KOMPAS.com – Menteri Dalam Negeri ( Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengatakan, dalam suatu organisasi terdapat dua jenis gaya kepemimpinan, yakni birokratis dan teknokratik.
Kepemimpinan birokratis menekankan susunan hierarki yang menonjol, baik berdasarkan peraturan, kewenangan, maupun kewajiban pemegang jabatan.
Sementara itu, kepemimpinan teknokratik mengutamakan keahlian teknis yang tinggi dan penggunaan teknologi yang efektif.
Dalam konteks itu, Tito menilai, kedua gaya kepemimpinan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Ia menjelaskan, gaya kepemimpinan birokratis umumnya diterapkan pada organisasi yang besar dan memiliki jangkauan luas.
Baca juga: Mendagri Tito Karnavian Utus Stafsus Ke Desa Talunombo, Tinjau Pengolahan Sampah Jadi BBM
Sementara itu, gaya teknokratik cenderung diterapkan pada organisasi dengan skala lebih terbatas, terutama di sektor komersial.
"Nah sekarang, apakah harus kita teknokratis penuh? Kalau pendapat saya tidak. Penerapannya sangat bergantung dari tantangan yang ada, situasi yang yang dihadapi organisasi,” ujar Tito dalam siaran pers, Kamis (18/9/2025).
Dia mengatakan itu saat menjadi narasumber dalam Program Pembekalan Calon Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) Angkatan 2 Tahun 2025 di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (17/9/2025).
Dari pengamatannya, Tito cukup jarang menemukan organisasi yang menerapkan salah satu gaya kepemimpinan tersebut secara menyeluruh.
Sebaliknya, ia menekankan, kedua gaya kepemimpinan dibutuhkan dalam organisasi.
Baca juga: Mendagri Tito Dukung Perizinan Tenaga Medis dan Kesehatan Lewat MPPDN
Pasalnya, gaya birokratis penting untuk memastikan organisasi mematuhi aturan dan hierarki, sedangkan teknokratik dibutuhkan untuk mendorong lahirnya inovasi dan kebijakan yang efektif.
Tito menegaskan, gaya kepemimpinan teknokratik cenderung menghadapi tantangan dari waktu ke waktu.
Hal tersebut dijelaskan Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave yang membagi gelombang evolusi manusia menjadi tiga tahapan, yakni agrikultur, revolusi industri, dan teknologi informasi.
“Teknologi informasi sudah diprediksi oleh Toffler tahun 80 itu akan membuat perubahan peradaban manusia, dan kita merasakan sekarang,” ungkap Tito.
Lebih lanjut, Tito menyebutkan, teknologi telah memberikan dampak luar biasa bagi kemajuan umat manusia.
Baca juga: Kenapa Mendagri Tito Instruksikan Kepala Daerah Aktifkan Pos Ronda dan Satlinmas? Ini Alasannya
Hal tersebut terlihat dari perkembangan di bidang komunikasi, keuangan, hingga layanan publik.
Kondisi tersebut mengakibatkan munculnya transformasi pelayanan yang cepat, efektif, dan efisien.
Tito mencontohkan, banyak daerah telah mengadopsi dua gaya kepemimpinan tersebut, salah satunya ditandai dengan lahirnya kebijakan mal pelayanan publik (MPP).
Pemerintah daerah (pemda) terbukti mampu memberikan layanan yang cepat dan efektif, tetapi tetap mengikuti rangkaian hierarki dan aturan yang ada.
Dia mencontohkan, MPP di Kabupaten Badung, Gianyar, Banyuwangi, Sumedang, hingga Kota Makassar memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan efektif.
“Nah, ini adalah sebetulnya model mengubah, shifting, dari gaya yang birokrasi ke teknokrasi. Kemudian, banyak juga ada upaya lain yang sedang dikerjakan dari tahun kemarin, yaitu kita juga ingin membuat e-government,” tandasnya.
Baca juga: Kolom Agama di KTP Digugat ke MK, Pemohon Kutip Buku Karya Tito Karnavian
Turut hadir dalam acara tersebut, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara, jajaran pejabat OJK, serta Guru Besar Kebijakan Publik Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Muchlis Hamdi.