Kena PHK, Zalzilah Hidupkan Batik Semarang yang Sempat Mati Suri

Alifia Nuralita Rezqiana
Kompas.com - Kamis, 28 Oktober 2021
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah saat memberikan bantuan program Tenaga Kerja Mandiri (TKM) DOK. Humas Kementerian Ketenagakerjaan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah saat memberikan bantuan program Tenaga Kerja Mandiri (TKM)

KOMPAS.com – Zalzilah, penerima bantuan Tenaga Kerja Mandiri (TKM) dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mulai belajar membatik usai terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari tempat kerja.

PHK justru menjadi jalan bagi wanita yang akrab disapa Zie itu untuk tekun belajar dan melakukan riset tentang batik Semarang.

Ia bergabung dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekarnas) untuk mengembangkan produk kerajinan batik bersama ibu-ibu lainnya.

“Kebetulan, Semarang itu (wilayah) Jawa yang nggak ada batik. Kita penasaran kenapa kok nggak ada? Ternyata batik Semarang itu dianggap mati suri,” ujarnya dalam acara workshop di Kampung Malon RT 3/RW 6 Kelurahan Gunung Pati, Kecamatan Gunung Pati, Semarang, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

Selama belajar dan mengembangkan Batik, Zie menyadari bahwa produk batik membutuhkan ciri khas agar berbeda dari batik lain seperti batik Pekalongan, Jogja, Solo, dan lainnya.

 Ilustrasi: pembuatan batik Garut  KOMPAS/YULVIANUS HARJONO Ilustrasi: pembuatan batik Garut

“Kami gali potensi yang ada, yaitu mengangkat tema rakyat yang ada di Nusantara dan jadilah batik legenda," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (28/10/2021).

Adapun beberapa tema legenda yang sudah diangkat oleh Zie Batik—merek batik yang dibuat Zie—di antaranya Sangkuriang, Joko Tarub, Pandawa Lima, dan Legenda Gunung Pati.

Baca juga: Kisah Batik Toeli, Karya Penyandang Tuli yang Tembus Pasar AS Berkat Platform Digital

Dalam proses pembuatannya, Zie Batik selalu menggunakan pewarna alami yang ramah lingkungan.

“Kami pilih batik warna alam itu karena tak mau merusak lingkungan yang sudah rapi, sudah bagus,” ujar Zie.

Ia mengatakan, wilayah tempat tinggalnya di Kampung Malon termasuk daerah yang terjaga dan aman, berbeda dengan daerah di bawah Kampung Malon yang kerap dilanda banjir rob.

Warga menyelesaikan proses pembuatan batik di Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Sabtu (5/6/2021). Industri pembuatan batik tumbuh dalam skala rumah tangga yang nantinya dijual ke pengepul besar.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Warga menyelesaikan proses pembuatan batik di Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Sabtu (5/6/2021). Industri pembuatan batik tumbuh dalam skala rumah tangga yang nantinya dijual ke pengepul besar.

Menurutnya, masyarakat tidak boleh mencemari wilayah hulu Kota Semarang demi kebaikan bersama.

“Akhirnya kami memilih untuk melestarikan hulu dan pesisir Semarang dengan kembali ke alam,” kata Zie.

Ia menyebutkan, terdapat beberapa pewarna alami yang dapat dimanfaatkan untuk memproduksi batik, seperti kulit mahoni, ada daun-daunan, kayu nangka, propagul (buah mangrove), dan lain-lain.

Propagul banyak ditemukan di wilayah hilir Semarang. Menurut Zie, bahan yang merupakan limbah ini dapat dijadikan pewarna coklat sampai merah maroon.

Baca juga: Kisah Vivin, Rintis Batik dari Pelosok Desa, Modal Rp 100.000, Kini Omzet Puluhan Juta

Zie Batik mendunia berkat bantuan pemerintah

Zie mengatakan, bisnis batiknya menjadi sukses berkat bantuan dari pemerintah. Ia mengaku mendapatkan dana untuk mengembangkan bisnis, salah satunya melalui program TKM Kemenaker.

“Uang 50 juta (dari pemerintah) itu dialokasikan untuk modal dan alat. Kita kembangkan dengan kelompok yang ada untuk melengkapi alat batik yang belum kita punya untuk inovasi terbaru. Karena itu sampai sekarang kita bisa eksis,” jelasnya.

Saat ini, Zie Batik tidak hanya dipasarkan di Indonesia, tetapi juga di sejumlah negara kawasan asia.

“Penjualan Zie Batik sudah sampai Singapura dan Jepang. Meski baru handcarry, tiga bulan sekali kita ada pengiriman ke Singapura,” kata Zie.

Menyesuaikan dengan pasar internasional, ia pun kembali membuat inovasi dengan memproduksi batik “ready to wear”. Sebab, biasanya Zie batik hanya menjual lembaran kain.

Baca juga: Uji Klaim Miss World Malaysia, Benarkan Batik Ada di Banyak Negara?

“Selama pandemi ini kita otomatis bersahabat dengan kondisi sekarang, saya tidak jual dengan lembaran batik lagi jadi kita coba dengan ready to wear yang simpel. Seperti (pakaian) untuk zoom meeting, kita bikin yang gampang dan enak dilihat di bagian atas saja, bawahnya lebih simpel,” paparnya.

Pakaian produksi Zie Batik juga disesuaikan dengan perkembangan fesyen modern agar laris di pasaran.

“(Pelanggan) milenial itu lebih simpel, batiknya lebih sedikit. Kemudian kami kolaborasi dengan menggunakan beberapa teknik yang berbeda, jadi pewarnaannya lebih variasi,” jelas Zie.

Tak hanya pakaian, Zie Batik juga memproduksi masker motif batik. Pasalnya kebutuhan masker meningkat. 

Makanya dari awal pendemi, Zie Batik telah memproduksi masker 4 ply yang ada kantong tisu yang sangat diminati pasar.

"Zie Batik juga tidak meninggalkan unsur sosial, jadi kita menjual empat masker, donasi satu masker, untuk orang yang berkebutuhan,” ujar Zie.

Pada kesempatan sama, Zie berpesan kepada masyarakat yang berniat untuk memulai bisnis agar selalu optimis.

“Kita harus optimistis, yakin bahwa selagi kita hidup Insya Allah rezeki ada. Kalau kita membuat barang, pasti ada orang yang peduli. Insya Allah akan ada jalan," pesannya.

PenulisAlifia Nuralita Rezqiana
EditorMikhael Gewati
Terkini Lainnya
Menaker bersama Presiden Jokowi Salurkan BSU kepada Pekerja di Sultra
Menaker bersama Presiden Jokowi Salurkan BSU kepada Pekerja di Sultra
kemnaker
Kemenaker Raih Penghargaan Koordinasi Terbaik Sinergitas Awards 2022
Kemenaker Raih Penghargaan Koordinasi Terbaik Sinergitas Awards 2022
kemnaker
Menaker Ida Akan Dampingi Presiden Jokowi Tinjau Penyaluran BSU di Sulawesi Tenggara
Menaker Ida Akan Dampingi Presiden Jokowi Tinjau Penyaluran BSU di Sulawesi Tenggara
kemnaker
Lewat BSU, Kemenaker Apresiasi Pekerja dan Pengusaha Tanah Air
Lewat BSU, Kemenaker Apresiasi Pekerja dan Pengusaha Tanah Air
kemnaker
Menaker: BSU Jadi Wujud Hadirnya Negara Atasi Kenaikan Harga BBM
Menaker: BSU Jadi Wujud Hadirnya Negara Atasi Kenaikan Harga BBM
kemnaker
Menaker Ida Serahkan BSU kepada 3.648 Pekerja di Tegal
Menaker Ida Serahkan BSU kepada 3.648 Pekerja di Tegal
kemnaker
Lindungi Pekerja, Menaker Dorong Semua Pihak Budayakan K3 di Tempat Kerja
Lindungi Pekerja, Menaker Dorong Semua Pihak Budayakan K3 di Tempat Kerja
kemnaker
Kemenaker dan PMI Teken MoU Pembangunan Ketenagakerjaan untuk Perkuat K3 di Tempat Kerja
Kemenaker dan PMI Teken MoU Pembangunan Ketenagakerjaan untuk Perkuat K3 di Tempat Kerja
kemnaker
Pertemuan Menaker G20 Sukses Digelar, Menaker Ida Sampaikan Terima Kasih untuk Bali
Pertemuan Menaker G20 Sukses Digelar, Menaker Ida Sampaikan Terima Kasih untuk Bali
kemnaker
Puncak G20-LEMM Hasilkan 5 Kesepakatan, Menaker Ida: Sesuai yang Kita Harapkan
Puncak G20-LEMM Hasilkan 5 Kesepakatan, Menaker Ida: Sesuai yang Kita Harapkan
kemnaker
Ma’ruf Amin Dorong Negara G20 Wujudkan Dunia Kerja Baru yang Berpihak kepada Pekerja
Ma’ruf Amin Dorong Negara G20 Wujudkan Dunia Kerja Baru yang Berpihak kepada Pekerja
kemnaker
Kemenaker Paparkan Program BLK di EWG G20: 3 Negara Tertarik untuk Mengadopsi
Kemenaker Paparkan Program BLK di EWG G20: 3 Negara Tertarik untuk Mengadopsi
kemnaker
Kemenaker Sepakat Bahas 3 Isu Ketenagakerjaan di Pertemuan Tingkat Menaker G20
Kemenaker Sepakat Bahas 3 Isu Ketenagakerjaan di Pertemuan Tingkat Menaker G20
kemnaker
Menaker Ida: BSU Diambil dari APBN, Bukan dari BPJS Ketenagakerjaan
Menaker Ida: BSU Diambil dari APBN, Bukan dari BPJS Ketenagakerjaan
kemnaker
Hadiri Pameran Forum G20, Menaker: Ketenagakerjaan Global Butuhkan Gotong Royong
Hadiri Pameran Forum G20, Menaker: Ketenagakerjaan Global Butuhkan Gotong Royong
kemnaker