Air Mengalir Kehidupan Bersemi, Saatnya Peduli dan Hemat Air

Kompas.com - 22/03/2026, 16:56 WIB
Yakob Arfin T Sasongko,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com Krisis air bersih masih menjadi persoalan global yang belum terselesaikan. Nyatanya, saat ini masih banyak orang di dunia yang belum memiliki akses air minum yang aman. 

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam siaran persnya, Minggu (22/3/2026), menyatakan, lebih dari 1,8 miliar orang di dunia belum memiliki akses langsung terhadap air minum yang aman di rumah, meski berbagai kemajuan telah dicapai dalam dua dekade terakhir.

Secara global, sekitar 2,2 miliar orang memang telah mendapatkan akses air minum yang dikelola secara aman. Namun, angka tersebut belum mampu menutup kesenjangan yang masih lebar, terutama di negara berkembang dan wilayah terpencil.

Bagi sebagian masyarakat, air mungkin terasa sebagai hal yang selalu tersedia. Aktivitas seperti mencuci wajah, memasak, hingga mandi dapat dilakukan dengan mudah hanya dengan membuka keran.

Namun, kondisi tersebut sangat berbeda dengan realitas yang dihadapi jutaan orang di berbagai belahan dunia.

Di banyak wilayah, masyarakat harus berjalan berkilo-kilometer setiap hari untuk mengambil air. Mereka membawa wadah berat demi memenuhi kebutuhan dasar keluarga, mulai dari minum hingga memasak.

Baca juga: Cara Melihat Mata Air Umbul Ponggok, Tidak Harus Bisa Berenang

Komdigi menyatakan, secara global, perempuan dan anak perempuan menghabiskan sekitar 250 juta jam setiap hari hanya untuk mengumpulkan air.

Krisis air dan dampak sosial yang meluas

Keterbatasan akses air bersih tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga memicu persoalan sosial yang lebih luas. Perempuan menjadi kelompok yang paling merasakan dampak dari krisis ini.

Lebih dari 1 miliar perempuan di dunia masih belum memiliki akses terhadap layanan air minum yang aman. Akibatnya, mereka harus menghabiskan waktu dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan air keluarga.

Kondisi tersebut mengurangi kesempatan untuk mengenyam pendidikan, bekerja, maupun mengembangkan diri.

Selain itu, keterbatasan air bersih berkaitan erat dengan minimnya akses sanitasi yang layak. Tanpa fasilitas sanitasi yang memadai, risiko penyakit meningkat, terutama bagi perempuan dan anak-anak. Mereka juga menghadapi ancaman keamanan serta kehilangan privasi dan martabat.

Baca juga: Air Bersih Kembali Mengalir, Senyum Emak-Emak di Syiah Utama Bener Meriah Kembali Merekah

Air bersih dan sanitasi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ketika salah satunya tidak terpenuhi, dampaknya akan meluas ke berbagai aspek kehidupan.

Sanitasi yang buruk meningkatkan potensi penyebaran penyakit, sementara keterbatasan air membuat praktik kebersihan sulit dilakukan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperparah kemiskinan. Masyarakat yang terus menghadapi keterbatasan akses air dan sanitasi cenderung terjebak dalam siklus krisis yang sulit diputus.

Dampaknya tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga memengaruhi pendidikan, produktivitas, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.

Baca juga: Air Bersih di 7 Desa Putus Akibat Banjir Lahar, Pemkab Magelang Perpanjang Tanggap Darurat

Ancaman bagi anak dan pentingnya kesadaran kolektif

Krisis air juga menjadi ancaman serius bagi anak-anak. Menurut Komdigi, setiap hari, sekitar 1.000 anak di bawah usia lima tahun meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan air tidak aman serta sanitasi dan kebersihan yang buruk.

"Kondisi tersebut sebenarnya dapat dicegah apabila akses air bersih dan sanitasi tersedia secara memadai," tulis Komdigi dalam siaran persnya.

Ketersediaan air bersih menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan generasi masa depan. Anak-anak yang hidup di lingkungan dengan akses air yang baik memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat dan mendapatkan pendidikan yang layak.

Momentum Hari Air Sedunia yang diperingati setiap 22 Maret menjadi pengingat bahwa air merupakan hak dasar manusia. Tema global tahun 2026, “Where water flows, equality grows”, menegaskan bahwa akses air yang merata dapat mendorong terciptanya kesetaraan.

Ketika air tersedia dengan mudah, perempuan tidak lagi terbebani tugas mengambil air setiap hari. Mereka memiliki lebih banyak waktu untuk belajar dan bekerja. Anak-anak pun dapat fokus bersekolah tanpa harus membantu memenuhi kebutuhan air keluarga.

Baca juga: Melihat Langsung Mata Air Alami yang Mengisi Kolam Besar Umbul Ponggok

Di sisi lain, masyarakat juga dapat hidup lebih sehat karena praktik kebersihan dapat dilakukan dengan baik. Air yang dikelola secara berkelanjutan pun membuka peluang bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi.

Meski tantangan global masih besar, kontribusi individu tetap memiliki peran penting. Penggunaan air secara bijak menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap orang.

Menghindari pemborosan air, menggunakan air seperlunya saat mandi dan mencuci, serta memperbaiki kebocoran pipa merupakan tindakan kecil yang berdampak besar jika dilakukan secara konsisten. Selain itu, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga sumber daya air juga menjadi bagian dari solusi.

Air adalah fondasi kehidupan dan penopang masa depan. Tanpa pengelolaan yang tepat, ketersediaannya dapat menjadi krisis yang semakin besar.

Oleh karena itu, upaya menjaga keberlanjutan air bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau organisasi tertentu, tetapi menjadi tanggung jawab bersama demi memastikan air tetap mengalir bagi generasi mendatang.

 

 

Terkini Lainnya
Psikolog Soroti Bahaya Kecanduan Gadget, PP Tunas Jadi Perlindungan Tambahan

Psikolog Soroti Bahaya Kecanduan Gadget, PP Tunas Jadi Perlindungan Tambahan

Komdigi
Komdigi Siagakan 500 Posko, Pastikan Layanan Telekomunikasi dan Internet Tetap Lancar

Komdigi Siagakan 500 Posko, Pastikan Layanan Telekomunikasi dan Internet Tetap Lancar

Komdigi
Air Mengalir Kehidupan Bersemi, Saatnya Peduli dan Hemat Air

Air Mengalir Kehidupan Bersemi, Saatnya Peduli dan Hemat Air

Komdigi
PP Tunas Resmi Berlaku, Regulasi untuk Melindungi Anak di Ruang Digital

PP Tunas Resmi Berlaku, Regulasi untuk Melindungi Anak di Ruang Digital

Komdigi
Refleksi Hari Kasih Sayang, Perkuat Pelindungan Anak di Ruang Digital lewat PP Tunas

Refleksi Hari Kasih Sayang, Perkuat Pelindungan Anak di Ruang Digital lewat PP Tunas

Komdigi
Di Tengah Gempuran Misinformasi, Menkomdigi Minta Humas Perkuat Ketepatan dan Kecepatan Komunikasi Publik

Di Tengah Gempuran Misinformasi, Menkomdigi Minta Humas Perkuat Ketepatan dan Kecepatan Komunikasi Publik

Komdigi
Komdigi Operasikan Posko Nataru, Pastikan Publik Tetap Terkoneksi Selama Libur Akhir Tahun

Komdigi Operasikan Posko Nataru, Pastikan Publik Tetap Terkoneksi Selama Libur Akhir Tahun

Komdigi
Sinyal Kembali Menyala, Warga Aceh Tamiang Kembali Terhubung dengan Keluarga

Sinyal Kembali Menyala, Warga Aceh Tamiang Kembali Terhubung dengan Keluarga

Komdigi
Jaga Data Warga, Komdigi Perkuat Pengawasan dan Kepatuhan Pelindungan Data Pribadi

Jaga Data Warga, Komdigi Perkuat Pengawasan dan Kepatuhan Pelindungan Data Pribadi

Komdigi
Tanggap Bencana Aceh Tamiang, Menkomdigi Hadir dengan Bantuan dan Sapaan Penuh Empati

Tanggap Bencana Aceh Tamiang, Menkomdigi Hadir dengan Bantuan dan Sapaan Penuh Empati

Komdigi
Aktivitas Internet Terus Melonjak, Komdigi Perkuat Pengawasan Ruang Digital

Aktivitas Internet Terus Melonjak, Komdigi Perkuat Pengawasan Ruang Digital

Komdigi
Konsisten 8 Tahun Berturut-turut, Kementerian Komdigi Raih Predikat Badan Publik Informatif

Konsisten 8 Tahun Berturut-turut, Kementerian Komdigi Raih Predikat Badan Publik Informatif

Komdigi
Inovasi Layanan Publik Digital Antarkan Menkomdigi Raih OPSI KIPP 2025

Inovasi Layanan Publik Digital Antarkan Menkomdigi Raih OPSI KIPP 2025

Komdigi
Tekan Pemalsuan Identitas, Indonesia Perlu Terapkan Teknologi Biometrik Nasional “Face Recognition

Tekan Pemalsuan Identitas, Indonesia Perlu Terapkan Teknologi Biometrik Nasional “Face Recognition

Komdigi
Registrasi Kartu SIM Berbasis “Face Recognition” Dinilai Mampu Tutup Celah Kejahatan Digital

Registrasi Kartu SIM Berbasis “Face Recognition” Dinilai Mampu Tutup Celah Kejahatan Digital

Komdigi
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com