Stabilkan Harga Bawang Merah, Kementan Gelar Operasi Pasar

Kompas.com - 05/04/2019, 12:45 WIB
ADW,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Untuk merespons harga bawang yang tinggi beberapa hari terakhir, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat dengan melakukan kegiatan operasi pasar.

Menurut Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hortikultura, Kementan Yasid Taufik, langkah tersebut merupakan merupakan respons spontanitas kepedulian pemerintah terhadap harga kebutuhan pokok, khususnya bawang merah.

“Salah satu langkah konkrit yang kami lakukan adalah operasi pasar. Ini ikhtiar membantu mempercepat stabilisasi harga bawang merah supaya normal kembali," ujar Yasid dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (5/4/2019).

Lebih lanjut, Yasid menambahkan, operasi pasar akan diadakan secara rutin sampai harga stabil. Dengan harga operasi pasar, para mitra dan eksportir masih bisa untung karena mereka tidak hanya mengandalkan pasokan dari satu tempat saja.

Dalam situasi seperti sekarang, Yasid menghimbau pedagang jangan coba-coba menimbun bawang merah maupun bawang putih. Sebab, mereka sudah bekerja sama dengan satgas pangan untuk mengamankan pasokan.

Terkait operasi pasar, pada Jumat (5/4/2019), Kementan kembali menggelar Operasi Pasar di Pasar Induk Kramat Jati dan beberapa pasar di Jakarta dan Surabaya.

Menurut Yasid, pasokan bawang merah ke Pasar Induk Kramat Jati sebenarnya sudah kembali normal. Tingginya harga di tingkat retail lebih disebabkan karena pedagang eceran masih menjual bawang merah stok lama.

“Pedagang eceran belinya juga sudah tinggi, jadi wajar kalau mereka habiskan stok dengan harga yang tinggi juga,” terangnya.

Yasid memastikan tingginya harga bawang tidak akan berlangsung lama karena harga di pasar induk sudah mulai turun. Selain itu, pasokan juga aman dengan masuknya 30 truk bawang merah per hari.

"Harga sudah mulai turun seribu hingga dua ribu, apalagi dibantu sama operasi pasar sekarang, tentu akan makin turun lagi," katanya.

Sementara itu, Kepala Sub Direktorat Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementan Wiwi Sutiwi menjelaskan, tujuan operasi pasar ini untuk menstabilkan harga bawang merah dan bawang putih di pasaran cukup tinggi.

Sebelum operasi pasar di Pasar Induk Kramat Jati, tercatat harga bawang putih mencapai Rp 32.000 sampai Rp 35.000 per kg dan bawang merah Rp 40.000 per kg.

"Di operasi pasar hari ini, bawang merah dijual Rp 20.000 per kg dan bawang putih harga Rp 18.000 per kg. Jadi, harga kami pastikan segera stabil," kata Wiwi.

Gandeng eksportir

Pada operasi pasar kali ini, Kementan menggelontorkan 38 ton lebih bawang merah dengan menggandeng sejumlah eksportir bawang merah.

Direktur PT. Revi Makmur Sentosa Brebes, Beni Santoso mengaku tergerak untuk berpartisipasi dalam kegiatan Operasi Pasar yang diinisiasi Kementerian Pertanian. Menurut dia, saat ini bukannya tidak ada barang, tapi memang ada pengurangan stok di Brebes akibat panen sedikit mundur.

"Pasokan bawang merah masih bisa ambil dari Madura, Bima, Probolinggo, Demak dan Kendal. Stok di gudang kami keluarkan untuk bantu operasi pasar ini. Mudah-mudahan membantu masyarakat," terang Beni.

Senada dengan Beni, Direktur Bawang Mas 99 Surabaya Herry Thio menyambut baik ajakan Kementan untuk menggelar Operasi Pasar Bawang Merah dengan harga lebih murah. Menurut Herry, pihaknya setiap tahun rutin mengekspor bawang merah.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat mengunjungi petani bawang merah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Jumat (29/03/2019)Dok. Humas Kementerian Pertanian RI Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat mengunjungi petani bawang merah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Jumat (29/03/2019)

“Saat harga seperti sekarang, kami ingin berpartisipasi membantu stabilkan harga. Kami libatkan mitra usaha lain untuk mendukung Operasi Pasar ini," ujar Herry.

Musim tanam mundur

Terkait tingginya harga bawang, Wiwi menjelaskan, penyebab kenaikan harga dua komoditas tersebut adalah musim tanam yang mundur akibat musim hujan. Namun, stok bawang merah bulan April ini aman, bahkan melebihi kebutuhan.

Sebab, petani tengah melangsungkan panen raya yang mencapai 9.00p hektar (ha) lebih dengan potensi produksi mencapai 90.000 ton.

"Karena itu, Kementan memastikan tanaman bawang merah masih sangat luas, bahkan sebagian sudah siap panen," jelasnya.

Selain dipasok dari Brebes, terdapat beberapa daerah lain yang panen di bulan April, seperti Probolinggo, Bandung, Garut, Sukabumi, Bima, Sumbawa, Kendal, Demak, Majalengka, Cirebon, hingga Nganjuk dan Solok.

“Jadi tidak ada alasan nantinya harga naik, kami pastikan stabil," jelas Wiwi.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Sayuran Tanaman Obat Moh Ismail Wahab disela kunjungan kerjanya di Indramayu.

Dia menegaskan, berkurangnya pasokan bawang merah saat ini lebih disebabkan waktu panen mundur beberapa minggu di sentra terbesar Brebes.

Saat penanaman di Brebes berkurang, jelas Ismail, penanaman di daerah penyangga meluas ke Demak, Kendal, Pemalang, Tegal dan Cirebon.

Ismail menambahkan, petani Kabupaten Kendal siap panen 350 ha, Demak 1.600 ha pertengahan April ini. Brebes dan sentra lainnya juga tengah bersiap untuk panen.

"Seiring pasokan yang makin banyak, harga mestinya ikut tergerek stabil,” katanya.

Menurut Ismail, sebagai komoditas non substitusi, kenaikan harga bahan bawang merah cukup meresahkan masyarakat dan menurunkan daya beli. Apalagi disparitas harga di tingkat petani dan pedagang cukup tinggi.

"Untuk itu, pemerintah berperan di sini agar tidak ada yang berani berspekulasi. Kami bantu dengan operasi pasar bawang merah, baik untuk konsumsi di pasar Jakarta dan Surabaya, maupun untuk benih di Indramayu. Harga benihnya hanya Rp 23.000 per kg," pungkasnya.

Terkini Lainnya
Kementan Komitmen Jaga Stabilitas Harga dan Tingkatkan Produktivitas Petani, Pengamat Beri Respons Positif

Kementan Komitmen Jaga Stabilitas Harga dan Tingkatkan Produktivitas Petani, Pengamat Beri Respons Positif

Kementan
Pakar Pangan Universitas Andalas: Kepastian Harga Pemerintahan Prabowo Bikin Petani Senang

Pakar Pangan Universitas Andalas: Kepastian Harga Pemerintahan Prabowo Bikin Petani Senang

Kementan
DJBC Catat Tak Ada Impor Beras dan Jagung, Kinerja Bea Masuk Turun 5,1 Persen

DJBC Catat Tak Ada Impor Beras dan Jagung, Kinerja Bea Masuk Turun 5,1 Persen

Kementan
Kepuasan Petani terhadap Kinerja Kementan Capai 84 Persen

Kepuasan Petani terhadap Kinerja Kementan Capai 84 Persen

Kementan
Mentan: Jika Tidak Ada Aral Melintang, 3 Bulan Lagi Indonesia Swasembada Beras

Mentan: Jika Tidak Ada Aral Melintang, 3 Bulan Lagi Indonesia Swasembada Beras

Kementan
Respons Keluhan Petani Singkong di Lampung, Mentan Amran Siap Kawal Regulasi Tata Niaga

Respons Keluhan Petani Singkong di Lampung, Mentan Amran Siap Kawal Regulasi Tata Niaga

Kementan
Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Amran Gandeng 3 Bupati Sulsel Kembangkan Kopi dan Kakao

Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Amran Gandeng 3 Bupati Sulsel Kembangkan Kopi dan Kakao

Kementan
Beras Nasional Surplus 3,7 Juta Ton, Mentan Amran: Hasil Kerja Keras Petani

Beras Nasional Surplus 3,7 Juta Ton, Mentan Amran: Hasil Kerja Keras Petani

Kementan
Mendag : Ekspor Hortikultura Naik 49 Persen Semester I 2025, Indonesia Tekan Impor dan Tingkatkan Ekspor

Mendag : Ekspor Hortikultura Naik 49 Persen Semester I 2025, Indonesia Tekan Impor dan Tingkatkan Ekspor

Kementan
Sejalan dengan Prabowoisme, Wamentan Dukung Tani Merdeka Indonesia

Sejalan dengan Prabowoisme, Wamentan Dukung Tani Merdeka Indonesia

Kementan
Soal Framing Negatif Mentan Amran, PP KAMMI: Publik Harus Menilai sesuai Fakta dan Data

Soal Framing Negatif Mentan Amran, PP KAMMI: Publik Harus Menilai sesuai Fakta dan Data

Kementan
Lawan Mafia Pangan, Ini Upaya Mentan Jaga Kesejahteraan Petani

Lawan Mafia Pangan, Ini Upaya Mentan Jaga Kesejahteraan Petani

Kementan
Komisi IV DPR RI Apresiasi Mentan Amran, Produksi Pangan Naik hingga Serapan Bulog Capai 4 Juta Ton

Komisi IV DPR RI Apresiasi Mentan Amran, Produksi Pangan Naik hingga Serapan Bulog Capai 4 Juta Ton

Kementan
Harga Beras Turun di 13 Provinsi, Mentan Amran Yakin Stabilitas Berlanjut

Harga Beras Turun di 13 Provinsi, Mentan Amran Yakin Stabilitas Berlanjut

Kementan
Berkat Dukungan Kementan, Panen Padi Gadu di Lampung Timur Menguntungkan Petani

Berkat Dukungan Kementan, Panen Padi Gadu di Lampung Timur Menguntungkan Petani

Kementan
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com