KOMPAS.com - Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera berhasil menyelesaikan sebagian pembangunan hunian tetap ( huntap) untuk penyintas bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Sejumlah warga di tiga provinsi tersebut sebelumnya terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir 2025 yang menyebabkan banyak rumah rusak berat maupun hanyut.
Berdasarkan laporan harian Satgas PRR per 13 Maret 2026, sebanyak 110 unit huntap telah rampung dibangun dari total 36.669 unit yang ditargetkan.
Sementara itu, 1.359 unit lainnya masih dalam proses pembangunan.
Jumlah huntap yang selesai dibangun tersebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 56 unit.
Baca juga: Ini Cara Satgas PRR Bikin Faskes di Wilayah Terdampak Bencana Sumatera Pulih dengan Cepat
Aceh menjadi wilayah dengan pembangunan huntap terbanyak. Dari target 27.104 unit, sebanyak 104 unit telah selesai dibangun, sedangkan 388 unit lainnya masih dalam proses pembangunan.
Di Sumut, sebanyak 524 unit sedang dibangun dari target 5.815 unit. Adapun di Sumbar, 6 unit huntap telah selesai dibangun dari target 3.750 unit, sementara 447 unit lainnya masih dalam proses pembangunan.
Sebagian besar pembangunan huntap tersebut merupakan hasil gotong royong lintas sektor, baik dari pemerintah maupun nonpemerintah.
Pihak yang terlibat antara lain Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Politik dan Keamanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), serta Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).
Baca juga: Satgas PRR Rampungkan 15.346 Unit Huntara, Progres Capai 81 Persen
Selain itu, dukungan juga datang dari Danantara, Yayasan Buddha Tzu Chi, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Kamar Dagang dan Industri (Kadin), pemerintah daerah (pemda), hingga bantuan dari perseorangan.
Selain mempercepat pembangunan huntap untuk mengurangi jumlah pengungsi di tenda, Satgas PRR juga menyalurkan dana tunggu hunian (DTH) bagi penyintas yang tidak memilih tinggal di hunian sementara ( huntara).
Besaran bantuan DTH mencapai Rp 600.000 per bulan selama tiga bulan, sehingga setiap kepala keluarga menerima total Rp 1,8 juta.
Hingga saat ini, penyaluran dana tersebut telah mencapai 100 persen kepada 13.728 penerima di tiga provinsi.
Rinciannya meliputi 7.807 penerima di Aceh, 4.162 penerima di Sumut, dan 1.759 penerima di Sumbar.
Baca juga: Percepatan Huntara dan Penyaluran DTH Jadi Strategi Kunci Satgas PRR Relokasi Pengungsi
Sebelumnya, saat meninjau pembangunan huntap di Aceh Utara, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Politik dan Keamanan (Polkam) Djamari Chaniago memastikan proses pembangunan berjalan lancar.
“Alhamdulillah, saya memantau langsung proses pembangunan huntap ini berjalan lancar, mulai dari bongkar material di Pelabuhan Belawan hingga tiba di Kuala Cangkoy dan dikerjakan dengan aman,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (14/3/2026).
Dia menargetkan seluruh pembangunan huntap yang ditangani Kemenko Polkam di Aceh dapat rampung pada akhir Maret 2026.
“Saya optimistis seluruh target dapat diselesaikan akhir Maret 2026,” kata Djamari.
Untuk diketahui, huntap untuk penyintas bencana Sumatera dibangun menggunakan material baja galvanis yang tahan karat dan tahan gempa.
Selain itu, rumah dibangun dengan sistem knockdown atau rumah bangun cepat sehingga proses konstruksi lebih efisien.
Baca juga: Kasatgas PRR Tito Tegaskan Kelengkapan Data Pemda Jadi Kunci Percepatan Penyaluran Bantuan
Setiap unit huntap juga dilengkapi dua kasur, meja makan, kursi, televisi, serta kamar mandi dengan fasilitas lengkap.