Simak, Enam Strategi Kementan untuk Regenerasi Petani

Josephus Primus
Kompas.com - Senin, 27 November 2017
Brigadir Esa Prasetyo membagikan pupuk cair organik kepada petani di dekat rumahnya di Desa Alue Liem, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Jumat (17/11/2017).KOMPAS.COM/MASRIADI SAMBO Brigadir Esa Prasetyo membagikan pupuk cair organik kepada petani di dekat rumahnya di Desa Alue Liem, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Jumat (17/11/2017).

KOMPAS.com - Dalam mengoptimalkan program pembangunan pertanian, sumber daya manusia mempunyai peranan penting. Utamanya, untuk menyusun perencanaan pembangunan pertanian secara efektif dan efisien.  

"Faktor kekuatan sumber daya manusia atau ketenagakerjaan sangat penting dalam menggerakkan roda pembangunan nasional Indonesia," kata Agung Hendriadi, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian dalam orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-63 Fakultas Pertanian Universitas Andalas, di Padang, Sumatera Barat, Senin (27/11/2017).

Lebih lanjut, kata Agung, BPS merilis bahwa angkatan tenaga kerja menurut umur dari tahun 2008 hingga 2017 mengalami peningkatan. Pada 2017, angkatan kerja usia 30-44 tahun mendominasi dengan jumlah 45,8 juta jiwa, disusul usia 45-59 tahun sejumlah 33,3 juta jiwa.

Di sisi lain, penyerapan tenaga kerja pertanian cenderung menurun tajam dan jumlahnya cukup signifikan yaitu 33,51 persen, disusul perdagangan (22,54 persen), jasa (16,54 persen), dan sektor industri (13,12 persen).

Di hadapan civitas akademika dan undangan lainnya, Agung memaparkan generasi muda saat ini lebih tertarik ke sektor industri dan jasa karena beberapa faktor. Pertama, penghasilan tenaga kerja di sektor pertanian lebih rendah dibandingkan dengan sektor industri dan jasa

Kedua, sektor industri dan jasa lebih menjanjikan jenjang karir yang lebih pasti.

Ketiga, petani tidak ingin generasi penerusnya menjadi petani.

Keempat, banyaknya konversi lahan yang menunjukkan usaha pertanian tidak ekonomis.

Kelima, tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menjalankan agribisnis, termasuk dari sisi kemampuan manajerial.

Enam strategi

 Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Hendriadi, ketika ditemui usai pembukaan workshop di Hotel Grand Aston, Jalan Urip Sumoharjo, Kota Yogyakarta, Jumat (24/11/2017).KOMPAS.com/Teuku Muh Guci S Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Hendriadi, ketika ditemui usai pembukaan workshop di Hotel Grand Aston, Jalan Urip Sumoharjo, Kota Yogyakarta, Jumat (24/11/2017).

"Untuk mengatasi kurangnya minat generasi muda terjun di sektor pertanian, Kementerian Pertanian memiliki enam strategi agar terjadi regenerasi petani," jelas Agung.

Pertama,  transformasi pendidikan tinggi vokasi pertanian. Enam STPP (Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian) yang semula program studinya hanya penyuluhan (pertanian, perkebunan, dan peternakan), ditambah harus berorientasi agribisnis hortikultura, agribisnis perkebunan, mekanisasi pertanian.

"Dengan demikian, ke depan akan bertambah generasi muda yang disiapkan untuk menjadi petani sekaligus pelaku usaha pertanian," papar Agung.  

Kedua, inisiasi program penumbuhan wirausahawan muda pertanian. Program ini  bekerja sama dengan 16 Perguruan Tinggi Negeri (PTN).  

Ketiga, pelibatan mahasiswa/alumni/pemuda tani untuk mengintensifkan pendampingan/pengawalan program Kementerian Pertanian.

Keempat penumbuhan kelompok usaha bersama (KUB) yang difokuskan bidang pertanian bagi pemuda tani.

Kelima,  pelatihan dan magang bagi pemuda tani dalam bidang pertanian.

Keenam, optimalisasi penyuluh untuk mendorong dan menumbuhkembangkan pemuda tani.

Menurut Agung, perguruan tinggi pertanian Indonesia telah berperan dalam pengembangan sumberdaya manusia dan  memberikan sumbangan nyata mendukung perkembangan pertanian dan perkembangan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Dalam konteks ini, Agung mengatakan bahwa, perguruan tinggi dalam pembangunan pertanian dan perdesaan memiliki peran krusial dalam menghasilkan lulusan yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat.  

"Untuk dapat menjalankan peran tersebut, perguruan tinggi harus memiliki daya respon yang tinggi terhadap kebutuhan masyarakat, sehingga dapat memecahkan masalah-masalah kuantitatif maupun kualitatif," kata Agung yang mendorong agar PTN mendirikan program studi diversifikasi pangan dan gizi untuk akselerasi program diversifikasi pangan.

"Dalam hal ini, perguruan tinggi dituntut mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan baik technical, soft skills, maupun emotional dan spiritual skills, sehingga mampu menghadapi tantangan zaman yang senantiasa berubah," pungkas Agung Hendriadi.

PenulisJosephus Primus
EditorJosephus Primus
Terkini Lainnya
Kondisi Food Estate di Kalteng, Periset BRIN: Mengubah Lahan Rawa Jadi Produktif Tidak Mudah
Kondisi Food Estate di Kalteng, Periset BRIN: Mengubah Lahan Rawa Jadi Produktif Tidak Mudah
Kementan
Sinergi Dirjenbun Kementan dan Bupati Kediri Perkuat Pengembangan Perkebunan di Kediri
Sinergi Dirjenbun Kementan dan Bupati Kediri Perkuat Pengembangan Perkebunan di Kediri
Kementan
Petani di Kalteng Berhasil Panen Perdana, Food Estate Disebut Mulai Hasilkan Manfaat
Petani di Kalteng Berhasil Panen Perdana, Food Estate Disebut Mulai Hasilkan Manfaat
Kementan
Januari 2023, Nilai Tukar Petani Naik Jadi 109,84
Januari 2023, Nilai Tukar Petani Naik Jadi 109,84
Kementan
Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Kementan Fokus Awasi Praktik Alih Fungsi Lahan
Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Kementan Fokus Awasi Praktik Alih Fungsi Lahan
Kementan
Pastikan Ketersediaan Beras Aman, Mentan SYL: Januari-Maret Ada Overstock 3 Juta Ton
Pastikan Ketersediaan Beras Aman, Mentan SYL: Januari-Maret Ada Overstock 3 Juta Ton
Kementan
Dinas TPHP Kalteng Sebut Food Estate Bantu Tumbuhkan Indeks Pertanian dan Ekonomi Petani
Dinas TPHP Kalteng Sebut Food Estate Bantu Tumbuhkan Indeks Pertanian dan Ekonomi Petani
Kementan
Kementan Sebut Perppu Cipta Kerja Permudah Izin Usaha Sektor Pertanian
Kementan Sebut Perppu Cipta Kerja Permudah Izin Usaha Sektor Pertanian
Kementan
Hadapi Krisis Pangan Global, Mentan SYL Minta Penggunaan Alsintan Diperluas
Hadapi Krisis Pangan Global, Mentan SYL Minta Penggunaan Alsintan Diperluas
Kementan
Kemenko Perekonomian Sebut Pertanian Jadi Resiliensi dan Sektor Strategis Saat Krisis Dunia
Kemenko Perekonomian Sebut Pertanian Jadi Resiliensi dan Sektor Strategis Saat Krisis Dunia
Kementan
Hadapi Krisis Pangan Global, Mentan SYL Komitmen Tingkatkan Produksi Pangan
Hadapi Krisis Pangan Global, Mentan SYL Komitmen Tingkatkan Produksi Pangan
Kementan
Dalam Rakernas Pertanian 2023, Wapres Ma’ruf Amin Berikan 3 Langkah Strategis Penguatan Pangan
Dalam Rakernas Pertanian 2023, Wapres Ma’ruf Amin Berikan 3 Langkah Strategis Penguatan Pangan
Kementan
Ketersediaan Pangan di Indonesia Terjaga, Mentan SYL Dapat Apresiasi dari Wapres
Ketersediaan Pangan di Indonesia Terjaga, Mentan SYL Dapat Apresiasi dari Wapres
Kementan
Gubernur Sabran Sebut Food Estate di Kalteng Bantu Perkuat Pangan Indonesia
Gubernur Sabran Sebut Food Estate di Kalteng Bantu Perkuat Pangan Indonesia
Kementan
Pemprov Kalteng: Food Estate Bukan Program Kaleng-kaleng, Dampaknya Besar Bagi Kesejahteraan Petani
Pemprov Kalteng: Food Estate Bukan Program Kaleng-kaleng, Dampaknya Besar Bagi Kesejahteraan Petani
Kementan