Hadapi Krisis Pangan Global, Mentan SYL Komitmen Tingkatkan Produksi Pangan

Kompas.com - 25/01/2023, 16:58 WIB
DWN,
A P Sari

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) memastikan pihaknya akan terus memaksimalkan peningkatan produksi pangan di Indonesia.

Hal tersebut dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai upaya mengatasi tantangan pangan yang dinilai semakin berat, terutama saat terjadi krisis dunia.

"Apapun yang terjadi besok, Indonesia tidak boleh bersoal karena masih tersedianya pangan buat rakyat. Kami tidak bisa main-main dengan kepentingan rakyat," kata SYL dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (25/1/2023).

Pernyataan tersebut disampaikan SYL saat membuka kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pembangunan Pertanian Tahun 2023 di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (25/1/2023).

SYL mengungkapkan, Kementan akan tetap menjalankan berbagai program peningkatan produksi pangan yang selama ini telah berjalan dengan baik guna menghadapi potensi krisis pangan global.

Baca juga: Di Tengah Krisis Pangan Global, Mentan SYL Sebut KUR Jadi Solusi Permodalan Petani

Tak hanya menjalankan, kata SYL, Kementan akan terus memberikan perhatian serius untuk sejumlah program.

Program yang dimaksud, pertama, meningkatkan kapasitas produksi pangan untuk komoditas pengendali inflasi, seperti cabai dan bawang merah. Kemudian, mengurangi impor, seperti kedelai, jagung, gula tebu, dan daging sapi.

Kedua, mengembangkan pangan substitusi impor, seperti ubi kayu, sorgum, dan sagu untuk substitusi gandum, serta domba atau kambing dan itik untuk substitusi daging sapi,” ujar SYL.

Ketiga, lanjut dia, meningkatkan ekspor, seperti sarang burung walet, porang, ayam, dan telur.

Pada kesempatan tersebut, SYL mengaku bersyukur atas berbagai capaian sektor pertanian pada tiga tahun terakhir.

Baca juga: Gorontalo Jajaki Kerja Sama Sektor Pertanian dengan Malaysia

“Sektor pertanian masih tetap konsisten tumbuh positif setelah melalui upaya keras dengan melakukan penyesuaian berbagai strategi, program, dan kegiatan di tengah pandemi Covid-19,” ucapnya.

SYL mencontohkan pertumbuhan positif sektor pertanian terjadi pada triwulan II-2020. Produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian diketahui tumbuh positif 16,24 persenquarter to quarter (qtoq) dan terus berlanjut pada 2022.

Selain itu, tutur SYL, nilai tukar petani (NTP) juga terus membaik. Bahkan, nominal NTP pada penutupan 2022 (Desember 2022) mencapai angka 109,0.

”Semoga peran penting sektor pertanian sebagai bantalan ekonomi nasional semakin nyata dalam menghadapi krisis pangan dunia ke depan,” jelas SYL.

Baca juga: 4 Pesan Jokowi Saat Buka KTT G20, dari Krisis Pangan hingga Perang

Pertanian topang berbagai lini kehidupan

Pada kesempatan yang sama, Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI) Ma’ruf Amin mengatakan bahwa sektor pertanian merupakan sektor unggulan dalam menopang berbagai lini kehidupan.

Sektor pertanian, kata dia, juga diyakini mampu mengatasi inflasi akibat krisis dunia yang terus berganti, seperti pandemi Covid-19 hingga perang Rusia dan Ukraina.

"Seperti yang saudara tahu bahwa sektor pertanian ini merupakan salah satu sektor unggulan kita dan selama ini selalu surplus. Selama ini, bahkan kita mendapatkan penghargaan dari internasional,” jelas Ma’ruf.

Oleh karena itu, lanjut dia, Indonesia harus mempertahankan dan meningkatkan produk pertanian dengan berbagai upaya guna menghadapi tantangan, seperti krisis pangan global.

Tak lupa, Ma’ruf memberikan apresiasi terhadap capaian dan kinerja jajaran Kementan yang dinilai mampu menjaga kondisi pangan Indonesia saat krisis dunia melanda.

Baca juga: Wapres Minta Kementan Giatkan Diversifikasi Pangan

“Saya memberikan apresiasi buat teman-teman pertanian dan untuk jajaran Kementan yang selama ini telah menjaga dan mempertahankan pertanian Indonesia," katanya.

Selain itu, Ma’ruf juga mengapresiasi kolaborasi dan semangat kerja petani dalam meningkatkan produksi padi pada tiga tahun terakhir.

Ia menyebutkan, produksi padi Indonesia mulai dari 2019 hingga 2021 sukses mewujudkan swasembada beras dengan berhenti mengimpor dari luar negeri.

"Terima kasih karena pertanian dan pangan Indonesia dipandang tangguh dan berhasil mencapai swasembada beras selama 2019-2021 dan kita mendapatkan penghargaan dari international," imbuh Ma’ruf.

Ia meminta agar capaian tersebut tidak hanya dipertahankan tetapi juga ditingkatkan demi kemandirian pangan yang berkelanjutan dan kesejahteraan nyata bagi masyarakat dan para petani.

Baca juga: Harga Anjlok hingga Rp 700, Tomat Milik Petani di Magetan Dibiarkan Tak Dipanen

Sebelumnya, Ma’ruf menjelaskan bahwa produksi pangan Indonesia dari tahun ke tahun berada dalam kondisi cukup dan cenderung mengalami surplus.

Hal itu mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai lembaga negara yang diatur undang-undang (UU) dalam mengelola data.

“Hanya saja, produksi pertanian memang perlu ditingkatkan untuk menghadapi berbagai tantangan dan ancaman krisis dunia,” tutur Ma’ruf.

Ia mengungkapkan bahwa sebetulnya Indonesia masih dalam kondisi surplus pada 2022. Menurut Ma’ruf, hal ini tidak menjadi masalah.

Baca juga: Cegah Krisis Pangan, Mahasiswa Tel-U AJak Gen Z Makan Tanpa Sisa

Ia menilai bahwa kenaikan harga beras terjadi karena adanya pengaruh dari krisis pangan global.

“Hanya saja memang kalau istilah itu (produksi perlu ditingkatkan) untuk jaga-jaga saja kalau terjadi apa-apa. Dan data kita cuma satu, data BPS. UU menetapkan data negara itu data BPS," kata Ma’ruf.

Terkini Lainnya
Kementan Komitmen Jaga Stabilitas Harga dan Tingkatkan Produktivitas Petani, Pengamat Beri Respons Positif

Kementan Komitmen Jaga Stabilitas Harga dan Tingkatkan Produktivitas Petani, Pengamat Beri Respons Positif

Kementan
Pakar Pangan Universitas Andalas: Kepastian Harga Pemerintahan Prabowo Bikin Petani Senang

Pakar Pangan Universitas Andalas: Kepastian Harga Pemerintahan Prabowo Bikin Petani Senang

Kementan
DJBC Catat Tak Ada Impor Beras dan Jagung, Kinerja Bea Masuk Turun 5,1 Persen

DJBC Catat Tak Ada Impor Beras dan Jagung, Kinerja Bea Masuk Turun 5,1 Persen

Kementan
Kepuasan Petani terhadap Kinerja Kementan Capai 84 Persen

Kepuasan Petani terhadap Kinerja Kementan Capai 84 Persen

Kementan
Mentan: Jika Tidak Ada Aral Melintang, 3 Bulan Lagi Indonesia Swasembada Beras

Mentan: Jika Tidak Ada Aral Melintang, 3 Bulan Lagi Indonesia Swasembada Beras

Kementan
Respons Keluhan Petani Singkong di Lampung, Mentan Amran Siap Kawal Regulasi Tata Niaga

Respons Keluhan Petani Singkong di Lampung, Mentan Amran Siap Kawal Regulasi Tata Niaga

Kementan
Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Amran Gandeng 3 Bupati Sulsel Kembangkan Kopi dan Kakao

Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Amran Gandeng 3 Bupati Sulsel Kembangkan Kopi dan Kakao

Kementan
Beras Nasional Surplus 3,7 Juta Ton, Mentan Amran: Hasil Kerja Keras Petani

Beras Nasional Surplus 3,7 Juta Ton, Mentan Amran: Hasil Kerja Keras Petani

Kementan
Mendag : Ekspor Hortikultura Naik 49 Persen Semester I 2025, Indonesia Tekan Impor dan Tingkatkan Ekspor

Mendag : Ekspor Hortikultura Naik 49 Persen Semester I 2025, Indonesia Tekan Impor dan Tingkatkan Ekspor

Kementan
Sejalan dengan Prabowoisme, Wamentan Dukung Tani Merdeka Indonesia

Sejalan dengan Prabowoisme, Wamentan Dukung Tani Merdeka Indonesia

Kementan
Soal Framing Negatif Mentan Amran, PP KAMMI: Publik Harus Menilai sesuai Fakta dan Data

Soal Framing Negatif Mentan Amran, PP KAMMI: Publik Harus Menilai sesuai Fakta dan Data

Kementan
Lawan Mafia Pangan, Ini Upaya Mentan Jaga Kesejahteraan Petani

Lawan Mafia Pangan, Ini Upaya Mentan Jaga Kesejahteraan Petani

Kementan
Komisi IV DPR RI Apresiasi Mentan Amran, Produksi Pangan Naik hingga Serapan Bulog Capai 4 Juta Ton

Komisi IV DPR RI Apresiasi Mentan Amran, Produksi Pangan Naik hingga Serapan Bulog Capai 4 Juta Ton

Kementan
Harga Beras Turun di 13 Provinsi, Mentan Amran Yakin Stabilitas Berlanjut

Harga Beras Turun di 13 Provinsi, Mentan Amran Yakin Stabilitas Berlanjut

Kementan
Berkat Dukungan Kementan, Panen Padi Gadu di Lampung Timur Menguntungkan Petani

Berkat Dukungan Kementan, Panen Padi Gadu di Lampung Timur Menguntungkan Petani

Kementan
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com