KOMPAS.com – Sejak dibangun sekitar 780-840 Masehi pada masa kejayaan Dinasti Syailendra, Candi Borobudur telah menjadi ikon sejarah dan budaya Indonesia.
Candi Buddha terbesar di Asia Tenggara ini ditetapkan sebagai situs warisan budaya dunia oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) pada 1991.
Kemegahan arsitekturnya menyimpan kisah filosofis yang selalu memukau mata dunia. Tak heran, Borobudur menjadi magnet kuat yang memanggil jutaan wisatawan setiap tahun, baik domestik maupun mancanegara.
Kini, candi yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, itu tidak hanya berdiri sebagai situs purbakala, tetapi juga telah bertransformasi menjadi destinasi yang menawarkan pengalaman spiritual, petualangan, dan kehangatan interaksi dengan warga lokal.
Baca juga: Sejarah Candi Borobudur, Dari Puncak Pencerahan hingga Jejak Peristiwa
Candi Borobudur.Selama ini, Borobudur identik dengan ketenangan. Lanskap hijau, hamparan perbukitan, serta suasana pagi yang penuh embun menjadi latar ideal untuk melakukan meditasi.
Oleh karena itu, sejumlah paket wisata berbasis wellness kini menjadi daya tarik tambahan di kawasan Borobudur. Beberapa di antaranya dikelola oleh pelaku industri pariwisata lokal maupun pemerintah melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Salah satu paket wisata meditasi terpopuler di Borobudur dikelola oleh InJourney Destination Management (IDM) atau PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (PT TWC), anak usaha BUMN di bidang pengelolaan destinasi wisata dan cagar budaya.
PT TWC menawarkan beragam paket meditasi, antara lain Borobudur Samadhi Package, Yoga Dagi Abhinaya, dan yang terbaru Samadha–Pranic Healing & Meditation dengan jadwal tertentu.
Baca juga: Meditasi, Teknik Self-healing yang Bisa Dilakukan Meski Saat Sibuk
Paket meditasi ini dirancang untuk menikmati keheningan dan memaknai setiap momen, sekaligus mengembalikan keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa.
Wisatawan diajak melaksanakan meditasi di area eksklusif, yang umumnya dilakukan pada pagi hari saat suasana masih sejuk dan tenang.
Jika memilih Yoga Dagi Abhinaya, wisatawan akan diajak meditasi di Bukit Dagi dengan pemandangan Candi Borobudur dan lanskap alam hijau dikelilingi pepohonan rindang. Suasana ini mampu menenangkan tubuh dan pikiran.
Menariknya, beberapa style gerakan yoga dikombinasikan dengan gaya meditasi yang terinspirasi dari relief Candi Borobudur.
Baca juga: Apa Perbedaan Yoga dan Meditasi? Berikut Penjelasannya
Aktivitas meditasi di kawasan Borobudur merupakan pilihan terbaik bagi wisatawan yang sedang mencari ruang penyegaran batin. Melalui meditasi, wisatawan akan mendapatkan pengalaman yang memanjakan mata sekaligus bermakna secara emosional.
Ketenangan batin yang diperoleh dari meditasi dapat disempurnakan dengan bersepeda menjelajahi desa-desa di sekitar Borobudur.
Paket tur sepeda ini banyak ditawarkan oleh agen wisata lokal dan menjadi salah satu cara ideal untuk merasakan hangatnya interaksi dengan masyarakat setempat.
Rute sepeda biasanya melewati area persawahan, jalan desa, sentra kerajinan, dan rumah penduduk.
Baca juga: 7 Jalur Sepeda Terindah di Dunia, Adakah Indonesia?
Sepanjang perjalanan, wisatawan dapat singgah di home industry atau sentra usaha mikro kecil menengah (UMKM) lokal untuk melihat proses pembuatan gula jawa, gerabah, atau sekadar berbincang santai dengan warga.
Konsep wisata ini dikenal sebagai community-based tourism atau wisata berbasis masyarakat, yang bertujuan memberdayakan penduduk sekitar destinasi. Dengan begitu, manfaat ekonomi pariwisata tidak hanya dirasakan oleh pelaku industri besar.
Interaksi langsung dengan para pengrajin dan penduduk setempat akan memberikan pengalaman otentik yang tidak bisa diperoleh hanya dengan mengunjungi objek wisata utama.
Berbincang santai dengan penduduk desa juga akan mempererat ikatan dan menunjukkan keramahan khas warga Magelang.
Baca juga: Pemandian Air Panas di Magelang Ini Buka 24 Jam, Bisa Mandi Dini Hari
Setelah menikmati suasana desa yang tenang dan penuh kehangatan, saatnya memacu adrenalin dengan rafting atau arung jeram di Sungai Elo yang lokasinya tidak jauh dari kawasan Borobudur.
Sungai Elo merupakan salah satu spot arung jeram terfavorit di Jawa Tengah karena memiliki tingkat kesulitan yang tergolong ramah bagi pemula, dengan arus sungai menempati posisi kelas II dan III.
Artinya, arus sungai cukup menantang untuk memacu adrenalin, tetapi tetap aman bagi keluarga, pemula, atau rombongan outing perusahaan.
Debit air Sungai Elo yang relatif stabil sepanjang tahun menjadikannya destinasi andalan tanpa kenal waktu. Adapun jarak tempuh arung jeram sekitar 10 hingga 12 kilometer (km) dengan durasi sekitar 2,5 jam.
Selama mengarungi sungai, wisatawan akan disuguhi pemandangan alam yang asri, pepohonan rindang, dan udara segar. Sensasi arung jeram di Sungai Elo menjadi puncak petualangan yang pas untuk mengakhiri rangkaian kegiatan fisik di Magelang.
Baca juga: Sensasi Wisata Alam, Rafting di Sungai Elo Magelang
Usai bermeditasi serta menguras energi dengan bersepeda dan arung jeram, tidak ada yang lebih memuaskan selain menutup perjalanan dengan sajian gastronomi lokal yang legendaris, yakni Kupat Tahu Magelang.
Sepiring Kupat Tahu Magelang berisi potongan ketupat, tahu putih goreng, irisan kol, taoge, dan bakwan, kemudian disiram dengan kuah kacang yang manis, gurih, dan sedikit pedas. Kuah kacang ini cenderung encer dibandingkan bumbu pecel atau gado-gado.
Kelezatan kuah kacang legendaris tersebut membuat hidangan ini terasa hangat dan menenangkan, sehingga cocok dinikmati setelah melakukan aktivitas fisik maupun meditasi yang menuntut ketenangan.
Menikmati Borobudur kini tak hanya tentang mengagumi kemegahan batu-batu candi, tetapi juga tentang menemukan keseimbangan antara raga, rasa, dan budaya di jantung Magelang.
Baca juga: Struktur Candi Borobudur, Tingkatan, Stupa, Arca, hingga Relief