Kurangi Impor, Pengembangan Komoditas Substitusi Harus Lekas Dilakukan

Kompas.com - 19/02/2020, 19:21 WIB
Anggara Wikan Prasetya

Penulis

KOMPAS.com – Pengembangan komoditas pangan sibstitusi impor merupakan hal yang penting untuk segera dilakukan dalam rangka mengurangi ketergantungan pada negara lain.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) Andi Syakir saat bertemu Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Hasyim Limpo.

Pertemuan tersebut berlangsung di Agriculture War Room (AWR) Kementerian Pertanian ( Kementan), Selasa (18/2/2020).

“Setidaknya, ada 15 komoditas pangan strategis yang saat ini masih bergantung kepada impor dengan tingkat ketergantungan 30-100 persen,” ujar Andi dalam keterangan tertulis.

Baca juga: Ini Upaya Kementan Jaga Pasokan dan Harga Pangan hingga Lebaran

Ia melanjutkan, ke-15 komoditas itu di antaranya bawang putih, gandum, dan gula yang sejatinya dapat dihasilkan dari sumber daya dalam negeri.

“Kuncinya adalah pewilayahan, dukungan sarana produksi, pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan penerapan teknologi yang tepat,” imbuh Andi.

Dampak virus corona pada komoditas pangan

Sementara itu, Menteri Syahrul mengatakan jika saat ini dunia pertanian tengah dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang karena wabah virus corona.

“Salah satu raksasa dunia di bidang pertanian, yakni China sedang menhadapi tekanan ekonomi yang luar biasa,” kata dia.

Menurut Syahrul, ekonomi China yang tahun ini diprediksi tumbuh 5,2 persen akan berdampak pada negara lain, sehingga harus diantisipasi bersama.

“Bagaimana kita bisa membuka peluang pasar internasional baru bagi produk pertanian kita, atau bahkan memenuhi kebutuhan pangan dari dalam negeri,” kata Mentan.

Baca juga: Ditjen PSP Kementan Bahas Pengelolaan Anggaran 2020, Ini Hasilnya

Syahrul juga mengatakan jika membangun pertanian merupakan tanggung jawab bersama yang butuh kerja kolaboratif dengan mengesampingkan ego sektoral.

Peragi pun, imbuh dia, tidak boleh hanya berhenti pada tataran teori. Peran dan kontribusi Peragi harus strategis dan implementatif karena Kementan juga butuh masukan dan saran.

Pada kesempatan itu, Menteri Syahrul dikukuhkan Peragi menjadi anggota kehormatan dengan penyematan pin emas Peragi.

“Terima kasih dan saya mengapresiasi. Sungguh, ini benar-benar sebuah kehormatan,” kata Menteri Pertanian.

Baca juga: Stabilkan Harga, Kementan Gelontorkan Cabai di 6 Pasar DKI

Ia pun lantas mengajak Peragi untuk membuat dan membahas konsepsi untuk mencari solusi bagaimana menyediakan 300.000 ton daging dan gula yang selama ini masih diimpor.

Peragi sendiri merupakan organisasi profesi ahli agronomi yang didirikan 9 Agustus 1977 di Bogor dengan jaringan luas di tiap provinsi dan kabupaten se-Indonesia.

Anggota Peragi berasal dari para peneliti di perguruan tinggi dan lembaga litbang, birokrasi pusat dan daerah, pelaku bisnis swasta, serta wirausaha. Ada pula pendiri Startup dari milenial.

Terkini Lainnya
Kementan Komitmen Jaga Stabilitas Harga dan Tingkatkan Produktivitas Petani, Pengamat Beri Respons Positif

Kementan Komitmen Jaga Stabilitas Harga dan Tingkatkan Produktivitas Petani, Pengamat Beri Respons Positif

Kementan
Pakar Pangan Universitas Andalas: Kepastian Harga Pemerintahan Prabowo Bikin Petani Senang

Pakar Pangan Universitas Andalas: Kepastian Harga Pemerintahan Prabowo Bikin Petani Senang

Kementan
DJBC Catat Tak Ada Impor Beras dan Jagung, Kinerja Bea Masuk Turun 5,1 Persen

DJBC Catat Tak Ada Impor Beras dan Jagung, Kinerja Bea Masuk Turun 5,1 Persen

Kementan
Kepuasan Petani terhadap Kinerja Kementan Capai 84 Persen

Kepuasan Petani terhadap Kinerja Kementan Capai 84 Persen

Kementan
Mentan: Jika Tidak Ada Aral Melintang, 3 Bulan Lagi Indonesia Swasembada Beras

Mentan: Jika Tidak Ada Aral Melintang, 3 Bulan Lagi Indonesia Swasembada Beras

Kementan
Respons Keluhan Petani Singkong di Lampung, Mentan Amran Siap Kawal Regulasi Tata Niaga

Respons Keluhan Petani Singkong di Lampung, Mentan Amran Siap Kawal Regulasi Tata Niaga

Kementan
Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Amran Gandeng 3 Bupati Sulsel Kembangkan Kopi dan Kakao

Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Amran Gandeng 3 Bupati Sulsel Kembangkan Kopi dan Kakao

Kementan
Beras Nasional Surplus 3,7 Juta Ton, Mentan Amran: Hasil Kerja Keras Petani

Beras Nasional Surplus 3,7 Juta Ton, Mentan Amran: Hasil Kerja Keras Petani

Kementan
Mendag : Ekspor Hortikultura Naik 49 Persen Semester I 2025, Indonesia Tekan Impor dan Tingkatkan Ekspor

Mendag : Ekspor Hortikultura Naik 49 Persen Semester I 2025, Indonesia Tekan Impor dan Tingkatkan Ekspor

Kementan
Sejalan dengan Prabowoisme, Wamentan Dukung Tani Merdeka Indonesia

Sejalan dengan Prabowoisme, Wamentan Dukung Tani Merdeka Indonesia

Kementan
Soal Framing Negatif Mentan Amran, PP KAMMI: Publik Harus Menilai sesuai Fakta dan Data

Soal Framing Negatif Mentan Amran, PP KAMMI: Publik Harus Menilai sesuai Fakta dan Data

Kementan
Lawan Mafia Pangan, Ini Upaya Mentan Jaga Kesejahteraan Petani

Lawan Mafia Pangan, Ini Upaya Mentan Jaga Kesejahteraan Petani

Kementan
Komisi IV DPR RI Apresiasi Mentan Amran, Produksi Pangan Naik hingga Serapan Bulog Capai 4 Juta Ton

Komisi IV DPR RI Apresiasi Mentan Amran, Produksi Pangan Naik hingga Serapan Bulog Capai 4 Juta Ton

Kementan
Harga Beras Turun di 13 Provinsi, Mentan Amran Yakin Stabilitas Berlanjut

Harga Beras Turun di 13 Provinsi, Mentan Amran Yakin Stabilitas Berlanjut

Kementan
Berkat Dukungan Kementan, Panen Padi Gadu di Lampung Timur Menguntungkan Petani

Berkat Dukungan Kementan, Panen Padi Gadu di Lampung Timur Menguntungkan Petani

Kementan
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com