Sambut Obor Asian Games di Blitar, Menko PMK Minta Maknai Sejarahnya

Kompas.com - 20/07/2018, 17:21 WIB
Dimas Wahyu

Penulis

BLITAR, KOMPAS.com - Kirab Obor Asian Games 2018 tiba dan singgah di Kota Blitar, Jawa Timur, Jumat (20/7/2018), setelah resmi dilepas Wapres Jusuf Kalla dari Komplek Candi Prambanan, Jawa Tengah, Rabu lalu.

Persinggahan ini sejatinya dapat dijadikan pengingat kebanggaan Indonesia karena pernah menjadi tuan rumah penyelenggaran Asian Games pada 56 tahun lalu atau semasa pemerintahan Bung Karno.

Untuk menandai hal itu, Kirab Obor Asian Games 2018 menyambangi makam Bung Karno di Jl Ir Soekarno, Blitar, dan disambut langsung oleh cucu Bung Karno yang juga Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani, Jumat siang.

Api obor yang merupakan perpaduan kedua api abadi dari India dan Mrapen, Indonesia, itu dibawa masuk oleh atlet Olimpiade cabang olahraga Tenis Meja, Ling Ling Agustine, menuju situs makam Bung Karno.

Api yang dibawa dengam tinder ini kemudian diterima oleh Menko PMK. Selanjutnya, rombongan diberi kesempatan berziarah serta memanjatkan doa bersama untuk arwah sang proklamator RI.

“Alhamdulillah, sejarah kembali terulang. Lima puluh enam tahun lalu, di masa Bung Karno, Indonesia pernah jadi tuan rumah. Tahun 2018, Indonesia jadi tuan rumah untuk kedua kalinya," ujar Menteri Puan.

Ia mengatakan, sebuah kebanggaan tersendiri khususnya bagi Keluarga Bung Karno bahwa Kirab Obor Asian Games ini singgah di Kota Blitar dan menyambangi makam sang proklamator.

Kirab Obor Asian Games 2018 tiba dan singgah di Kota Blitar, Jawa Timur, Jumat (20/7/2018). Rombongan kirab menyambangi makam Bung Karno di Jl Ir Soekarno, Blitar, dan disambut langsung oleh cucu Bung Karno, Menko PMK Puan Maharani. Dok Humas Kemenko PMK Kirab Obor Asian Games 2018 tiba dan singgah di Kota Blitar, Jawa Timur, Jumat (20/7/2018). Rombongan kirab menyambangi makam Bung Karno di Jl Ir Soekarno, Blitar, dan disambut langsung oleh cucu Bung Karno, Menko PMK Puan Maharani.
"Makna dan semangat di masa lalu tentu harus tetap ada di tahun ini. Saya juga berharap, penyelenggaraan Asian Games 2018 mampu membangkitkan pula ekonomi masyarakat, terutama UKM,” ujarnya.

Kegiatan estafet api obor ini menjadi simbol pertemanan dan semangat Asian Games 2018 di seluruh penjuru Indonesia. Selain itu, kegiatan ini juga ditujukan untuk mempromosikan destinasi-destinasi pariwisata, seni budaya, serta potensi-potensi daerah lainnya ke mancanegara.

Obor Asian Games 2018 akan dibawa berkeliling di 53 kota dan 18 provinsi di Indonesia. Obor akan kembali ke Jakarta dan akan dinyalakan oleh Presiden Joko Widodo, tepat pada pembukaan Asian Games XVIII 2018, tanggal 18 Agustus 2018.

Di luar kirab obor, Puan juga menanggapi kekhawatiran akan kabut asap kebakaran hutan di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Sebab, hal itu dikhawatirkan mengganggu penyelenggaraan Asian Games 2018 di Palembang.

Menteri Puan mengatakan sudah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) agar mereka segera mengatasi masalah ini supaya kebakaran tidak semakin meluas.

"Segala cara telah dilakukan, dan sejauh ini terus dicoba dengan water bombing. Semoga asap-asap itu tidak mengganggu penyelenggaraan Asian Games dan semuanya berjalan lancar seperti yang kita harapkan. Mohon doa masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com