KOMPAS.com – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian memastikan pasokan beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) di Kota Palembang terdistribusi dengan baik dan bisa diperoleh masyarakat dengan harga terjangkau.
Hal itu disampaikan Tito saat meninjau ketersediaan dan harga pangan bersama Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di Pasar Palimo, Kota Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (5/9/2025).
Ia menjelaskan, kunjungan tersebut dilakukan secara spontan untuk melihat langsung kondisi lapangan.
“Kami ini spontan datang ya. Tidak kami rencanakan mau datang ke sini, tidak. Kami spontan, random saja. Jadi apa adanya,” kata Tito dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Jumat.
Ia menambahkan, sesuai arahan Presiden RI Prabowo Subianto, Perum Bulog terus menyalurkan beras SPHP ke berbagai daerah, termasuk Kota Palembang.
Baca juga: Bapanas Minta Tambahan Rp 22,53 Triliun untuk Anggaran Program SPHP 2026
Dari hasil tinjauan, distribusi berlangsung lancar dengan harga terjangkau dan kualitas baik, sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat.
“Jadi dengan adanya beras SPHP, makin gencar dilakukan oleh Bulog atas perintah Bapak Presiden dan Pak Mentan, kami harapkan beras di beberapa daerah yang agak sedikit naik itu makin turun. Sementara daerah yang sudah turun, cukup banyak, ini juga akan stabil,” ujar Tito.
Selain beras, ia juga menyoroti komoditas pangan lain, khususnya cabai. Karena Palembang bukan daerah penghasil utama cabai, Tito mendorong pemerintah daerah (pemda) menggalakkan gerakan tanam cabai agar tidak bergantung pada pasokan luar daerah.
“Bisa sebetulnya memproduksi cabai di daerah masing-masing. Kalau daerahnya kering, ya bisa melalui hidroponik, gerakan-gerakan masyarakat tanam cabai di pekarangan, pot, sebetulnya gampang. Tapi bukan berarti pemerintah tidak tanggung jawab, tetap dilakukan intervensi,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Tito juga menyinggung kondisi inflasi nasional yang menunjukkan tren positif.
Baca juga: Inflasi Pendidikan Lebih Rendah di Agustus 2025, BPS Ungkap Penyebabnya
Secara bulanan (month-to-month/mtm), Indonesia pada Agustus 2025 mengalami deflasi sebesar 0,08 persen. Sementara itu, secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Agustus 2025 tercatat 2,31 persen atau turun dari 2,37 persen pada Juli 2025.
Penurunan itu terutama disumbangkan oleh komoditas pangan seperti tomat dan cabai rawit, serta tarif angkutan udara yang menurun berkat intervensi pemerintah.
“ Harga pangan yang lain relatif stabil. Memang yang kami, dengan Bapak Mentan dan Kabulog, fokuskan adalah masalah beras, karena beras ini kan komoditas rakyat,” tandas Tito.