Dukung Swasembada Pangan Papua, Mentan Targetkan Cetak 100.000 Ha Sawah Baru

Kompas.com - 17/12/2025, 14:24 WIB
Tsabita Naja,
DWN

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto menegaskan bahwa swasembada pangan merupakan fondasi utama percepatan pembangunan Papua sekaligus kunci transformasi Indonesia menuju negara maju dan makmur.

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat memberikan arahan kepada para gubernur, bupati, dan wali kota se-Papua dalam pertemuan bersama Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (KEPP-OKP) di Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/12/2025).

Untuk mendukung tercapainya swasembada pangan di Papua dalam waktu dua hingga tiga tahun, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menargetkan pencetakan 100.000 hektar (ha) sawah baru. Pasalnya, hingga kini Papua masih defisit sekitar 500.000 ton beras

Amran mengungkapkan bahwa kebutuhan beras Papua saat ini sebesar 660.000 ton per tahun, sementara produksi lokal baru mencapai 120.000 ton.

Baca juga: Pramono Sebut Kebutuhan Beras di Jakarta 2.500 Ton per Hari

“Untuk menutup kekurangan sekitar 500.000 ton beras tersebut, dibutuhkan pencetakan sawah baru seluas kurang lebih 100.000 ha,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas, Rabu (17/10/2025).

Amran mengatakan, Kementerian Pertanian ( Kementan) telah membagi pelaksanaan program pencetakan sawah baru di Papua Selatan, Papua, dan Papua Barat, bahkan enam provinsi di Papua sudah mengajukan permohonan cetak sawah.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pencetakan 100.000 ha sawah akan diselesaikan melalui intervensi langsung pemerintah pusat.

Dengan dukungan lintas kementerian dan pemerintah daerah, Amran optimistis target tersebut berpeluang selesai dalam dua tahun dan paling lambat tiga tahun, sehingga Papua dapat mencapai swasembada pangan secara berkelanjutan.

Baca juga: Mentan Yakin Papua akan Swasembada Pangan dalam 2 Tahun

Wujudkan kemandirian pangan setiap daerah

Dalam pertemuan bersama KEPP-OKP, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kemampuan suatu daerah untuk menjamin ketersediaan pangan bagi rakyatnya merupakan syarat penghapusan kemiskinan, ketertinggalan, serta kelaparan.

Oleh karena itu, ia menekankan tidak boleh ada satu pun wilayah di Indonesia yang tertinggal dalam hal pemenuhan pangan.

“Khusus untuk Papua, pembangunan harus dipercepat di semua bidang. Tapi, dasar dari semua kehidupan bangsa adalah pangan. Kita harus swasembada pangan, bukan hanya nasional, tetapi sampai tingkat provinsi, bahkan bila perlu setiap kabupaten,” tegas Prabowo.

Presiden Prabowo juga menyampaikan bahwa tantangan geografis dan tingginya biaya logistik membuat setiap wilayah harus mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

Baca juga: Warga Papua dan Maluku Bayar Beras Paling Mahal, Bapanas: Karena Geografis dan Transportasi

Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah pusat mendorong Papua mengembangkan potensi pangan lokal, seperti padi, jagung, sagu, dan singkong.

Senada dengan Presiden Prabowo, Amran menekankan bahwa swasembada pangan Papua merupakan bagian dari visi besar pemerintah untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional tanpa ketergantungan antarwilayah.

Ia menyebut, kini Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera, telah berada pada jalur swasembada, sementara Jawa dinilai telah mencukupi kebutuhan pangannya sendiri.

“Mimpi kita adalah seluruh pulau di Indonesia swasembada pangan. Dengan begitu, tidak perlu lagi pengangkutan pangan antarpulau. Ini adalah solusi permanen untuk mengatasi persoalan inflasi,” tegas Amran.

Baca juga: Prabowo Ingin Ada Swasembada Pangan Tiap Daerah: Harus Ada Lumbung Desa

Terkait potensi pangan lokal, Amran menyampaikan bahwa Kementan juga berencana memperkuat pangan lokal Papua melalui optimalisasi komoditas sagu.

Ia mengatakan, pemerintah akan menyelesaikan dan mengaktifkan kembali pabrik sagu di Sorong yang telah dibangun namun belum beroperasi secara optimal. Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi pangan dan penguatan ekonomi lokal Papua.

Sebagai informasi, pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, para menteri dan pimpinan lembaga, enam gubernur se-Papua, puluhan bupati dan wali kota, serta anggota KEPP-OKP.

Melalui pertemuan itu, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan Papua mampu berdiri di atas kaki sendiri melalui kemandirian pangan sebagai fondasi utama pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat Papua.

Baca juga: Sawit, Swasembada Energi, dan Pertaruhan Masa Depan Papua

Terkini Lainnya
Kementan Komitmen Jaga Stabilitas Harga dan Tingkatkan Produktivitas Petani, Pengamat Beri Respons Positif

Kementan Komitmen Jaga Stabilitas Harga dan Tingkatkan Produktivitas Petani, Pengamat Beri Respons Positif

Kementan
Pakar Pangan Universitas Andalas: Kepastian Harga Pemerintahan Prabowo Bikin Petani Senang

Pakar Pangan Universitas Andalas: Kepastian Harga Pemerintahan Prabowo Bikin Petani Senang

Kementan
DJBC Catat Tak Ada Impor Beras dan Jagung, Kinerja Bea Masuk Turun 5,1 Persen

DJBC Catat Tak Ada Impor Beras dan Jagung, Kinerja Bea Masuk Turun 5,1 Persen

Kementan
Kepuasan Petani terhadap Kinerja Kementan Capai 84 Persen

Kepuasan Petani terhadap Kinerja Kementan Capai 84 Persen

Kementan
Mentan: Jika Tidak Ada Aral Melintang, 3 Bulan Lagi Indonesia Swasembada Beras

Mentan: Jika Tidak Ada Aral Melintang, 3 Bulan Lagi Indonesia Swasembada Beras

Kementan
Respons Keluhan Petani Singkong di Lampung, Mentan Amran Siap Kawal Regulasi Tata Niaga

Respons Keluhan Petani Singkong di Lampung, Mentan Amran Siap Kawal Regulasi Tata Niaga

Kementan
Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Amran Gandeng 3 Bupati Sulsel Kembangkan Kopi dan Kakao

Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Amran Gandeng 3 Bupati Sulsel Kembangkan Kopi dan Kakao

Kementan
Beras Nasional Surplus 3,7 Juta Ton, Mentan Amran: Hasil Kerja Keras Petani

Beras Nasional Surplus 3,7 Juta Ton, Mentan Amran: Hasil Kerja Keras Petani

Kementan
Mendag : Ekspor Hortikultura Naik 49 Persen Semester I 2025, Indonesia Tekan Impor dan Tingkatkan Ekspor

Mendag : Ekspor Hortikultura Naik 49 Persen Semester I 2025, Indonesia Tekan Impor dan Tingkatkan Ekspor

Kementan
Sejalan dengan Prabowoisme, Wamentan Dukung Tani Merdeka Indonesia

Sejalan dengan Prabowoisme, Wamentan Dukung Tani Merdeka Indonesia

Kementan
Soal Framing Negatif Mentan Amran, PP KAMMI: Publik Harus Menilai sesuai Fakta dan Data

Soal Framing Negatif Mentan Amran, PP KAMMI: Publik Harus Menilai sesuai Fakta dan Data

Kementan
Lawan Mafia Pangan, Ini Upaya Mentan Jaga Kesejahteraan Petani

Lawan Mafia Pangan, Ini Upaya Mentan Jaga Kesejahteraan Petani

Kementan
Komisi IV DPR RI Apresiasi Mentan Amran, Produksi Pangan Naik hingga Serapan Bulog Capai 4 Juta Ton

Komisi IV DPR RI Apresiasi Mentan Amran, Produksi Pangan Naik hingga Serapan Bulog Capai 4 Juta Ton

Kementan
Harga Beras Turun di 13 Provinsi, Mentan Amran Yakin Stabilitas Berlanjut

Harga Beras Turun di 13 Provinsi, Mentan Amran Yakin Stabilitas Berlanjut

Kementan
Berkat Dukungan Kementan, Panen Padi Gadu di Lampung Timur Menguntungkan Petani

Berkat Dukungan Kementan, Panen Padi Gadu di Lampung Timur Menguntungkan Petani

Kementan
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com