Kementan Minta Bulog Jaga Stabilitas Harga Jagung

Kompas.com - 03/03/2019, 18:35 WIB
ADW,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian ( Kementan), Andriko Noto Susanto meminta Badan Urusan Logistik (Bulog) hadir di tengah-tengah petani untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan jagung.

"Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan harga acuan pembelian di tingkat produsen dan konsumen melalui Permendag 96/2018. Dalam hal ini Bulog mesti bergerak cepat manakala harga jagung di petani turun dibawah harga acuan" ucap Andriko seperti dalam keterangan tertulis yang Kompas.com terima, Minggu (3/3/2019).

Selain Bulog, menurut dia, ada cara lain yang dapat juga dilakukan untuk menjaga harga jagung saat masa panen raya seperti saat ini.

Salah satunya dengan menjual langsung jagung yang telah dipanen ke pabrik pakan. Menurut Andriko, beberapa pabrik sebenarnya sudah melakukan pembelian secara langsung.

Dia pun berharap, transaksi pembelian itu lebih ditingkatkan lagi, mengingat margin yang cukup besar.

"Sudah saatnya petani melalui poktan atau gapoktan menjual jagung hasil panen langsung ke pabrik pakan agar pendapatannya bertambah. Hal ini karena perbedaan harganya tinggi antara harga di petani dengan di pabrik pakan, yakni sekitar Rp 700-800 per kilogram," katanya.

Masa panen raya

Permintaan Andriko agar Bulog hadir dan menjaga stabilitas harga pangan tidak berlebihan. Sebab, saat ini di beberapa wilayah tengah memasuki masa panen raya jagung. Salah satunya adalah Pacitan, Jawa Timur.

Menurut Bupati Pacitan Indartato, provitas lahan jagung rata-rata 6-7 ton per hektar (ha) dan saat panen raya diperkirakan tersedia sekitar 70.000 ton jagung.

“Diperkirakan panen jagung di Pacitan mencapai 7.000 ha. Sedangkan sisanya sekitar 5.000 haakan habis dalam 2 minggu ke depan,” terang Indartato saat ikut memanen jagung di Dusun Mrayung, Desa Ploso, Kecamatan Punung, Jumat (01/03/2019).

Alih-alih gembira, petani masih dihinggapi rasa was-was jika harga jagung terus menerus jatuh. Kekhawatiran itu sangat beralasan, mengingat harga pipilan kering sudah menyentuh Rp 3.200-3.300 per kg.

"Padahal 2 minggu sebelumnya masih Rp 3.600-3.800 per kilogram. Jadi, permintaan saya mewakili para petani jagung cuma satu, yaitu harga jagung tetap stabil saat panen raya," ujar Indartato.

Salah satu cara menjaga stabilitas harga jagung adalah dengan menjual langsung hasil panen ke pabrik pakanDok. Humas Kementerian Pertanian Salah satu cara menjaga stabilitas harga jagung adalah dengan menjual langsung hasil panen ke pabrik pakan
Selain Pacitan, panen raya juga terjadi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Di sini, masa panen diperkirakan berlangsung selama satu bulan. Mulai dari pertengahan Februari hingga pertengahan Maret.

"Sama halnya seperti di Pacitan, untuk mencegah harga jagung jatuh maka perlu sinergi antar lembaga baik pemerintah maupun swasta," ujar Andriko.

Wilayah Ponorogo sendiri merupakan salah satu sentra produksi jagung terbesar di Jawa Timur yang sekarang sedang memasuki puncak panen raya.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perikanan Kabupaten Ponorogo, Harmanto menjelaskan, luas panen jagung periode Februari-Maret 2019 kurang lebih mencapai 23.398 ha, di mana luas panen februari 15.921 ha dan maret 7.478 ha.

"Sampai saat ini luas panen jagung di Ponogoro baru sekitar 9.000 ha, artinya masih ada sisa sekitar 14.000 ha yang akan dipanen sampai dua pekan ke depan," terang dia.

Terkait peningkatan produksi dan provitas jagung di Ponorogo, Ketua Kelompok Tani LMPSDH Wonorejo Setijo Budi mengatakan, hal itu tidak lepas dari berbagai bantuan Kementan. Baik berupa benih, pupuk, alsintan dan bimbingan penyuluhan.

Sebagai informasi, Kementan memberikan bantuan berupa 33 traktor roda dua, 21 unit traktor roda empat, 185 unit pompa air, 10 unit corn planter, 22 unit rice trans, 99 unit hand sprayer, 21 unit cultivator pada 2018 lalu.

Sementara itu, menurut Setijo, produksi jagung di wilayah Jawa Timur bisa sangat melimpah karena didukung produktivitas yang cukup tinggi.

Dia menjelaskan, provitas Jagung di wilayah Sidoarjo yang monokultur bisa mencapai 10-12 ton per ha. Sedangkan di wilayah lainnya dengan sistem tumpangsari berkisar 7-9 ton perha.

"Jadi kami protes keras jika provitas jagung di Ponorogo hanya disebut 4-5 ton per ha, itu gak mungkin, bisa bangkrut petani,” terang Setijo.

Terkini Lainnya
Kementan Komitmen Jaga Stabilitas Harga dan Tingkatkan Produktivitas Petani, Pengamat Beri Respons Positif

Kementan Komitmen Jaga Stabilitas Harga dan Tingkatkan Produktivitas Petani, Pengamat Beri Respons Positif

Kementan
Pakar Pangan Universitas Andalas: Kepastian Harga Pemerintahan Prabowo Bikin Petani Senang

Pakar Pangan Universitas Andalas: Kepastian Harga Pemerintahan Prabowo Bikin Petani Senang

Kementan
DJBC Catat Tak Ada Impor Beras dan Jagung, Kinerja Bea Masuk Turun 5,1 Persen

DJBC Catat Tak Ada Impor Beras dan Jagung, Kinerja Bea Masuk Turun 5,1 Persen

Kementan
Kepuasan Petani terhadap Kinerja Kementan Capai 84 Persen

Kepuasan Petani terhadap Kinerja Kementan Capai 84 Persen

Kementan
Mentan: Jika Tidak Ada Aral Melintang, 3 Bulan Lagi Indonesia Swasembada Beras

Mentan: Jika Tidak Ada Aral Melintang, 3 Bulan Lagi Indonesia Swasembada Beras

Kementan
Respons Keluhan Petani Singkong di Lampung, Mentan Amran Siap Kawal Regulasi Tata Niaga

Respons Keluhan Petani Singkong di Lampung, Mentan Amran Siap Kawal Regulasi Tata Niaga

Kementan
Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Amran Gandeng 3 Bupati Sulsel Kembangkan Kopi dan Kakao

Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Amran Gandeng 3 Bupati Sulsel Kembangkan Kopi dan Kakao

Kementan
Beras Nasional Surplus 3,7 Juta Ton, Mentan Amran: Hasil Kerja Keras Petani

Beras Nasional Surplus 3,7 Juta Ton, Mentan Amran: Hasil Kerja Keras Petani

Kementan
Mendag : Ekspor Hortikultura Naik 49 Persen Semester I 2025, Indonesia Tekan Impor dan Tingkatkan Ekspor

Mendag : Ekspor Hortikultura Naik 49 Persen Semester I 2025, Indonesia Tekan Impor dan Tingkatkan Ekspor

Kementan
Sejalan dengan Prabowoisme, Wamentan Dukung Tani Merdeka Indonesia

Sejalan dengan Prabowoisme, Wamentan Dukung Tani Merdeka Indonesia

Kementan
Soal Framing Negatif Mentan Amran, PP KAMMI: Publik Harus Menilai sesuai Fakta dan Data

Soal Framing Negatif Mentan Amran, PP KAMMI: Publik Harus Menilai sesuai Fakta dan Data

Kementan
Lawan Mafia Pangan, Ini Upaya Mentan Jaga Kesejahteraan Petani

Lawan Mafia Pangan, Ini Upaya Mentan Jaga Kesejahteraan Petani

Kementan
Komisi IV DPR RI Apresiasi Mentan Amran, Produksi Pangan Naik hingga Serapan Bulog Capai 4 Juta Ton

Komisi IV DPR RI Apresiasi Mentan Amran, Produksi Pangan Naik hingga Serapan Bulog Capai 4 Juta Ton

Kementan
Harga Beras Turun di 13 Provinsi, Mentan Amran Yakin Stabilitas Berlanjut

Harga Beras Turun di 13 Provinsi, Mentan Amran Yakin Stabilitas Berlanjut

Kementan
Berkat Dukungan Kementan, Panen Padi Gadu di Lampung Timur Menguntungkan Petani

Berkat Dukungan Kementan, Panen Padi Gadu di Lampung Timur Menguntungkan Petani

Kementan
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com