KOMPAS.com - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menyelenggarakan program Bioskop Alternatif & Workshop Film Aceh di Taman Budaya Banda Aceh, Rabu (25/11/2025). Acara ini digelar sebagai upaya memperluas akses tontonan sekaligus meningkatkan kapasitas sineas daerah.
Tidak hanya menghadirkan ruang pemutaran film di luar bioskop komersial, kegiatan ini juga memberikan pembekalan praktis bagi pelaku perfilman lokal agar karya mereka mampu menembus pasar yang lebih luas .
Bioskop Alternatif bertajuk Sinema Rakyat Aceh ini hadir dengan konsep penyediaan ruang nonton di gedung teater serta sistem pemisahan tempat duduk sesuai dengan jenis kelamin.
Program ini menayangkan film yang pernah dan sedang beredar di bioskop nasional, termasuk karya komunitas lokal, dengan kapasitas hingga 400 penonton per sesi.
Menteri Ekraf (Menkraf) Teuku Riefky Harsya yang hadir dalam acara ini menegaskan pentingnya inisiatif pelaksanaan program Bioskop Alternatif & Workshop Film Aceh dalam mendorong ekosistem perfilman daerah.
“Kami ingin memastikan sineas Aceh memiliki akses setara terhadap ruang apresiasi dan pasar. Melalui Bioskop Alternatif dan Workshop ini, talenta lokal didorong memahami rantai nilai industri, dari produksi hingga distribusi, agar karya mereka berkelanjutan dan berdaya saing,” ujarnya dalam siaran persnya pada Kompas.com, Kamis (27/11/2025).
Baca juga: Menteri Ekraf Apresiasi Produk Lokal Kota Batu Dorong Ekspor Rp 56,1 T
Rangkaian penayangan film berlangsung pada 24–25 November 2025 dengan beberapa sesi, yang menampilkan beberapa film, seperti Keluarga Cemara 2, Tegar, Nussa the Movie, Cocote Tonggo, dan Sore: Istri dari Masa Depan.
Film yang dihadirkan tersebut dirancang untuk memperkaya pilihan tontonan sekaligus mendekatkan publik pada karya sinema Indonesia.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal mengatakan, acara ini bukan hanya untuk menonton film, tapi juga merayakan kebersamaan dan semangat kreatif masyarakat Banda Aceh yang dikenal sebagai daerah yang berbudaya.
Menurutnya dengan kegiatan seperti inilah denyut kreativitas terus dihidupkan. Mengenai persoalan bioskop, ia menyebutkan bahwa terus menerima aspirasi dan keresahan warga untuk ruang hiburan tersebut.
"Bukan soal hitam putih, bukan soal menolak menerima, tapi juga bagaimana memastikan bahwa ruang hiburan yang hadir tetap sesuai dengan karakter dan nilai masyarakat Aceh," katany.
"Ada beberapa alternatif yang sudah pernah kita bahas bersama. Mulai dari pengawasan yang lebih kuat, pengaturan kategori tontonan, hingga konsep ruang yang lebih terkurasi, tapi pada akhirnya yang paling penting adalah kesiapan kita bersama untuk menjaga ruang hiburan tersebut agar tetap aman, nyaman, dan juga membawa dampak positif," ujarnya.
Pada kesempatan itu, Menteri Ekraf juga turut meninjau langsung pameran Kolaborasi Kreatif (Kolatif) Aceh, pameran yang memperlihatkan hasil workshop dari Direktorat Kementerian Ekraf.
Adapun pameran yang ditampilkan di booth merupakan hasil akselerasi fesyen muslim dari NINANO, Ayu Modiste, Lyucloe, PUCÔK, Ija Kroeng, Cut Junischa, SARARIZQA, Minyeuk Pret Florimia, dan La Mojo.
Lalu juga hadir workshop Kreatif Santri Indonesia (Kreasi) yang menampilkan karya foto para santri, serta workshop KRIYASI Aceh yang menghadirkan hasil karya Publo, Pucok dan Fitri Souvenir.
Selain menggelar Bioskop Alternatif dan Pameran Kolatif, Kementerian Ekonomi Kreatif menggelar Workshop Film bertajuk "Optimalisasi Akses Pasar – Narasi Lokal Menembus Bioskop dan Platform Global" di Hermes Palace Hotel Banda Aceh.
Baca juga: Peruri dan Kementerian Ekraf Kerja Sama Akselerasi Digitalisasi dan Perlindungan HaKI
Kegiatan ini menyasar 100 peserta dari komunitas film, dinas terkait, serta masyarakat umum. Workshop ini membahas materi produksi lokal, video promosi dan penyuntingan, hingga distribusi digital.
Workshop menghadirkan narasumber berpengalaman, yaitu Senior Vice President Legal, Anti Piracy and Goverment Relation PT Vidio Dot Com, Gina Golda Pangaila; Founder Skak Studios, Bayu Skak; dan Sutradara, Penulis, Editor dan Videografer, Bhre Aditya.
Menteri Ekraf mengharapkan melalui rangkaian kegiatan ini, Kementerian Ekraf optimistis Aceh dapat melahirkan karya sinema yang tidak hanya relevan secara kultural, tetapi juga kompetitif secara industri. Hal ini sejalan dengan penguatan ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan nasional.
"Saya berharap adik-adik bisa menjadi generasi penerus Aceh ya dan dan juga semakin kreatif dan tetap menjaga kearifan lokal," harapnya.
Baca juga: Kementerian Ekraf Ditantang Bisa Hasilkan Apa jika Anggaran Ditambah Jadi Rp 1 Triliun
Penyelenggaraan workshop film diharapkan dapat memperkuat daya saing pelaku film Aceh melalui peningkatan kualitas karya dan strategi pemasaran yang terukur.
Adapun pelaksanaan Bioskop Alternatif & Workshop Film Aceh merupakan wujud sinergi antara pemerintah dan komunitas untuk memperkuat literasi film, memperluas jangkauan penonton, serta membuka peluang kolaborasi dengan platform distribusi nasional maupun global.
Langkah ini juga mempertegas komitmen Kementerian Ekonomi Kreatif dalam memperluas akses pasar dan meningkatkan kualitas subsektor film di daerah.