Soal Tenggelamnya KRI Nanggala-402, Pengamat Militer Dukung Prabowo Evaluasi Alutsista

Dwi Nur Hayati
Kompas.com - Selasa, 27 April 2021
KRI Nanggala-402 yang hilang di perairan Bali.AA/ALEX WIDOJO via DW INDONESIA KRI Nanggala-402 yang hilang di perairan Bali.

KOMPAS.com – Pengamat militer Susaningtyas Kertopati meminta insiden tenggelamnya Kapal Republik Indonesia (KRI) Nanggala-402 dijadikan pembelajaran semua pihak untuk mengevaluasi alat utama sistem senjata (alutsista).

Hal itu, kata dia, termasuk mengevaluasi sistem perawatan, kebijakan, hingga meningkatkan pendidikan prajurit Tentara Nasional Indonesia ( TNI) dalam mengoperasikan alutsista.

Nuning mengatakan kejadian ini harus menjadi peluit peringatan untuk evaluasi alutsista yang dimiliki Indonesia.

“Sistem perawatan maintenance, repair, and operation (MRO). Begitu pula kebijakan anggaran pertahanan serta penerapannya," ujar Nuning, seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (26/4/2021).

Baca juga: KRI Nanggala Tenggelam, DPR Minta Evaluasi Semua Alutsista TNI AL

"Evaluasi lembaga pendidikan TNI juga harus dilakukan agar para perwira mendapat kesempatan memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi alutsista yang mumpuni. Scholar Warrior (perwira atau prajurit akademik) harus semakin banyak di TNI," tambahnya.

Pernyataan tersebut Nuning sampaikan pada acara diskusi virtual dengan tema "Meninjau Diplomasi Pertahanan” yang diadakan oleh Kajian Strategis Hubungan Internasional (KSHI), Sabtu (24/4/2021).

Selain evaluasi, ia meminta persiapan latihan harus dilakukan dengan semaksimal mungkin guna mengantisipasi hal yang tak diinginkan.

Menurut Nuning, persiapan latihan perang harus dilakukan dengan matang terlebih dahulu.

Baca juga: 5 Personel Militer Singapura Sudah Merapat ke KRI dr Suharso Bantu Cari Kapal Selam Nanggala

“Setidaknya, persiapan memakan waktu dua bulan. Persiapan latihan perang mencakup alutsista, kesiapan pengawak alutsista, dan lainnya," imbuh Nuning.

Sebab, lanjut dia, kondisi kapal selam saat persiapan sangat penting sebagai penentu dalam kelayakan untuk latihan.

"Perkiraan keadaan (Kirka) kapal selam Nanggala sebelum berangkat harus digunakan pertimbangan berangkat atau tidak," ucap Nuning.

Seperti diketahui, Indonesia tengah berduka atas insiden tenggelamnya (subsunk) kapal selam KRI Nanggala-402 di perairan Bali saat latihan peluncuran torpedo.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dengan menahan tangis, mengumumkan 53 awak kru KRI Nanggala gugur dalam insiden tersebut.

Baca juga: Pakar Unpad: Ini Deskripsi Perairan Tempat Karamnya KRI Nanggala-402

Kabar duka itu disampaikan Hadi usai keberadaan KRI Nanggala-402 ditemukan pada kedalaman 838 meter (m) dengan kondisi terbelah menjadi tiga bagian.

Proses pencarian telah diupayakan semaksimal mungkin sejak kapal selam buatan Jerman itu hilang kontak, sejak Rabu (21/4/2021).

Meski sudah berusia beberapa dekade, namun KRI Nanggala-402 selama ini terus bertugas dengan baik menyelami laut Indonesia demi menjaga kedaulatan.

Kapal selam kedua milik Indonesia itu dipesan dari pabrikan Howaldtswerke pada 1977 dan mulai bertugas pada 1981.

Proses evakuasi pengangkatan KRI Nanggala sendiri sedang direncanakan guna kepentingan investigasi. Dalam proses investigasi, semua pihak diminta untuk tidak saling menyalahkan.

Baca juga: KSAL Tegaskan Tenggelamnya KRI Nanggala-402 Bukan Human Error

Bukan kesalahan prajurit ataupun pelanggaran prosedur

Pada kesempatan yang sama, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono meyakini, tidak ada kesalahan prajurit atau pelanggaran prosedur dalam penyelaman terakhir KRI Nanggala-402.

Berdasarkan temuan dan data awal, ia menegaskan, semuanya berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).

"Dari kemarin awal saya sampaikan bahwa kapal ini tidak human error. Bukan human error karena saat proses menyelam itu sudah melalui prosedur yang betul," kata Yudo dalam konferensi pers di Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Ngurah Rai, Bali, Minggu (25/4/2021).

Menurutnya, semua isyarat yang diberikan KRI Nanggala-402 sebelum penyelaman sudah melalui prosedur yang benar. Bahkan, lampu masih menyala sebelum kapal akhirnya menyelam.

Baca juga: TNI Yakin Penyebab KRI Nanggala-402 Tenggelam karena Faktor Alam, Bukan Human Error

"Saat menyelam juga diketahui lampu masih menyala semua, artinya tidak blackout. Saat menyelam langsung hilang," ucap Yudo.

Meski demikian, ia mengaku, masih diperlukan investigasi lebih mendalam terkait penyebab KRI Nanggala-402 tenggelam di dasar laut.

"Sebenarnya sudah dievaluasi dari awal, tetapi saya punya keyakinan ini bukan human error namun lebih pada faktor alam," ujar Yudo.

Pentingnya peremajaan alutsista

Keberadaan alutsista kapal selam memang sangat penting bagi suatu negara, khususnya negara dengan wilayah perairan yang luas seperti Indonesia.

Baca juga: Perkuat Pertahanan Nasional, Kemhan Ciptakan Kendaraan Khusus Pusat Komando MCCV

Insiden KRI Nanggala-402 sendiri adalah pengingat pentingnya peremajaan alutsista. Untuk mewujudkan upaya ini tentu membutuhkan kerja sama semua pihak.

Maka dari itu, Indonesia melalui Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto telah mengupayakan kerja sama militer dan pertahanan dengan sejumlah negara, termasuk terkait pengadaan dan modernisasi alutsista.

Perlu diketahui, pemerintah sudah meningkatkan anggaran Kementerian Pertahanan (Kemhan) dalam bentuk Pinjaman Luar Negeri (PLN) dan Pinjaman Dalam Negeri (PDN).

Adapun pemerintah telah mendorong pembelian alutsista asing berteknologi tinggi. Alutsista ini memang belum mampu diproduksi oleh industri di dalam negeri, namun pemerintah berharap adanya kerja sama dengan pihak asing.

Baca juga: Berkaca dari Tenggelamnya KRI Nanggala-402, Pemerintah Diminta Tak Beli Alutsista Bekas

Tujuan pengadaan alutsista tersebut adalah meningkatkan kemampuan TNI dengan tidak mengenyampingkan peningkatan kesejahteraan nasional.

Lebih jauh lagi, pemerintah ke depannya menginginkan kemandirian industri pertahanan dalam negeri.

Seperti halnya sejak awal Prabowo menjabat sebagai Menhan, ia selalu menekankan bahwa proses pemeliharaan dan perawatan alutsista perlu diperhatikan selain modernisasi.

Upaya tersebut dilakukan Prabowo dalam beberapa kesempatan. Salah satu yang teranyar adalah pada saat rapat pimpinan (Rapim) TNI Angkatan Udara (AU) 2021.

Baca juga: Saudara Menhan Prabowo Subianto Ternyata Turut Gugur dalam KRI Nanggala-402

Prabowo mengingatkan para prajurit untuk memastikan terjaganya kesiapan operasional matra udara.

Kesiapan itu dapat dilakukan melalui pembinaan kemampuan personel, pemeliharaan dan perawatan alutsista agar terus berada pada level tertinggi.

PenulisDwi Nur Hayati
EditorMikhael Gewati
Terkini Lainnya
Sebagai Negara Besar RI Butuh Pertahanan Kuat, Pengamat Sebut Modernisasi Alutsista Diperlukan
Sebagai Negara Besar RI Butuh Pertahanan Kuat, Pengamat Sebut Modernisasi Alutsista Diperlukan
Kemhan
Pengamat Pertahanan Sebut Kontroversi Raperpres Alutsista Sarat dengan Upaya Politisasi
Pengamat Pertahanan Sebut Kontroversi Raperpres Alutsista Sarat dengan Upaya Politisasi
Kemhan
Merujuk UU Ciptaker, Investor Asing Boleh Tanam Modal di Industri Pertahanan
Merujuk UU Ciptaker, Investor Asing Boleh Tanam Modal di Industri Pertahanan
Kemhan
Soal Komitmen Memodernisasi Alutsista TNI, Direktur Lesperssi: Dua Jempol untuk Jokowi dan Prabowo
Soal Komitmen Memodernisasi Alutsista TNI, Direktur Lesperssi: Dua Jempol untuk Jokowi dan Prabowo
Kemhan
Direktur Eksekutif Lesperssi Sebut Modernisasi Alutsista Mutlak Dilakukan
Direktur Eksekutif Lesperssi Sebut Modernisasi Alutsista Mutlak Dilakukan
Kemhan
Percepat Peremajaan Alutsista TNI, Pemerintah Susun Strategi Ini
Percepat Peremajaan Alutsista TNI, Pemerintah Susun Strategi Ini
Kemhan
Berdampak Besar pada Pertahanan, Kemenhan Anggap Perlunya Pembentukan Norma Baru Teknologi Informasi
Berdampak Besar pada Pertahanan, Kemenhan Anggap Perlunya Pembentukan Norma Baru Teknologi Informasi
Kemhan
Mengenal Pusrehab, Penghargaan Kemhan untuk Anggota TNI Penyandang Disabilitas
Mengenal Pusrehab, Penghargaan Kemhan untuk Anggota TNI Penyandang Disabilitas
Kemhan
Diamputasi dan Nyaris Buta, Kini Anggota TNI Ini Jadi Peternak Sukses
Diamputasi dan Nyaris Buta, Kini Anggota TNI Ini Jadi Peternak Sukses
Kemhan
KRI Nanggala-402 Tenggelam, Pengamat Militer Dukung Prabowo Dobrak Kesulitan Pengadaan Alutsista
KRI Nanggala-402 Tenggelam, Pengamat Militer Dukung Prabowo Dobrak Kesulitan Pengadaan Alutsista
Kemhan
Soal Tenggelamnya KRI Nanggala-402, Pengamat Militer Dukung Prabowo Evaluasi Alutsista
Soal Tenggelamnya KRI Nanggala-402, Pengamat Militer Dukung Prabowo Evaluasi Alutsista
Kemhan
Pengamat Pertahanan Nilai Denwalsus Kemhan Tidak Bermasalah
Pengamat Pertahanan Nilai Denwalsus Kemhan Tidak Bermasalah
Kemhan
Perkuat TNI, Program Komponen Cadangan Dibuka untuk Umum secara Sukarela
Perkuat TNI, Program Komponen Cadangan Dibuka untuk Umum secara Sukarela
Kemhan
AU Senegal Kembali Beli Pesawat PTDI, Prabowo: Ini Patut Dibanggakan
AU Senegal Kembali Beli Pesawat PTDI, Prabowo: Ini Patut Dibanggakan
Kemhan
Perkenalkan Peluncur Roket R-HAN 122B, Kabalitbang Kemhan: Ini Langkah Strategis.
Perkenalkan Peluncur Roket R-HAN 122B, Kabalitbang Kemhan: Ini Langkah Strategis.
Kemhan