yang telah bertahan ratusan tahun hingga lingkungan yang masih asri dengan pepohonan berusia tua.

“Kali ini saya lihat ada sesuatu yang lain di sini. Jadi mirip-mirip dengan Wae Rebo, tetapi punya kekhasan sendiri, sejarah sendiri. Kalau di sana harus jalan dua jam katanya. Di sini naik mobil langsung sampai. Artinya, akses untuk turis lebih mudah,” ujar Tito dalam keterangan tertulis, Minggu.

Menurut dia, sejarah Desa Adat Matabesi akan semakin menarik apabila terus digali dan didokumentasikan.

Baca juga: Desa Adat di Jembrana Sidang Pembuang Kantong Sampah Sembarangan, Terlacak dari Resi Belanja Online

Dengan begitu, keberadaan desa adat tersebut dapat menjadi warisan bagi generasi mendatang untuk memahami sejarah, adat, dan budaya yang telah hidup selama ratusan tahun.

Tito juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu dalam menjaga dan melestarikan Desa Adat Matabesi.

“Saya berterima kasih, apresiasi saya kepada Pak Bupati Belu yang melestarikan tempat ini. Terima kasih, Pak. Hanya yang punya passion yang mau begini,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Tito turut meninjau Museum Fohorai yang sedang dibangun di Desa Adat Matabesi.

Menurutnya, museum tersebut akan semakin menarik apabila dilengkapi dengan berbagai koleksi yang menggambarkan kehidupan masyarakat adat.

Baca juga: Tagih Janji Pansus Konflik Lahan, Masyarakat Adat Dayak Gelar Ritual di DPRD Nunukan

Koleksi itu, kata Tito, tidak hanya terbatas pada tenun, tetapi juga dapat mencakup tradisi, pertanian, peternakan, hingga proses pengolahan kemiri yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Ia menambahkan, pelestarian budaya di Desa Adat Matabesi tidak terlepas dari peran para tetua adat dan masyarakat yang terus menjaga nilai-nilai warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

“Saya memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada tetua-tetua adat yang ada di sini dan masyarakat adat. Di tengah kehidupan modern, kita tidak harus sepenuhnya berganti dengan yang modern. Kita bisa mempertahankan banyak filosofi masa lalu,” ucap Tito.

Ia kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan pengalamannya saat berkunjung ke Hawaii. Menurut Tito, sejumlah kawasan yang dahulu memiliki desa adat kini telah mengalami modernisasi besar-besaran.

Akibatnya, jejak budaya asli di kawasan tersebut lebih banyak ditampilkan sebagai pertunjukan di hotel, bukan lagi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Desa-desa adat pun menghilang dan berganti menjadi kawasan dengan gedung-gedung bertingkat.

Baca juga: Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan

Berkaca dari pengalaman tersebut, Tito mengingatkan agar modernisasi tidak menghilangkan akar budaya masyarakat.

“Kita tetap melakukan modernisasi di titik tertentu, tapi di bagian tertentu harus kita jaga seperti ini. Supaya menjadi salah satu objek wisata dan monumen bersejarah yang akan berguna untuk anak cucu kita. Biar mereka tahu di mana grass root-nya,” tuturnya.

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Belu Willybrodus Lay, Ketua Umum Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) sekaligus Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Tri Tito Karnavian turut hadir.

Selain mereka, hadir pula pengurus TP PKK Provinsi NTT dan Kabupaten Belu, para kepala suku, serta masyarakat adat Matabesi.

Terkini Lainnya
Mendagri Tito Apresiasi Pelestarian Desa Adat Matabesi, Dorong Jadi Destinasi Wisata Budaya

Mendagri Tito Apresiasi Pelestarian Desa Adat Matabesi, Dorong Jadi Destinasi Wisata Budaya

Kemendagri
Kunjungi TK Dharma Wanita Kefamenanu, Ketum TP-PKK Tekankan Pentingnya Peran Keluarga

Kunjungi TK Dharma Wanita Kefamenanu, Ketum TP-PKK Tekankan Pentingnya Peran Keluarga

Kemendagri
Ketua Harian Dekranas: Pewarna Alam Bisa Tingkatkan Nilai Jual Tenun

Ketua Harian Dekranas: Pewarna Alam Bisa Tingkatkan Nilai Jual Tenun

Kemendagri
Ketum TP-PKK Tri Tito Dorong Pelajar Peduli Kesehatan Sejak Dini

Ketum TP-PKK Tri Tito Dorong Pelajar Peduli Kesehatan Sejak Dini

Kemendagri
Wamendagri Tinjau PLBN Motaain, Pastikan Layanan Perbatasan Optimal

Wamendagri Tinjau PLBN Motaain, Pastikan Layanan Perbatasan Optimal

Kemendagri
Mendagri Buka Festival Fulan Fehan 2026, Hadirkan Tarian Persahabatan Indonesia dan Timor-Leste

Mendagri Buka Festival Fulan Fehan 2026, Hadirkan Tarian Persahabatan Indonesia dan Timor-Leste

Kemendagri
Mendagri Tito Dorong Mahasiswa Unhan NTT Perluas Pilihan Karier

Mendagri Tito Dorong Mahasiswa Unhan NTT Perluas Pilihan Karier

Kemendagri
Satgas PRR Dorong Daerah Percepat Pemanfaatan TKD dan Hibah ke Program Pemulihan

Satgas PRR Dorong Daerah Percepat Pemanfaatan TKD dan Hibah ke Program Pemulihan

Kemendagri
Mendagri: Parade Tenun Belu Jaga Warisan Budaya hingga Kembangkan Pariwisata Daerah

Mendagri: Parade Tenun Belu Jaga Warisan Budaya hingga Kembangkan Pariwisata Daerah

Kemendagri
Ketum TP PKK Ajak Pelajar TTU Siapkan Diri Menjadi Generasi Emas 2045

Ketum TP PKK Ajak Pelajar TTU Siapkan Diri Menjadi Generasi Emas 2045

Kemendagri
BNPP RI Percepat Pembukaan Perlintasan Temajuk–Telok Melano, Dukung Pengembangan Pariwisata Perbatasan Kalbar

BNPP RI Percepat Pembukaan Perlintasan Temajuk–Telok Melano, Dukung Pengembangan Pariwisata Perbatasan Kalbar

Kemendagri
Satgas PRR Sebut Skema Bantuan Keuangan Antardaerah Bisa Jadi Model Penanganan Bencana

Satgas PRR Sebut Skema Bantuan Keuangan Antardaerah Bisa Jadi Model Penanganan Bencana

Kemendagri
Ketum TP Posyandu Dorong Percepatan Registrasi untuk Perkuat Layanan Dasar Masyarakat

Ketum TP Posyandu Dorong Percepatan Registrasi untuk Perkuat Layanan Dasar Masyarakat

Kemendagri
Tri Tito Karnavian Tegaskan Posyandu Kini Jadi Pusat Pelayanan 6 Bidang SPM di Desa

Tri Tito Karnavian Tegaskan Posyandu Kini Jadi Pusat Pelayanan 6 Bidang SPM di Desa

Kemendagri
Mendagri Hadiri Puncak Penas Petani dan Nelayan XVII 2026 di Gorontalo

Mendagri Hadiri Puncak Penas Petani dan Nelayan XVII 2026 di Gorontalo

Kemendagri
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com