Young Health Summit 2025, BKKBN Tekankan Pentingnya Remaja Sehat Mental dan Fisik

Kompas.com - 01/10/2025, 12:22 WIB
DWN

Penulis

KOMPAS.com – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Mendukbangga/ BKKBN) Wihaji menegaskan bahwa remaja merupakan aset paling berharga bangsa.

Dari total lebih 270 juta penduduk Indonesia, kata dia, sekitar 68 juta jiwa atau 24 persen berada pada rentang usia 10–24 tahun.

“Remaja kita adalah aset strategis. Jika sehat mental dan fisik, mereka akan menjadi penentu masa depan bangsa,” ujar Menteri Wihaji dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (1/10/2025).

Hal itu disampaikan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji dalam pembukaan Young Health Summit (YHS) 2025 bertajuk “Stay Fit, Stay Lit!” di Universitas Yarsi, Jakarta, Selasa (30/9/2025).

Acara yang diinisiasi Plan International Indonesia bersama AstraZeneca ini menjadi ajang konsolidasi untuk memperkuat gerakan kesehatan remaja di Indonesia.

Menteri Wihaji menegaskan pembangunan generasi emas tidak hanya ditopang pendidikan dan ekonomi, tetapi juga kualitas kesehatan.

Ia menilai penyakit tidak menular (PTM) menjadi tantangan besar karena faktor risikonya kerap muncul sejak usia muda.

Baca juga: 8 Tips Sehat Mental Saat Menganggur Menurut Psikolog

Menteri Wihaji menekankan bahwa kebiasaan merokok, kurang bergerak, hingga pola makan tidak sehat harus dikendalikan sejak dini.

“Kalau dibiarkan, itu akan menggerus usia produktif bangsa,” katanya.

Menteri Wihaji juga menyoroti fenomena penggunaan gawai berlebihan yang perlu diwaspadai kalangan remaja.

Menurutnya, rata-rata anak SMA menghabiskan 7–8 jam sehari dengan ponsel, sedangkan waktu berbincang dengan orangtua hanya sekitar dua jam.

“Kondisi ini memengaruhi kesehatan mental sekaligus melemahkan ikatan keluarga. Remaja membutuhkan ruang aman untuk bersuara, dan orangtua harus hadir sebagai pendengar,” tegas Menteri Wihaji.

Baca juga: 3 Strategi Coping Stres untuk Menjaga Kesehatan Mental

Isu kesehatan mental semakin mendesak

Pembukaan Young Health Summit (YHS) 2025 bertajuk ?Stay Fit, Stay Lit!? di Universitas Yarsi, Jakarta, Selasa (30/9/2025).DOK. Kemendukbangga/BKKBN Pembukaan Young Health Summit (YHS) 2025 bertajuk ?Stay Fit, Stay Lit!? di Universitas Yarsi, Jakarta, Selasa (30/9/2025).

Isu kesehatan mental pun semakin mendesak. Berdasarkan survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, tercatat sebanyak 15,5 juta remaja atau sekitar 34,9 persen mengalami masalah kesehatan mental.

Angka tersebut mencerminkan kebutuhan intervensi yang lebih kuat.

“Kalau fisik sakit ada obatnya. Tetapi kalau mental yang sakit, obatnya adalah keluarga, komunikasi, dan lingkungan yang mendukung,” ujar Menteri Wihaji.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menjadikan remaja sebagai mitra pembangunan.

“Remaja jangan hanya dianggap sebagai objek program, tetapi juga subjek yang aktif. Mereka harus diberi ruang untuk berpartisipasi, berkreasi, dan berkontribusi. Itulah jalan menuju Indonesia Emas 2045,” kata Menteri Wihaji.

Dia juga menegaskan bahwa pemerintah membuka ruang luas bagi kolaborasi lintas pihak.

Baca juga: Blibli Tiket Wadahi Kolaborasi Lintas Sektor untuk Dorong Gaya Hidup Berkelanjutan

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dunia usaha, kampus, organisasi masyarakat, dan tentu para remaja sendiri harus bersatu. Jika bersama-sama, kita bisa melahirkan generasi muda yang sehat, berdaya, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045,” ucap Menteri Wihaji.

Sebagai wujud konkret kolaborasi, dalam kesempatan tersebut dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama antara Direktur Eksekutif Plan Indonesia dan Direktur Bina Ketahanan Remaja.

Kesepakatan itu menandai langkah strategis untuk memperkuat kemitraan Plan Indonesia dan GenRe Indonesia dalam penguatan kapasitas remaja, kampanye kesehatan, serta dukungan kebijakan yang berkelanjutan.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Yarsi, Profesor Dokter (dr) Fasli Jalal mengingatkan bahwa penyakit tidak menular (PTM) bisa memangkas usia produktif masyarakat Indonesia.

“Harapan hidup rata-rata 73 tahun, namun sembilan tahun di antaranya hilang karena PTM. Itu berarti usia produktif kita berkurang. Karena itu, gaya hidup sehat harus dimulai sejak remaja,” ujarnya.

Fasli menambahkan, remaja masa kini merupakan calon pemimpin bangsa pada 2045.

Baca juga: Kisah Remaja di Bandung Berjuang Cari Pekerjaan, dari Ojek Online hingga Jual Makanan Ringan

“Mereka harus (tumbuh) cerdas, bahagia, mampu menjaga kesehatan diri, sekaligus peduli terhadap masyarakat,” imbuhnya.

Peran swasta dan dunia usaha

Dukungan juga datang dari sektor swasta. Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, menegaskan komitmen perusahaannya dalam mendukung kesehatan remaja melalui Young Health Programme (YHP).

Ia menyebut, penyakit kronis di Indonesia menyumbang sekitar 75 persen dari total kematian.

“Ini bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga tantangan ekonomi dan sosial bagi masa depan bangsa,” ucap Esra.

Menurut Esra, banyak orang masih beranggapan penyakit kronis hanya menyerang usia lanjut. Padahal, faktor risikonya mulai muncul sejak masa remaja.

Bahkan, 70 persen penyebab kematian dapat ditelusuri pada perilaku yang terbentuk di usia muda.

“Masa remaja adalah periode kritis perkembangan otak. Pada fase ini, kebiasaan terbentuk, dan setelah tertanam, akan sangat sulit diubah,” papar Esra.

Sejak 2021, YHP telah mengedukasi lebih dari 97.000 anak muda di Indonesia melalui pendekatan pendidikan sebaya.

“Ketika remaja diberdayakan, mereka bukan hanya pengamat, melainkan agen perubahan yang mampu mendorong transformasi sosial,” kata Esra.

Mengusung tema “Stay Fit, Stay Lit!”, Young Health Summit 2025 menghadirkan ratusan pendidik sebaya, pembuat kebijakan, tenaga kesehatan, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil. Forum ini menjadi wadah kolaborasi lintas sektor serta merumuskan rekomendasi kebijakan berkelanjutan.

Summit ini diharapkan melahirkan gagasan konkret untuk memperkuat sistem kesehatan ramah remaja, memperluas akses informasi, dan menciptakan lingkungan yang mendukung perilaku sehat.

Dengan begitu, cita-cita melahirkan generasi emas yang sehat, cerdas, dan berkarakter dapat terwujud.

Terkini Lainnya
Menteri Wihaji Tinjau Program MBG dan Tamasya di Kepri, Tegaskan Komitmen Bangun Keluarga Sejahtera

Menteri Wihaji Tinjau Program MBG dan Tamasya di Kepri, Tegaskan Komitmen Bangun Keluarga Sejahtera

Kemendukbangga/BKKBN
Fondasi Indonesia Emas 2045, Wamen Isyana Paparkan Strategi Prabowo-Gibran Bangun SDM Unggul di Forum Global

Fondasi Indonesia Emas 2045, Wamen Isyana Paparkan Strategi Prabowo-Gibran Bangun SDM Unggul di Forum Global

Kemendukbangga/BKKBN
Bukan Sekadar Alat, Kontrasepsi Adalah Gerbang Menuju Indonesia Emas 2045

Bukan Sekadar Alat, Kontrasepsi Adalah Gerbang Menuju Indonesia Emas 2045

Kemendukbangga/BKKBN
Young Health Summit 2025, BKKBN Tekankan Pentingnya Remaja Sehat Mental dan Fisik

Young Health Summit 2025, BKKBN Tekankan Pentingnya Remaja Sehat Mental dan Fisik

Kemendukbangga/BKKBN
Peringati Harganas Ke-32, BKKBN Hadirkan Kirab Bangga Kencana

Peringati Harganas Ke-32, BKKBN Hadirkan Kirab Bangga Kencana

Kemendukbangga/BKKBN
Sambut Harganas, BKKBN Targetkan 1 Juta Akseptor dalam Pelayanan KB Serentak se-Indonesia

Sambut Harganas, BKKBN Targetkan 1 Juta Akseptor dalam Pelayanan KB Serentak se-Indonesia

Kemendukbangga/BKKBN
Kemendukbangga Susun Peta Jalan Pembangunan Kependudukan, Konsorsium Perguruan Tinggi Deklarasikan Dukungan

Kemendukbangga Susun Peta Jalan Pembangunan Kependudukan, Konsorsium Perguruan Tinggi Deklarasikan Dukungan

Kemendukbangga/BKKBN
 Bantu Perempuan Tetap Produktif Usai Punya Anak, Kemendukbangga Luncurkan Program Tamasya

Bantu Perempuan Tetap Produktif Usai Punya Anak, Kemendukbangga Luncurkan Program Tamasya

Kemendukbangga/BKKBN
Hadapi Fase Krusial Bonus Demografi, Kemendukbangga: Pembangunan Manusia Indonesia Dimulai dari Keluarga

Hadapi Fase Krusial Bonus Demografi, Kemendukbangga: Pembangunan Manusia Indonesia Dimulai dari Keluarga

Kemendukbangga/BKKBN
Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi, BKKBN Canangkan Pelayanan KB Serentak 1 Juta Akseptor

Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi, BKKBN Canangkan Pelayanan KB Serentak 1 Juta Akseptor

Kemendukbangga/BKKBN
Tingkatkan Peran Ayah dalam Keluarga, Menteri Wihaji Luncurkan Program GATI

Tingkatkan Peran Ayah dalam Keluarga, Menteri Wihaji Luncurkan Program GATI

Kemendukbangga/BKKBN
Kemendukbangga/BKKBN Resmi Gelar Pelatihan Teknis Substantif Kampung Keluarga Berkualitas 2025

Kemendukbangga/BKKBN Resmi Gelar Pelatihan Teknis Substantif Kampung Keluarga Berkualitas 2025

Kemendukbangga/BKKBN
Tinjau SPPG di Bogor, Wamendukbangga Tegaskan Pentingnya Program MBG untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045

Tinjau SPPG di Bogor, Wamendukbangga Tegaskan Pentingnya Program MBG untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045

Kemendukbangga/BKKBN
Wamen Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Monitor Program Genting di Tanah Papua

Wamen Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Monitor Program Genting di Tanah Papua

Kemendukbangga/BKKBN
Menteri Wihaji Kunjungi Bangli, Pantau Langsung Keluarga Risiko Stunting

Menteri Wihaji Kunjungi Bangli, Pantau Langsung Keluarga Risiko Stunting

Kemendukbangga/BKKBN
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com