KOMPAS.com - Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera memastikan akan terus meningkatkan okupansi hunian sementara ( huntara) bagi penyintas bencana hidrologis di Sumatera.
Selain itu, peningkatan okupansi huntara juga akan dibarengi dengan penyaluran dana tunggu hunian ( DTH).
Langkah itu merupakan upaya untuk mengurangi pengungsi yang masih berada di tenda, akibat banjir dan longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) yang terjadi pada akhir 2025.
Berdasarkan laporan harian Satgas PRR per 10 Maret, jumlah huntara yang sudah rampung di tiga provinsi terdampak sudah mencapai 14.725 unit.
Jumlah itu sudah mencapai 78 persen dari target huntara yang akan dibangun, yakni 18.697 unit.
Baca juga: Mendagri Tito: Masyarakat Tak Perlu Panic Buying Jelang Idul Fitri
Aceh menjadi wilayah dengan pembangunan huntara terbanyak, dengan 12.926 unit yang sudah rampung dibangun.
Adapun progres pembangunan sudah mencapai 76 persen dari target yang akan dibangun, yakni total 16.847 unit.
Sementara itu, sebanyak 969 unit huntara sudah rampung dibangun di Sumut, dari total 1.020 yang akan dibangun atau mencapai progres 95 persen.
Kemudian, dari total 830 unit yang akan dibangun di Sumbar, seluruh huntara sudah selesai dibangun atau progres pengerjaan mencapai 100 persen.
Sambil meningkatkan okupansi huntara, Satgas PRR juga sudah bertahap membangun hunian tetap ( huntap).
Baca juga: Kasatgas PRR Tito Tegaskan Kelengkapan Data Pemda Jadi Kunci Percepatan Penyaluran Bantuan
Data Satuan Tugas PRR Pascabencana Sumatera pada 9 Maret memaparkan, ada 1.463 unit huntap yang sedang dalam progres pembangunan dan enam unit yang selesai dibangun.
Adapun pemerintah berencana membangun 36.669 unit huntap.
Selain mempercepat pembangunan huntara untuk menurunkan pengungsi di tenda, Satgas PRR juga menggelontorkan bantuan DTH bagi penyintas bencana yang tidak memilih tinggal di huntara.
Besaran bantuan DTH yang dikucurkan adalah Rp 600.000 per bulan untuk jangka waktu tiga bulan. Dengan demikian, setiap kepala keluarga menerima total dana sebesar Rp 1,8 juta.
Hingga saat ini, seluruh rekening penerima DTH telah menerima transfer dana dengan tingkat penyaluran mencapai 100 persen untuk 12.771 penerima di tiga provinsi.
Rincian penerima bantuan tersebut meliputi 6.846 orang di Aceh, 4.162 orang di Sumut, dan 1.763 orang di Sumbar.
Baca juga: Semarakkan Ramadhan, Kasatgas Tito Salurkan Bantuan untuk Puluhan Ribu Korban Bencana di Pidie Jaya
Strategi percepatan pembangunan huntara, huntap, dan penyaluran DTH berdampak signifikan pada penurunan jumlah pengungsi di tenda.
Data Satgas PRR per 9 Maret menunjukkan, penurunan jumlah pengungsi di tenda terjadi signifikan di tiga provinsi.
Dari semula 2.300 kepala keluarga (KK) pada 8 Maret, angka ini berkurang menjadi 1.872 kepala keluarga (KK) atau berkurang 428 KK pada 9 Maret. Jumlah ini setara dengan 5.963 jiwa pengungsi di tenda.
Juru Bicara Satgas PRR Pascabencana Sumatera Amran menegaskan, pihaknya akan terus menurunkan jumlah pengungsi di tenda sebelum Idul Fitri 2026.
Pemerintah juga akan terus menurunkan jumlah pengungsi melalui tahapan skema rehabilitasi dan rekonstruksi, mulai dari meningkatkan okupansi huntara, penyaluran DTH, dan pembersihan lumpur.
Baca juga: Kasatgas Tito Dorong Optimalisasi Huntara bagi Pengungsi yang Masih di Tenda
Amran mengatakan, pengungsi di tenda akan terus berkurang hingga Idul Fitri yang akan datang.
“Kami optimistis jumlah pengungsi akan terus berkurang dan menempati huntara sehingga kami tidak melihat lagi pengungsi di tenda," katanya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa (10/3/2026).