Presiden Prabowo: Tim Pertanian Jadi Contoh Kerja Pemerintah yang Membanggakan

Kompas.com - 13/01/2026, 19:23 WIB
DWN

Penulis

KOMPAS.com – Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto menegaskan bahwa capaian sektor pertanian menjadi contoh kerja pemerintah yang berprestasi dan membanggakan.

Keberhasilan tersebut dinilainya memiliki arti strategis karena tidak hanya meningkatkan produksi pangan nasional, tetapi juga memperkuat kepercayaan diri bangsa sebagai negara yang berdaulat.

“Saya kira harus diakui prestasi dan pekerjaan tim ekonomi kita, tim pertanian kita, membanggakan. Ini bukan soal menepuk dada, tetapi membangun bangsa yang percaya diri, bangga pada prestasinya, dan tidak merasa rendah diri,” ujar Prabowo dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa (13/1/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan pada peresmian Kilang Minyak Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026).

Ia menyampaikan bahwa kinerja sektor pertanian merupakan hasil kerja keras tim, konsistensi kebijakan, serta sinergi lintas kementerian dan lembaga sejak awal masa pemerintahannya. Target swasembada pangan yang semula diproyeksikan tercapai dalam empat tahun, berhasil diwujudkan jauh lebih cepat.

Prabowo menjelaskan, salah satu kunci keberhasilan sektor pertanian adalah keberanian pemerintah melakukan reformasi kebijakan, termasuk memangkas regulasi yang selama bertahun-tahun menghambat distribusi pupuk bersubsidi.

Ia menyoroti rumitnya birokrasi pupuk di masa lalu yang membuat petani kesulitan memperoleh pupuk meskipun diproduksi oleh pabrik milik negara dan disubsidi pemerintah.

“Dulu ada 145 peraturan, melibatkan 11 kementerian dan lembaga. Dari pabrik ke petani bisa butuh 13 tanda tangan. Akibatnya pupuk sulit dan petani menjerit,” ucap Prabowo.

Baca juga: Prabowo: Kalau Bisa Kita Turunkan Lagi Harga Pupuk

Pemerintah kemudian memangkas seluruh regulasi yang menghambat, sehingga distribusi pupuk dapat langsung dirasakan petani di lapangan.

“Kita hilangkan semua. Sekarang cukup satu instruksi. Pupuk langsung ke petani, cukup kartu penduduk dan disetujui kepala desa,” jelas Prabowo.

Reformasi tersebut berdampak signifikan, tidak hanya pada kemudahan akses pupuk, tetapi juga pada kebijakan harga nasional. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pemerintah berhasil menurunkan harga pupuk hingga 20 persen, sekaligus menjaga keberlanjutan industri pupuk dalam negeri.

“Petani sangat bersyukur. Walaupun harga turun, volume pupuk justru naik 700.000 ton. Artinya barang ada dan harga terjangkau,” kata Presiden.

Dampak reformasi pupuk tersebut tecermin pada kinerja sektor perberasan nasional. Prabowo menyebut, kondisi petani beras saat ini berada pada fase terbaik sepanjang sejarah RI, baik dari sisi produksi, cadangan, maupun kesejahteraan.

“Nilai tukar petani naik dari 106 menjadi 125, tertinggi sepanjang sejarah. Cadangan beras dan produksi beras juga tertinggi,” ujarnya.

Prabowo menegaskan bahwa kemandirian pangan merupakan syarat mutlak bagi sebuah negara merdeka dan fondasi utama dalam menjaga martabat bangsa.

Baca juga: Lahir di China, Politisi Jepang Ini Sebut Taiwan Negara Merdeka

“Negara merdeka harus bisa menghasilkan pangannya sendiri. Tidak masuk akal suatu negara ingin merdeka kalau tergantung makan dari luar,” tegasnya.

Keberhasilan sektor pertanian tersebut, menurut Prabowo, harus menjadi contoh bagi sektor lain dalam membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan sejahtera melalui keberanian melakukan reformasi dan keberpihakan nyata kepada rakyat.

Terkini Lainnya
Kementan Komitmen Jaga Stabilitas Harga dan Tingkatkan Produktivitas Petani, Pengamat Beri Respons Positif

Kementan Komitmen Jaga Stabilitas Harga dan Tingkatkan Produktivitas Petani, Pengamat Beri Respons Positif

Kementan
Pakar Pangan Universitas Andalas: Kepastian Harga Pemerintahan Prabowo Bikin Petani Senang

Pakar Pangan Universitas Andalas: Kepastian Harga Pemerintahan Prabowo Bikin Petani Senang

Kementan
DJBC Catat Tak Ada Impor Beras dan Jagung, Kinerja Bea Masuk Turun 5,1 Persen

DJBC Catat Tak Ada Impor Beras dan Jagung, Kinerja Bea Masuk Turun 5,1 Persen

Kementan
Kepuasan Petani terhadap Kinerja Kementan Capai 84 Persen

Kepuasan Petani terhadap Kinerja Kementan Capai 84 Persen

Kementan
Mentan: Jika Tidak Ada Aral Melintang, 3 Bulan Lagi Indonesia Swasembada Beras

Mentan: Jika Tidak Ada Aral Melintang, 3 Bulan Lagi Indonesia Swasembada Beras

Kementan
Respons Keluhan Petani Singkong di Lampung, Mentan Amran Siap Kawal Regulasi Tata Niaga

Respons Keluhan Petani Singkong di Lampung, Mentan Amran Siap Kawal Regulasi Tata Niaga

Kementan
Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Amran Gandeng 3 Bupati Sulsel Kembangkan Kopi dan Kakao

Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Amran Gandeng 3 Bupati Sulsel Kembangkan Kopi dan Kakao

Kementan
Beras Nasional Surplus 3,7 Juta Ton, Mentan Amran: Hasil Kerja Keras Petani

Beras Nasional Surplus 3,7 Juta Ton, Mentan Amran: Hasil Kerja Keras Petani

Kementan
Mendag : Ekspor Hortikultura Naik 49 Persen Semester I 2025, Indonesia Tekan Impor dan Tingkatkan Ekspor

Mendag : Ekspor Hortikultura Naik 49 Persen Semester I 2025, Indonesia Tekan Impor dan Tingkatkan Ekspor

Kementan
Sejalan dengan Prabowoisme, Wamentan Dukung Tani Merdeka Indonesia

Sejalan dengan Prabowoisme, Wamentan Dukung Tani Merdeka Indonesia

Kementan
Soal Framing Negatif Mentan Amran, PP KAMMI: Publik Harus Menilai sesuai Fakta dan Data

Soal Framing Negatif Mentan Amran, PP KAMMI: Publik Harus Menilai sesuai Fakta dan Data

Kementan
Lawan Mafia Pangan, Ini Upaya Mentan Jaga Kesejahteraan Petani

Lawan Mafia Pangan, Ini Upaya Mentan Jaga Kesejahteraan Petani

Kementan
Komisi IV DPR RI Apresiasi Mentan Amran, Produksi Pangan Naik hingga Serapan Bulog Capai 4 Juta Ton

Komisi IV DPR RI Apresiasi Mentan Amran, Produksi Pangan Naik hingga Serapan Bulog Capai 4 Juta Ton

Kementan
Harga Beras Turun di 13 Provinsi, Mentan Amran Yakin Stabilitas Berlanjut

Harga Beras Turun di 13 Provinsi, Mentan Amran Yakin Stabilitas Berlanjut

Kementan
Berkat Dukungan Kementan, Panen Padi Gadu di Lampung Timur Menguntungkan Petani

Berkat Dukungan Kementan, Panen Padi Gadu di Lampung Timur Menguntungkan Petani

Kementan
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com